Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 April 2014

Siang di Golden Gate [cerpen]


gdefon.com


Aku berjalan menyusuri jalan berkabut ini. Didepanku lautan seperti tak berujung. Hanya Golden Gate yang menyadarkan bahwa ada ruang lain setelah air yang maha takberujung itu. Matahari menyusup dicelah-celah kabut yang tebal. Ini musim panas. Tapi aku di San Fransisco. Kueratkan ikatan syal dileher. Aku masih berjalan, ringan, seolah-olah ringan. Kuhirup dalam-dalam udara San Fransisco. Dingin. Menusuk. Hampir aku tersedak saking sesaknya. Tapi tak bisa mengalahkan sesak dari dalam.
Aku terus berjalan dan menghampiri tumpukan kotak peti kemas tak terpakai dan duduk diatasnya.
"Golden Gate, sedingin inikah kau tiap musim? Atau, hanya kali ini saja kau begitu dingin?"
"Hanya di musim panas tempat ini menjadi begitu dingin. Ini, kopi hangat."
"Eh, Hans, terimakasih." Aku mengambil gelas dari tangan Hans.
"Saat dingin, disini justru tak sedingin ini. San Fransisco memang unik."
"Kau pernah kesini sebelumnya?"
"Belum. Diandra yang menceritakannya padaku."
"Ah,maaf. Aku tidak bermaksud."
"Sudah cerita lama. Tak apa. Bagaimana? Ada kabar dari Cakra?"
Aku hanya menggeleng.
"Hai, tersenyumlah. Golden Gate menyambutmu dengan manis. Kau mau menyia-nyiakannya dengan terus menunduk seperti ini?"
Hans berusaha menghiburku. Diceritakannya keunikan dan keindahan San Fransisco yang belum aku ketahui, termasuk gedung pertunjukan dimana esok aku dan dia akan melihat drama kolosal ternama.
***
Dua minggu sebelumnya.
Halo kamu, apakabar? Dimana kamu sekarang? Masihkah merasakan bahwa ada seseorang menunggumu? Atau justru kamu telah lupa bahwa pernah membuat seseorang bisa bertahun-tahun rela menunggumu?
Terkadang aku yakin bisa bertahan. Tapi tak jarang aku ingin menyerah karena harus berjuang sendiri, dan karena kenyataan bahwa kau pergi.
Aku tekan tombol enter, dan sedetik kemudian apa yang baru saja aku ketik muncul diberanda sebuah jejaring sosial. Aku pikir kali ini sama saja dengan catatan yang sudah-sudah. Angin, jejaring maya, dan gelombang apapun tak ada yang pernah bisa menyentuh telinganya dan berkabar bahwa aku mencarinya. Aku masih menyimpan rindu untuknya. Aku rindu dia.
Ting!
Sebuah tanda pembaharuan menyala. Ada namanya disana. Benar-benar namanya. Cakra Sadwikarna. Dan sebuah pesan.
Cakra: apa kabar? Masih ingat aku?
Pertanyaan bodoh pikirku. Tentu aku tak akan lupa. Kamu yang setiap hari ada dalam pikiranku, dalam kecemasanku, dalam hatiku.
Aku: tentu. Tak mungkin aku lupa padamu. Kabarku baik. Kau?
Cakra: aku juga baik. Sekarang aku sedang dalam perjalanan berlayar mengelilingi Amerika.
Aku: Oh ya? Dimana kau akan berlabuh?
Cakra: tujuan pertama Amerikanya Amerika. Amerika Serikat.
Aku: berapa lama kau akan disana?
Cakra: lumayan lama. 2minggu. Bisa jadi lebih.
Aku: oh ya? 2minggu dari sekarang aku ada liputan ke San Fransisco.
Cakra: benarkah? Want to meet? Aku sungguh rindu pada rumah. Sudah lama aku tak pulang. Sungguh membahagiakan jika kau membawakanku sesuatu dari rumah.
