Tampilkan postingan dengan label chapter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chapter. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Agustus 2014

Tahun kedua tentangmu [a chapter]


Aku bukan tak tahu tahu kemana alamat rindu ini

Aku tahu persis kemana tujuannya

Tak berubah, tetap sama dengan saat itu
Meskipun kadang terbawa angin kedalam pusaran badai atau melintasi gurun, namun ia tetap kembali pada arah tujuannya
Hanya saja sekarang aku takut untuk menerbangkannya
Sayapnya terluka dalam penantian yang sia-sia
Kini aku tak mungkin menyembuhkan semua luka itu agar rinduku tak lagi berusaha terbang kembali menemuimu
Tidak, setelah jatuh bangun ia mengendalikan diri agar tak meledak dan membuatku gila



*)12 Agustus 2014
Tahun kedua tentangmu

Jumat, 11 Juli 2014

Tentang Mata [Chapter-Puisi]


Tentang Mata




Aku tak sanggup menatap matanya, meski aku sudah mencoba berkali-kali. Mata itu bukan mata dewa, bukan juga mata malaikat.
Mata itu milik manusia biasa, tapi memberikan efek yang tak pernah biasa.
Mata itu, mata yang setajam mata pisau, mata yang keberadaannya mampu menancapkan bilah-bilah pedih dan dingin. Namun mata itu juga, mata yang seolah selalu meminta sesuatu, seperti mata kucing yang meminta belaian manja majikannya.
Sekali saja aku berani menatapnya, berbagai rasa akan menyerang jantungku sehingga ia berdetak tak beraturan dan seperti ditimpa ribuan jarum. Sebuah kombinasi nyeri yang aneh. Sakit namun ada sesuatu lain yang tak mampu membendung puncak pipi untuk merona kemerahan. Dan selalu, aku tak sanggup untuk menanggung rasa nyeri yang aneh itu.
Matanya, aku tak pernah bisa menatap matanya atau aku akan mati jika berani menatapnya. Karena nyeri itu bagai meracuni seluruh tubuhku, aku akan gemetar, dan jantung yang berdetak semakin dan semakin cepat seolah bisa meledakkannya.

Kamu, wahai pemilik mata itu. Adakah penawar untuk nyeri yang hebat ini? Tolong berikan. Agar aku hidup normal. Agar aku tak ketakutan dibawah pandangan matamu. Kamu yang memiliki mata bak mata panah Dananjaya, berikanlah penawar agar mencintaimu ataupun melepasmu tak akan mendatangkan kesakitan pada jantung ini.

Kamu wahai pemilik mata yang menandingi tajamnya mata dewa, aku lelah untuk selalu berjalan menunduk karena tak mampu menanggung pancaran matamu. Tak mampu tak menanggungnya tanpa harus menggigil hebat dan mati berhari-hari, karena matamu menyerap segalanya yang dipunyai jantung ini.

Kamu pemilik mata itu. Bisakah kau hentikan arus kenangan yang mengalir setiap ku menatap matamu? Karenanya bisa menyeretku dan menenggelamkanku pada lautan keputusasaan karena tak mampu melepaskan setiap inchi memori tentangmu.

Kamu, aku mohon dengan sangat. Lepaskan aku dari hukuman karena aku yang telah memilih laku untuk mencintaimu.

Kamis, 17 April 2014

Mishbah Jalan-jalan Edisi GembiraLokaZoo [a chapter]


Demi apa Mishbah tahun ini versinya jalan-jalan setelah dua tahun lalu berlabel 'ngamen akustik dan performing art'. Bisa jadi tahun ini Mishbah alih genre-kah? Jadi komunitas jalan-jalan mungkin? Komunitas hangouts? Haha...

Ini kesekian kalinya Mishbah hangout bareng. Kali ini benar-benar hangout karena kita sama sekali bukan pergi dalam rangka melihat pementasan. Bukan juga family trip (ehm, iyakah?). So, setelah tanggal 7April2014 kemarin kita mengadakan sebuah perhelatan (Pentas Laboratory dan memperingati hari jadi Mishbah), tadi adalah saatnya kita merefresh otak. Lumayanlah, sponsorship kita kemarin keren jadinya kita dapat vocer jalan-jalan di Gembira Loka Zoo. Hahaha...

And ing eng..... Karena aku yang pertama kali sampai GLZoo-nya, aku deh yang pertamakali syok liat pemandangan yang ada. Ehm, bis besar semua. Sepertinya ini sedang bulannya anak sekolahan (tepatnya anak TK) liburan. Tapi dimana-mana jadi warna-warni kayak lolipop. Ada yang sragamnya pink, ijo, kuning, ungu, merah, biru, dan lain-lain. Haha... Hangout kita kali ini barengan sama anak TeKa. Tapi teman, kalian nggak kalah seru kok dari mereka. Haha... (Justru kalian yang lebih malu-maluin :/ )

Next, ini dia beberapa kelakuan kita disana








*) semua foto adalah koleksi pribadi TeaterMishbah

Jumat, 10 Januari 2014

Elang, Haruskah Aku Mendendam Pada Lautan? [a chapter]



Aku ingin terbang tinggi
Seperti elang
Melewati siang malam
Menembus awan

Ini tanganku untuk kau genggam
Ini tubuhku untuk kau peluk
Ini bibirku untuk kau cium
Tapi tak bisa kau miliki... aku

Tak usah kau terus tangisi kepergianku
Air mata takkan memanggilku
Untuk kembali...

Aku adalah mimpi - mimpi sedang melintasi
Sang perawan yang bermain dengan perasaan

(Aku adalah mimpi - mimpi, tiada arti)
(Aku ingin terbang tinggi seperti elang)
[elang_dewa19]


Lagu 'Elang' dari Dewa19 malam itu mengalun dari suara-suara kami yang tak seberapa merdu diiringi gitar yang salah satu senarnya baru saja putus. Kami menyanyi, lebih tepatnya berteriak di tengah-tengah malam. Toh tak ada yang mendengar kecuali kami diantara gedung-gedung perkuliahan yang telah senyap itu. Tengah malam, kalau bukan anak-anak seperti kami ya pasti lebih memilih sudah meringkuk dalam kamar berselimuttebal yang nyaman daripada untuk sekedar latihan dan mengobrol ngalor-ngidul. Lagu-lagu yang dimainkan sesuka hati, tak direncanakan.

Sesaat aku tak ikut berteriak melantunkan lagu itu. Aku diam dan meresapi liriknya. Air mukaku berubah. Dari baja tiba-tiba menjadi air. Diam dan seolah tenang namun rapuh meski hanya kecipak kecil yang datang.

Aku memandang jauh ke depan. Elang. Seolah aku menemukan sesuatu. Ya, aku menemukan bagaimana caraku harus menyebutmu, memanggilmu. Aku menemukanmu di kedalaman lagu itu.
Kau, orang yang tak pernah bisa terikat, tak pernah bisa tinggal. Kau orang yang lebih memilih untuk kemana pun, sesuka hatimu, semau hatimu, seinginmu. Kadang kamu disini begitu lama, kadang kau pulang kerumah sekejap, kadang kau pulang kerumah lama, dan sering kau menghilang. Benar-benar menghilang. Tak ada satu pun yang tahu kau kemana dan sedang apa. Padahal sebagai seorang yang masih belajar di kampus, hampir lima kali dalam seminggu seharusnya kau hadir. Kau lebih senang mengembara ke negeri antah berantah, terbang ke langit lepas, berlayar ke lautan bebas. 

Elang. Kau pernah sejenak hinggap dengan tenang, tapi sayapmu enggan berhenti mengepak. Elang, kau pernah ada saat aku benar-benar bisa memelukmu erat, dan kau seolah membiarkan aku merasakan setiap inchi dirimu. Elang, kau meminta aku untuk menyimpan wangimu. Tapi kau tetap Elang dengan sayap.

Tapi elang itu gagah, kuat, tangguh, dan kau? Kau menjadi Elang tangguh yang lain bagiku meski dari badanmu aku seperti melihat tulang-tulang berbungkus kulit. Tulang-tulang yang menyimpan suatu kekerasan dan kebulatan tekad tersendiri. Kau tangguh namun keras kepala. Elang dan kau sama-sama makhluk gagah yang angkuh untuk terlihat lemah. 




Tak usah kau terus tangisi kepergianku
Air mata takkan memanggilku
Untuk kembali...


Lagu ini, entah mengapa seolah memang hadir dalam sosokmu. Awalnya aku hanya berpikir bahwa tangisanku hanya untuk sebuah pertemuan yang dipisahkan oleh ego masing-masing dan jiwa ketidakterikatanmu, tapi malam selanjutnya aku temukan jawabannya.

Elang, kau tahu? Aku selalu berpikir aku akan mudah melupakanmu saat kita terpisahkan jarak dan ruang. Ternyata? Aku tak pernah siap untuk itu. Aku lebih ingin untuk tetap memelihara kecintaanku padamu daripada aku harus berjarak begitu jauh denganmu. Aku selalu ingin hidupmu membaik dan lebih baik. Apa yang menjadi susahmu sekarang, aku selalu ingin membantumu meski hanya dengan doa-doa yang ku titipkan pada angin agar disampaikan pada Yang Maha.