Aku: dengan senang hati. Kau ingin aku bawakan apa?
Cakra: apapun. Yang bisa menuntaskan rinduku pada rumah.
Aku: baiklah. Akan aku siapkan yang terbaik yang dipunyai oleh rumah. Agar kau juga ingat untuk pulang. Dimana kita bertemu?
Cakra: sekitar Golden Gate.
Aku: bagaimana aku bisa menghubungimu?
Cakra: aku yang akan menemukanmu.
Seketika setelah balasan itu sampai, nyala hijau pada namanya berubah abu-abu. Setiap hari menjelang keberangkatanku aku selalu membuka akunnya. Tak ada tanda-tanda keberadaannya setelah hari itu. Dia menghilang. Lagi.
Aku mempersiapkan segala keperluan, termasuk apa yang diminta Cakra. Aku bawakan beberapa makanan khas rumah yang awet beberapa hari, tas selempang dengan lukisan batik, dan sebuah gelang yang aku rangkai sendiri. Semua ku kemas rapi dalam box berwarna ungu.
****
"Hans, besok hari terakhir kita disini. Sudah tiga kali kita datang ke tempat ini." Kataku mulai puturg asa setelah melihat akun milik Cakra. Berharap ia mengabarkan sesuatu dari sana.
"Sabar Aela. Mungkin dia sedang ada urusan mendesak dan terlambat menemuimu."
"Apa kamu akan berkata bahwa aku bodoh selama ini? Sekian tahun berharap pada hal kosong dan mempertahankan sesuatu yang sebenarnya tak ada. Menjadi begitu bersemangat saat tiba-tiba ia muncul lagi dan meminta sesuatu padaku, dan aku lupa bahwa itu juga yang dulu ia lakukan padaku. Memintaku tak menjauhinya, tapi justru dia yang pergi. Bukankah karena aku terlalu bodoh hingga harus jatuh pada lubang yang sama dan tak bisa mewaspadainya?" Tiba-tiba tangisku meledak. Aku tahu ini tumpahan air mata yang telah berusaha ku bendung sekian lama. Ini bukan hanya karena lelah berjam-jam menunggu disini atau kelelahan yang sama tiga hari yang lalu. Ini adalah kelelahan yang terakumulasi sekian tahun.
"Hans, aku lelah." Kataku disela isak tangis yang mulai tersedak-sedak.
"Ayo kita pulang. Semakin sore cuaca disini semakin dingin. Kita harus bersiap untuk besok. Tentu kamu tak ingin apa yang kamu impikan selama ini rusak begitu saja kan? Pikirkanlah bahwa hanya untuk pertunjukan besok kau datang kesini."
Hans mencoba untuk memapahku.
"Tunggu. Aku tak boleh membawa ini lagi." ku keletakkan box ungu itu diatas peti kemas. Ku ambil juga gelang dari kantong tas kulitku dan kuletakkan diatas box.
"Aku tak ingin membawanya lagi."
Aku dan Hans berjalan menjauhi dermaga tanpa sadar ada mata yang terus mengamatiku sampai hilang diujung deretan truk pengangkut cargo. Pelan-pelan sosok itu mendekati apa yang aku tinggalkan diatas peti kemas.
"Aela. Maaf aku menuntaskan rinduku seperti seorang pecundang. Dan dengan egois membiarkan rindumu tak tertuntaskan. Aku terlalu jahat untuk terus kamu rindukan. Aku tak tega jika harus bertemu dan kau menangkap sesuatu pada jari kiriku."
Dibukanya box ungu itu dan dilihatnya apapun yang telah dipersiapkan Aela untuknya. Termasuk sebuah gelas plastik ice cream yang tak asing baginya. Ia ingat, itu adalah gelas ice cream dimana Aela bisa menyuapinya dengan malu-malu dan gembira. Sekian tahun lalu.