Entah ini sebuah jawaban atau sebuah jalan dari takdir yang lain. Kau kudengar memilih untuk berpindah dan menyongsong lautan untuk masa depanmu. Semester ini hampir berakhir Elang. Aku kemarin berharap agar kau mau membenahi kuliahmu, kau menjawab seolah-olah tak terjadi apa-apa. Namun tiba-tiba aku dengar kau akan pindah. Kalu saja waktu itu hati bisa se-transparant mungkin, mereka akan tahu sederas apa tangisku dan sekosong apa hatiku saat mendengarmu akan pergi, kau akan membuat jarak yang lain, yang lebih jauh. Aku ingin berjarak denganmu, aku ingin menjaga hatiku, tapi bukan seperti ini yang aku sangkakan.

Ini sebuah keadaan yang paradoksal dari hatiku. Entah aku harus bersyukur atau mendendam bahwa kau ingin memperbaiki hidupmu, dan kau harus pergi dari kami untuk itu. Atau aku mungkin terlalu egois menatap takdir?  Lautan yang selama ini aku cintai dengan cara menyimpan keping-keping lara, haruskah aku mendendam padanya karena menjadi tujuanmu sekarang? Kau akan pergi seperti layaknya jiwo yang lebih dahulu menyeberangi lautan untuk kembali, kembali pada bapak dan emaknya untuk mencari nasib yang lebih baik? Salah apa aku pada lautan itu? Aku sedih Elang jika harus kesekian kalinya berpisah denganmu. Aku terbiasa mencintaimu dengan cara ini. Namun aku masih selalu ingin hidupmu yang lebih baik. 

Bagaimana aku harus mengikhlaskan lagi keadaan ini? Elang, aku tak ingi egois. Tapi aku terlalu sedih. Aku hanya ingin kau mengatakan itu langsung padaku. Aku terlalu terluka pada kepergianmu yang tak pernah dengan kata pamit, meski entah siapa aku bagimu. Tapi aku orang yang yang menyimpan erat wangimu. Elang, aku hanya ingin kau berbicara padaku meski harus sepahit pamitan yang tak berujung. Sepahit pamitan yang entah kau pun tak tahu akan seperti apa nantinya karena kau memilih ingin mendalami ilmu untuk berlayar, sedangkan aku tak bercita-cita memiliki laki-laki yang berpetualang di tengah gelombang. Tapi diantara kita tak pernah ada yang tahu bagaimana nanti. Yang kita tahu saat ini aku masih menjadikanmu kecintaanku, aku masih begitu keras menyayangimu.

Entah Elang, apakah aku harus terus menulis untuk menantikanmu berbicara lagi padaku? Apakah aku harus terus berenang-renang dengan kata-kata untuk menunggumu tiba disampingku? Aku tahu, ini baru sebuah kabar, tapi hatiku sudah sebegitu remuk redamnya mendengarkan kabar ini.
Elang, bantu aku mengakhiri kesedihanku ini. Bantu aku mengakhiri tulisan yang seolah tak habis untuk mengatakan bahwa aku belum siap harus berjarak yang lebih jauh lagi denganmu.

Elang....
Jangan pergi tanpa pamit (lagi)

Rabu, 01 Januari 2014

Dari Tugas Esai hingga Sebuah Renungan tentang Resolusi [a chapter]




Seharusnya saat ini aku sedang mengetik sebuah esai tentang sastra khusus sastra Indonesia. Esai ini bahkan harus aku kumpulkan besok pagi pukul 08.00 WIB dan menjadi salah satu faktor penentu nilai mata kuliah Penulisan Kreatif Sastra yang diampu oleh salah satu profesor terpandang di kampus. Beliau adalah orang yang lebih menilai mahasiswa melalui karyanya dan bukan melalui ujian teori apalagi presensi. Dosen yang menyenangkan. Jarang mahasiswa satu kelas merasa sedih ketika dosen mengatakan bahwa ia akan mengakhiri masa kuliah, dengan alasan apapun. Mahasiswa cenderung akan bersuka-ria dan begitu berharap jika dosen akan cepat-cepat mengakhiri masa kuliah mereka meskipun minggu-minggu ujian masih lama. Tapi tidak dengan beliau. Hampir satu kelas meneriakkan ketidakinginannya berpisah dengan mata kuliah ini (tepatnya tak ingin berpisah dengan beliau) ketika beliau berkata :
"Hari ini pertemuan terakhir untuk mata kuliah ini ya."
Terdengar 'ah' yang panjang dikelas yang menandakan kekecewaan kami karena kami sudah dipenghujung kuliah. Di kelas beliau, segalanya menjadi serba menyenangkan. Sebuah kursi pun bisa menyenangkan jika ada di kelas beliau. Bagaimana beliau mendeskripsikan bahwa kursi-kursi yang kami duduki ternyata diam-diam menyimpan ratusan kentut dari mahasiswa lain, sedangkan kami tak pernah membayangkan hal tersebut. Kami justru selalu berebut kursi-kursi penuh kentut itu saat masuk kelas. Bagaimana beliau ddenagn enteng mengambil dompet dari saku belakang jeansnya dan menunjukkan foto istrinya di dalamnya. Beliau kemudian berkata "Tidak tahu kan kalian? foto ini, foto istri saya, hampir setiap hari dibaui kentut, tapi tetap sayang ini", kata beliau sambil menunjuk foto muda dari seorang wanita yang kini sudah paruh baya. Bagaimana beliau membuat kami tiba-tiba harus berdamai dengan seluruh kenangan, sukacita, patah hati, dan segala emosi yang bisa menguras air mata ketika kami harus menuliskan puisi tentang 'jarak'. Bagaimana beliau memberi stimulus bagi kami untuk membuat (rata-rata) cerpen pertama kami. Begitulah cara mengajar beliau.

Kali ini giliran kami diberi stimulus untuk membuat sebuah esai sastra. Aku sangat yakin stimulus yang memang awalnya memaksa ini (karena atas nama kuliah dan tugas kuliah identik dengan suatu pemaksaan yang kadang dirasa tak berguna. Hanya formalitas untuk sebuah nilai dalam KHS), namun saya yakin dan yakin sekali tugas ini akan lebih bermanfaat bagi kami yang nantinya akan menyandang gelar sarjana pendidikan dari jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Karena hal seperti ini membuat kami senang belajar tentang sastra kami dan akan meningkatkan kualitas berpikir dan daya kritis kami. Karena memang itulah yang kami perlukan untuk bisa masuk kedalam tatanan masyarakat yang sebenarnya.
Hanya saja sampai saat ini aku belum punya gambaran mengenai yang akan aku lakukan untuk memulai membuat esai ini. Ya, ini akan menjadi esai sastra pertamaku, tidak seperti puisi atau cerpen yang sebelumnya aku pernah beberapa kali membuat. Sebenarnya mudah saja bagiku (menurutku) untuk menuliskan sebuah esai sastra karena dari definisinya saja:
Esai Sastra adalah karangan prosa yang mengupas secara sepintas namun akurat, padat, dan berisi mengenai masalah kesusastraan, seni, dan budaya dari sudut pandang penulisnya secara subjektif.

Sumber: http://www.pemustaka.com/esai-sastra-dan-contohnya.html

Jika selama ini ketika membuat sebuah karya tulis atau analisis sastra saya terbebani dengan teori dan pisau analisis yang sudah dipatenkan oleh para ahli sastra maupun filsuf, untuk tulisan yang satu ini seharusnya saya lebih bebas karena sudut pandang yang dipakai adalah subjektif menurut penulis yang dalam hal ini adalah saya. Kendala yang aku hadapi saat ini adalah kebuntuan ide tentang apa yang harus aku bahas. Biasanya ketika aku mendapatkan sebuah tugas menulis aku langsung tahu objek apa yang ingin aku bahas. Namun kali ini tidak. Sejak diberi tugas itu hingga sekarang belum terlintas satu pun ide mengenai apa yang ingin aku bicarakan dalam esai kali ini. Padahal biasanya aku menemui fakta atau pertanyaan menarik tentang sastra kita saat ini. Hanya kebiasaan burukku adalah aku tak pernah mau menuliskan ide yang kadang tiba-tiba muncul walaupun hanya sekelumit itu dalam sebuah jurnal ide, sedangkan aku ini seorang pelupa.