(uploded on Thumbstory on 12th April 2014. Id thumb: belasuryani)

Senin, 02 Desember 2013

Pandanglah Dengan Cinta [cerita pendek]



Pandanglah dengan Cinta[1]



Siang tadi baru saja aku ikut ibu menghadiri sebuah pemakaman tetangga yang tak begitu jauh rumahnya dari rumahku. Seperti biasa beberapa jalan ditutup untuk menghalangi kendaraan yang bukan pelawat memasuki area sekitar rumah duka. Aku dan ibuku hanya berjalan kaki saja kesana. Kami tak mengenakan pakaian serba hitam seperti acara pemakaman di televisi-televisi. Asalkan pakaian sopan dan tidak menyinggung keluarga yang sedang berduka. Agar lebih menghormati aku meminjam kerudung milik ibuku, bukan warna hitam tetapi aku tetap memilih warna gelap.
Sepanjang jalan aku melihat mobil dan sepeda motor terparkir. Begitu banyak. Aku melihat kerumunan yang lebih banyak lagi saat tiba dipekarangan rumah duka. Begitu banyak pelawat yang datang untuk ukuran almarhumah yang hanya biasa-biasa saja dan bukan pejabat penting dalam pemerintahan. Beberapa karangan bunga duka cita juga nampak di jalan masuk ke rumah duka. Aku yakin semasa hidupnya almarhumah pasti orang yang begitu baik meski aku tak terlalu mengenalnya. Semenjak menjalani pendidikan diluar kota aku kurang paham tentang tetangga disekitar rumahku, apalagi tetangga baru. Almarhumah ini termasuk tetangga baru bagiku karena ia pindah ke desa ini tiga bulan sebelum aku akhirnya nge-kos di dekat kampusku. Kata ibuku, beliau hanya seorang ibu rumah tangga. Usainya baru sekitar tigapuluh lebih sedikit, masih muda. Namun ibuku juga terheran mengetahui begitu banyak orang yang datang melawat.
“Banyak juga relasi Bu Sari ini ternyata. Padahal dia tak sering terlihat keluar rumah.”
“Mungkin relasi suaminya Bu.” Jawabku asal.
Warna-warni yang aku lihat dirumah duka, bukan hitam kelam seperti pemakaman dalam film-film. Namun semua turut dan larut dalam rasa kehilangan. Di tengah ruangan jenazah dikelilingi sanak saudara dan para pelawat yang melantunkan Surat Yaasin. Tepat disamping kanan jenazah ada suami dan anaknya yang kira-kira baru saja masuk SMP.  Si anak menangis disebelah ayahnya dan terus menciumi tangan ibunya. Sedangkan Suaminya hanya terlihat diam dan terus memandangi lekat wajah istrinya dibalik kain putih transparan.
Aku dan ibu menemui seorang ibu-ibu yang sudah renta.
“Bu, saya turut berduka cita atas meninggalnya Dik Sari. Semoga amal dan ibadah beliau diterima di sisi-Nya dan semoga dilapangkan jalannya.” Kata Ibu.
“Terimakasih banyak. Mohon dimaafkan jika anak saya ada salah.” Balas ibu-ibu tadi.
Aku melihat sekeliling. Si anak perlahan diajak oleh seorang kerabat untuk mundur. Beberapa laki-laki kerabat mulai mendekati jenazah. Prosesi pemberangkatan jenazah menuju peristirahatan terakhirnya dimulai. Prosesi dipimpin oleh seorang uztadz yang dituakan dikampungku. Doa-doa dibacakan.  Empat laki-laki termasuk suami Bu Sari mengangkat keranda jenazah. Mereka berjalan melewati jalan kampung menuju pemakaman. Kerabat dan para pelawat termasuk aku ikut mengiringi dibelakangnya. Disini masih tidak biasa membawa jenazah dengan mobil jenazah menuju pemakaman karena jarak pemakaman yang dekat dengan kampung.  Ada yang mengatakan jika berjalan maka dia yang meninggal masih diberikan kesempatan untuk melihat sekelilingnya dan mengamati keluarga dan kerabatnya untuk terakhir kali. Memang sering ada yang mengatakan bahwa ruh orang yang meninggal akan mengiringi pemakamannya dan belum beranjak dari bumi sebelum hari ke-40.

***

Sepuluh menit kami sampai. Disana liang kubur sudah siap. Ku dengar dari penggalinya mereka menggali liang ini dengan mudah, pun dikedalaman dua meter ini tanah tetap kering dan tidak ada air yang muncul.
Satu per satu prosesi pemakaman dilaksanakan. Jenazah diturunkan oleh beberapa orang. Pak Ustadz membacakan doa-doa yang beberapa aku sering mendengarnya. Tiba saatnya untuk mengadzani jenazah.
“Pak Ustadz, biar saya saja yang mengadzani.” Begitu kata suami dengan tetap tenang. Tak ada air mata disana hingga seemua pelawat berkasa-kusuk. Banyak  yang bilang bahwa ia suami yang tegar dan kuat. Ada juga yang bertanya-tanya mengapa ia tak terlihat sedih.
Atas permintaan sang suami, Pak Ustadz dan yang lain naik dari liang tersebut. Kasak-kusuk semakin terjadi walaupun mereka berusaha agar tak terdengar oleh kerabat maupun sang suami. Beruntung aku berdiri di tempat yang tinggi dan bisa melihat apa yang terjadi di dalam liang. Sang suami berjongkok dan mengangkati wajah istrinya. Ia berbicara. Ya, ia berbicara pada istrinya seolah-olah istrinya masih bisa mendengar.
“Istriku, hari ini kau tak melihat air mataku barang setetes karena sampai saat akhirmu aku hanya ingin menjadi orang yang paling kuat untukmu, dan untuk anak kita. Istriku, pandanglah. Pandanglah aku. Pandanglah aku selagi kita masih berhadap-hadapan. Selagi aku masih ada disini. Sebelum susut suasana ini. Pandanglah pepohonan yang terlihat dari dalam liang ini. Pandanglah mereka, sebelum akhirnya suara desir mereka terpantul di dinding-dinding guamu.”
Ia menghela nafas.
“Pandanglah istriku. Pandanglah aku dengan cinta. Pandanglah mereka semua yang mengiringimu. Pandanglah kami dengan cinta. Kami begitu mencintaimu. Istriku, kau disana tak perlu cemas dan bertanya-tanya akankah aku setia padamu meski sepi yang kini ada diantara kita. Sebelum kau bertanya aku akan meyakinkanmu bahwa hanyalah aku orang yang paling setia padamu. Tenanglah disana dan tunggulah sampai aku, kamu, dan anak kita kembali menjadi satu. Tidurlah dengan tenang dan tak perlu mencemaskan apapun. Aku selalu mencintaimu, raga dan jiwamu.”
Kemudian terdengar adzan yang begitu merdu dari dalam sana. Angin mendesir.  Pak Ustadz dan beberapa orang melanjutkan prosesi pemakaman.