Dan kenapa aku tiba-tiba justru menulis dalam laman blog pribadi ini? Haha, setelah sekian paragraf yang aku tulis tentang tugas esai, sebenarnya di awal aku ingin menulis tentang sebuah resolusi tahun baru karena baru 25 jam yang lalu kita memasuki tahun 2014 (sekarang ini pukul 01.15 tanggal 2 Januari 2014). Semua sedang berlomba menulis tentang resolusi setahun ke depan. Dari yang aku baca ada yang membuat resolusi dengan penuh percaya diri untuk bisa terwujud, banyak yang hanya mengekor agar seolah punya resolusi, tak sedikit yang memang menjadikan itu sebuah motivasi hidup yang harus dicapai, dan banyak bermunculan nada skeptis menanggapi resolusi teman-temannya karena menganggap itu hanya sebuah gaya menghadapi tahun baru dan entah serius dilakukan atau tidak. Ya begitulah. Aku sendiri pun terkadang menganggap hal tersebut terlalu berlebihan dan buang-buang waktu ketika menuliskan sebuah resolusi tanpa benar-benar berniat menjalankannya. Tapi terkadang aku juga perlu sebuah target agar aku sendiri pun yakin setiap tahun aku mengalami peningkatan dalam kedewasaanku di dunia nyata yang bersinggungan dengan banyak tipe orang ini. Kadang aku butuh suatu takaran untuk menyatakan aku berhasil, gagal, atau belum mencapai target. Karena berjalan tanpa sebuah target itu seperti daun jatuh yang tertiup angin. Tak punya mata, tak punya kehendak, dan tak punya pegangan. Tak bisa menentukan ingin mendarat dimana. Beruntung jika bisa mendarat disebuah kasur yang empuk dan ditemukan oleh gadis manis yang kemudian merawatnya. Namun bagaimana jika tiba-tiba saja kau jatuh disebuah selokan mampet dan bau atau malah jatuh dalam kobaran api bersama daun-daun gugur yang lain. Kau akan terinjak, hilang, dan terlupa. Sedangkan kita manusia, bukan daun. Kita punya mata, hati, otak, dan keinginan. Kita bisa menentukan jalan kita, walaupun sesekali kita penasaran untuk mencoba jalan yang terjal atau sedikit bermain-main dengan api. Tapi kita punya hak untuk keinginan, harapan, tujuan, dan mimpi. Tak ada salahnya untuk bermimpi. Seperti yang orang-orang bijak (atau sok bijak) berkata tentng mimpi yang harus digantung setinggi langit.

Ya, begitulah kita manusia diciptakan. Untuk bermimpi. Dan mewujudkan mimpi.

Setelah dulu sewaktu saya masih labil (masa-masa SMP/SMA) saya ingat pernah sekali menuliskan resolusi sepanjang satu halaman pada buku catatan saya yang merupakan hadiah ulang tahun dari seorang sahabat, dan setelah itu saya tak pernah menuliskan atau mengucapkan lagi barang sebuah resolusi, kali ini sepertinya saya ingin membuat (minimal sebuah) resolusi.
Kenapa menjadi begitu ingin? Semula aku juga enggan membuat dan menuliskannya mengingat itu akan sia-sia (lagi) dan aku cenderung sedang banyak tugas kuliah yang harus segera aku tuliskan agar selesai (termasuk esai tadi). Namun saat sedang membuka http://www.bisikanbusuk.com/ milik @benzbara_ dan berharap bisa menggali ide untuk esai, aku menemukan tulisan bang ben tentang resolusi (ternyata penulis seperti dia juga masih berminat untuk membuat catatan tentang resolusi). Aku belum membaca apa isinya, namun melihat judulnya saja membuat aku tergoda untuk menuliskan (apapun itu) tentang resolusi dan ingin memiliki minimal satu resolusi untuk tahun ini.

Sama dengan teman-temanku yang saat ini sedang dipenghujung semester tujuh, tentu saja resolusi pertama yang ingin aku tulis adalah 'maksimal desember 2014' aku sudah harus menamatkan kuliahku dan mendapat gelar S.Pd. Meskipun aku punya keinginan untuk sedikit santai menjalani kuliahku saat ini, tapi waktu maksimal satu tahun aku rasa cukup untuk menyelesaikan skripsi hingga ujian pendadaran dan yudisium (sekaligus wisuda). Resolusi lain yang aku lebih senang menyebutnya sebagai sebuah tujuan yang akan aku capai di waktu yang tepat adalah aku ingin menjadi seorang penulis dan memiliki sebuah buku yang diterbitkan. Entah itu kumpulan puisi, kumpulan cerita, atau sebuah novel yang aku ingin tetap berkualitas. Itu  tujuanku untuk tahun setelah 2014karena 2014 aku ingin berjuang lebih dulu untuk tugas akhir. Namun selama menunggu 2015 semoga aku mendapatkan batu loncatan untuk bisa mewujudkan keinginanku menjadi seorang penulis. Kemudian aku ingin berada pada dunia tulis menulis dengan tidak melupakan kewajibanku untuk mengabdi pada masyarakat. Gelar S.Pd nanti akan membuatku menjadi seorang pendidik di sebuah tempat bernama sekolah. Tapi aku ingin lebih dari itu. Aku ingin menjadi pendidik yang tidak hanya berangkat dari teori-teori dalam buku, namun aku ingin menjadi pendidik dengan referensi pengalaman. Bukan tak ingi mengajar di sekolah dan mewujudkan keinginan orang tua. Hanya saja aku masih merasa modalku dari bangku kuliah ini belum cukup untuk menjadi seorang pendidik yang benar-benar mendidik. Aku hanya belajar di dalam kotak dan membaca literatur yang kadang aku merasa dipaksakan untuk keadaan di dunia nyata saat ini. Aku ingin belajar di universitas kehidupan (begitu kata Cak Nun). Aku ingin pengalamanku dari perjalananku sendiri yang menjadi narasumber untuk mendidik. Aku tak ingin membentuk manusia-manusia robot lagi yang hanya mementingkan keberhasilan dari angka-angka (aku pernah membaca entah artikel atau cerita tentang hidup dalam dunia angka, namun aku lupa siapa penulis dan apa judulnya). Entah ini sebuah cita-cita mulia atau hanya sebuah mimpi (sekali lagi mimpi itu perlu), tapi saya rindu saat semua tidak hanya diukur dengan angka namun ditakar dalam ukuran yang pas sesuai kebutuhan. Saya ingin menjadi siswa sekolah kehidupan dan nanti mengajar disana. Mungkin lewat buku-buku, cerita dari blogku, atau dari telinga ke telinga nanti murid-muridku akan belajar. Tak perlu bertatap muka langsung namun apa yang aku katakan dan tuliskan lebih bermakna dari keberhasilan 100% menjawab 50 soal multiple choice di seelembar kertas buram.
Ya sederhananya seperti itu tujuan yang sedang aku bentuk sekarang. Tapi dengan catatan aku menjalankannya dalam nuansa yang selalu nikmat dalam segala suasana. Bahkan patah hati pun nanti akan aku jalani dengan nikmat. Air mata pun adalah sebuah kenikmatan yang pas pada waktunya.

Ya, seperti itu mungkin bisa dikatakan sebuah resolusi yang positive thingking. Kata 'belum tercapai' nanti tetap akan aku temui karena aku memang bukan orang yang penuh dengan keberuntungan untuk menjalani sesuatu dengan mudah. Tapi aku punya keyakinan.

Dan dari semua yang saya tuliskan diatas, saat ini saya mencoba untuk tidak lagi mempertaruhkan harapan dan tujuan saya dalam angka-angka. Saya hanya perlu untuk memulai melakukan. Dan tidak peduli itu saat ini, 2014, atau 2015, atau angka-angka selanjutnya.
Pergantian tahun mungkin hanya sebuah cara untuk memudahkan kita melihat seberapa jauh pencapaian-pencapaian kita. Namun renungan, mimpi, dan usaha kita lalukan setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik.

Untuk harapan-harapan baik. Semoga Malaikat mengamini dan Tuhan mengabulkan doa kita semua dengan memberikan jawaban yang pas, tak kurang, tak lebih dari usaha yang kita perbuat.

Selamat mengganti tahun kalian menjadi 2014 dalam setiap lembar ujian maupun proposal kehidupan.

Akhirnya saya telah menuliskan satu catatan di awal 2014 ini. Karena saya lekas menjadikan keyboard ini lantai dansa untuk jari-jemari saya. Karena saya akhirnya memulai, dan saya mendapati sesuatu yang berbeda setelah saya memulai di halaman blog saya.

Yk, 2 Januari 2012 dini hari

Minggu, 29 Desember 2013

Sebuah Perjalanan Lagi; Menyusuri Magelang [a chapter]

Seharian kemarin baru saja melakukan sebuah perjalanan yang amazing (lagi) bersama keluarga kecil Mishbah. Setelah 2 Juli 2013 yang lalu, dini hari tiba-tiba saja dari sebuah kedai 24jam yang disebut burjo-an kami bertolak untuk mendaki Gunung Api Purba di Nglanggeran Jogja, tanpa bekal dan cahaya yang memadai untuk mengejar sunrise di puncaknya. Kali ini giliran Magelang yang kami jelajahi. FYI, Magelang yang aku maksud disini Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, karena biasanya orang-orang tahu Magelang ya hanya Kota Magelang saja (Kota Madya). Sedangkan yang namanya Magelang itu ada Magelang Kodya dan Magelang Kabupaten.


ini waktu di Nglaggeran

Berangkat dari Jogja di hari yang sudah mulai beranjak siang, rehat sejenak dirumah, mampir candi Ngawen di Gunung Pring, lanjut ke rumah Dzik dan mencoba masakan Mbak Rina :D. Saling menunggu dan betemu di jalan akhirnya Squad Yoga, Nisa, Harditya, Bela, Dije, Hani, Dzik, Mas Ardi dan leader Teguh mulai menelusuri jalan-jalan sejuk Magelang. Bertemu gedung-gedung pemerintah Kota Mungkid, melewati jalan sejuk yang entah di daerah mana, dan tiba-tiba saja bukit sejuk Akmil Magelang muncul di depan mata.
Magelang Kota dan rumah Mas Agam yang menjadi tempat persinggahan kami selanjutnya sambil menunggu Tama dan Adit. Beberapa jam ngobrol ngalor-ngidul di rumah Mas Agam sebelum beranjak ke UMMagelang untuk menghadiri undangan dan menyaksikan pementasan teater anak-anak baru Teater Fajar. Sempat juga thimik-thimik ke tetangga sebelah alias Rumah Mas Darma.


pelataran Candi Ngawen

Pukul 22.00 pementasan berakhir dan kami beranjak menyusuri Kota Magelang malam hari. Melewati daerah Pecinan (Yoga bilang "ini Malioboro-nya Magelang") dan akhirnya sampai di Alun-alun Kota tempat superhero berkuda putih sedang menunjuk sebuah pusat perbelanjaan favorit orang-orang Kota Magelang.
Duduk melihat lalu lalang anak-anak kecil yang bahagia mengendarai skuter sewaan atau sepeda blink-blink , dan anak-anak kecil dengan sepatu roda mereka (jadi inget film Olga Sepatu roda jaman dulu) mengelilingi alun-alun. Memang tempat yang begitu membahagiakan (untuk anak kecil). Tapi sepertinya oase alun-alun kota ini juga membahagiakan sebagian dari kami yang merasakan tempat ini lebih damai dari Alun-alun Yogyakarta yang sudah mulai penuh sesak, apalagi oleh pengamen-pengamen yang kadang justru membuat tidak nyaman. Beda bertemu dengan pengamen Jogja, beda juga bertemu pengamen Magelang. Somehow, teman-temanku tercinta yang sangat mencintai dangdut koplo request lagu pada mereka, dan bergoyanglah kalian semua :D. Aku yakin waktu itu kita jadi tontonan, tapi tak apalah. Toh tak ada yang kenal, dan seperti itulah hobi kalian yang selalu membuat kenangan dan menyenangkan. Bahagia itu sederhana, anggap saja hanya ada kita di alun-alun :)
Bintang dan langit yang cerah melengkapi kehangatan malam itu meskipun harus berjaket, berkaus kaki, dan berkaus tangan. Ada yang menghangatkan ditengah sejuknya malam Magelang. Kami akhirnya beranjak pulang. Mungkin hampir satu jam perjalanan untuk sampai ke rumah. Beriring-iringan kami menembus lagi urat nadi jalan utama Magelang di tengah sejuknya yang begitu dingin.
"selalu...terharu tiap kali nengok belakang diikuti oleh laskar disepanjang jalan Magelang :) :) :)"
-@ZickZickz-

Ya, itulah salah satu kutipan perasaan iring-iringan yang berada didepan. Sedangkan aku:

"Selalu terharu. Saat menatap ke depan dan keluarga kecilku-lah yang nampak didepan mata dengan membawa perasaan dan kesannya masing-masing dari perjalanan kali ini."

Terimakasih untuk perjalanan yang mengesankan (lagi). Semoga kita masih bisa melakukan perjalanan-perjalanan mengesankan yang lainnya.

[Teater Mishbah dari perjalanan melihat pementasan "Renungan Lukisan Kopi" Teater Fajar UMMagelang; Yoga, Nisa, Harditya, Bela, Dije, Hani, Dzik, Teguh, Mas Ardi, Mas Agam, Mas Darma, Adit, Tama]

Selasa, 26 November 2013

Di Jendela di Senja Kali Ini [a chapter]



Di Jendela di Senja Kali Ini


Semakin tidak kumengerti tentang pertemuan dan perpisahan. Disenja yang menurunkan kelambu jingga ini aku kembali termenung. Adakah yang salah selama ini sehingga aku selalu ditinggalkan? Matahari diatas sana pun sebentar lagi seolah akan meninggalkanku. Bersama kawanan mega mereka berarak pergi jauh sampai belahan lain bumi ini, menjelma matahari yang membangkitkan semangat jiwa-jiwa yang baru saja terjaga dari heningnya malam. Matahari terusir malam. Dan aku akan bertemu malam.
Dari setiap perjumpaan pasti akan ada yang berpisah. Setiap yang datang pasti akan pergi. Cepat atau lambat. Baik-baik atau menyakitkan. Tapi aku tak pernah mampu untuk mengingatkan diriku lebih dari itu sehingga aku selalu hancur ketika perpisahan datang. Bagiku perpisahan tetap menyakitkan. Jika baik-baik, itu bukan perpisahan, itu hanya jeda. Jeda yang diberikan jarak dan waktu agar kerinduan yang indah bisa bersemi diantaranya, dan perjumpaan seolah menjadi taman bunga bermekaran. Sedangkan perpisahan bagiku seperti halnya sebuah titik diakhir alinea. Tak berkelanjutan. Hanya sampai disitu.
Aku duduk dijendela kamar, satu kaki bersila dan satu lagi menjejak lantai untuk menjaga keseimbangan. Aku memandangi senja yang menggantung diatas bukit. Kubiarkan angin sore menerpa dan mengibaskan rambutku. Kugenggam sebuah toples berisi seekor kupu-kupu yang tiba-tiba saja hari ini bertamu dikamarku. Aku mendekapnya dengan sangat erat. Lalu kuamati dia. Indah dan memesona dengan sayap berwarna paduan antara hitam dan ungu tua, warna kesukaanku. Begitu cantik ia dengan sayap keagungannya Mungkin ia primadona disana. Aku yakin ia adalah kupu-kupu yang banyak digandrungi lawan jenis sebangsanya. Tapi entah mengapa dalam pengembaraannya ia bisa sampai dikamarku. Mungkin tersesat, atau mungkin ia memang sedang ditugaskan untuk menemuiku.
“Hai kupu-kupu yang cantik,” setelah hampir seharian baru aku mulai menyapanya, “baru saja kita berjumpa tadi pagi. Aku begitu terpesona pada sayap indahmu. Sebenarnya aku tak ingin berlama-lama melihatmu, karena semakin lama aku melihatmu semakin ingin aku memilikimu. Tapi kau justru semakin menggodaku, menari-nari mengelilingiku dan semakin memamerkan sayapmu yang sangat elok itu tadi pagi. Jangan salahkan aku jika akhirnya kau mendarat di toples mungilku ini.
Aku menghela nafas sejenak sambil memandang jauh ke cakrawala senja sebelum kembali berkata pada kupu-kupu yang kepakan sayapnya mulai melemah didalam sana.
“Ah, mengapa kita harus bertemu? Sedangkan aku tahu seberapa besar inginku memilikimu, pada akhirnya kau harus kulepas. Sama seperti dia. Aku terlalu terpesona padanya pada perjumpaan itu hingga aku berusaha untuk menangkapnya, untuk memilikinya. Aku sudah mencoba untuk mengindari pertemuan dengannya, namun ternyata bersama waktu ia menggoda dan menari-nari disekelilingku juga, selayaknya kau.”
Kubuka sedikit tutup toples agar kau tak mati didalam sana.
“Ya, aku tahu kau butuh oksigen didalam sana. Aku tahu itu sejak kelas 4 SD karena ibu guru pernah berkata bahwa semua makhluk hidup perlu oksigen untuk bernafas. Ya, aku tahu kau juga makhluk hidup dan sudah pasti kau juga butuh oksigen.
Ku pandangi erat-erat sosok mungil dalam toples itu. Aku cari matanya seolah aku bisa memandangnya lekat untuk meyakinkan ia bahwa yang aku katakan sungguh-sungguh. “Aku memang ingin memilikimu, tapi aku tak ingin menyiksamu.
“Kau senang?” tanyaku padamu, “dan aku lebih senang jika kau benar-benar menjadi milikku. Tapi, itu hanya akan membuatmu mati dan aku tak mungkin lagi bisa melihatmu,” aku diam sejenak.
Aku pasti akan melepaskanmu. Tapi sebelum itu kau harus berjanji padaku untuk mengunjungiku lagi suatu saat nanti. Entah dipagi hari seperti saat kita berjumpa pertama kali tadi atau seperti kali ini kau menemaniku memandangi senja yang akan meninggalkanku.” Aku mengucapkan salam perpisahan dan kemudian membuka penuh tutup toples itu. Ia berputar dan melesat keatas, menari, seolah berjanji padaku bahwa ia (atau ia yang lain) akan datang mengunjungiku lagi, dan selintas kemudia ia melesat terbang kearah barat. Matahari benar-benar tenggelam.
Kupu-kupu, itulah yang membedakan kau dengan dia. Aku sempat mengucapkan salam perpisahan padamu dan membuat janji agar kau kembali mengunjungiku. Tapi dia, tiba-tiba saja hilang. Tak sempat aku berucap salam perpisahan, apalagi membuat janji agar kami bertemu kembali. Ah, sudahlah.” Kataku sambil berdiri dan memandangi bukit yang menjadi rumah matahari. Kotaku tetap indah diujung senja seperti ini. Angin semakin dingin menusuk tulang. Aku menutup jendela.