***

Langit mengekalkan warna birunya. Bumi menggenggam seberkas bunga, padamu semata.[2]
Hujan turun seketika.


[1] Cerita terinspirasi dari puisi Sapardi Djoko Damono berjudul “Kepada Istriku”
[2] Cuplikan puisi Sapardi Djoko Damono berjudul “Kepada Istriku”

Selasa, 26 November 2013

Di Jendela di Senja Kali Ini [a chapter]



Di Jendela di Senja Kali Ini


Semakin tidak kumengerti tentang pertemuan dan perpisahan. Disenja yang menurunkan kelambu jingga ini aku kembali termenung. Adakah yang salah selama ini sehingga aku selalu ditinggalkan? Matahari diatas sana pun sebentar lagi seolah akan meninggalkanku. Bersama kawanan mega mereka berarak pergi jauh sampai belahan lain bumi ini, menjelma matahari yang membangkitkan semangat jiwa-jiwa yang baru saja terjaga dari heningnya malam. Matahari terusir malam. Dan aku akan bertemu malam.
Dari setiap perjumpaan pasti akan ada yang berpisah. Setiap yang datang pasti akan pergi. Cepat atau lambat. Baik-baik atau menyakitkan. Tapi aku tak pernah mampu untuk mengingatkan diriku lebih dari itu sehingga aku selalu hancur ketika perpisahan datang. Bagiku perpisahan tetap menyakitkan. Jika baik-baik, itu bukan perpisahan, itu hanya jeda. Jeda yang diberikan jarak dan waktu agar kerinduan yang indah bisa bersemi diantaranya, dan perjumpaan seolah menjadi taman bunga bermekaran. Sedangkan perpisahan bagiku seperti halnya sebuah titik diakhir alinea. Tak berkelanjutan. Hanya sampai disitu.
Aku duduk dijendela kamar, satu kaki bersila dan satu lagi menjejak lantai untuk menjaga keseimbangan. Aku memandangi senja yang menggantung diatas bukit. Kubiarkan angin sore menerpa dan mengibaskan rambutku. Kugenggam sebuah toples berisi seekor kupu-kupu yang tiba-tiba saja hari ini bertamu dikamarku. Aku mendekapnya dengan sangat erat. Lalu kuamati dia. Indah dan memesona dengan sayap berwarna paduan antara hitam dan ungu tua, warna kesukaanku. Begitu cantik ia dengan sayap keagungannya Mungkin ia primadona disana. Aku yakin ia adalah kupu-kupu yang banyak digandrungi lawan jenis sebangsanya. Tapi entah mengapa dalam pengembaraannya ia bisa sampai dikamarku. Mungkin tersesat, atau mungkin ia memang sedang ditugaskan untuk menemuiku.
“Hai kupu-kupu yang cantik,” setelah hampir seharian baru aku mulai menyapanya, “baru saja kita berjumpa tadi pagi. Aku begitu terpesona pada sayap indahmu. Sebenarnya aku tak ingin berlama-lama melihatmu, karena semakin lama aku melihatmu semakin ingin aku memilikimu. Tapi kau justru semakin menggodaku, menari-nari mengelilingiku dan semakin memamerkan sayapmu yang sangat elok itu tadi pagi. Jangan salahkan aku jika akhirnya kau mendarat di toples mungilku ini.
Aku menghela nafas sejenak sambil memandang jauh ke cakrawala senja sebelum kembali berkata pada kupu-kupu yang kepakan sayapnya mulai melemah didalam sana.
“Ah, mengapa kita harus bertemu? Sedangkan aku tahu seberapa besar inginku memilikimu, pada akhirnya kau harus kulepas. Sama seperti dia. Aku terlalu terpesona padanya pada perjumpaan itu hingga aku berusaha untuk menangkapnya, untuk memilikinya. Aku sudah mencoba untuk mengindari pertemuan dengannya, namun ternyata bersama waktu ia menggoda dan menari-nari disekelilingku juga, selayaknya kau.”
Kubuka sedikit tutup toples agar kau tak mati didalam sana.
“Ya, aku tahu kau butuh oksigen didalam sana. Aku tahu itu sejak kelas 4 SD karena ibu guru pernah berkata bahwa semua makhluk hidup perlu oksigen untuk bernafas. Ya, aku tahu kau juga makhluk hidup dan sudah pasti kau juga butuh oksigen.
Ku pandangi erat-erat sosok mungil dalam toples itu. Aku cari matanya seolah aku bisa memandangnya lekat untuk meyakinkan ia bahwa yang aku katakan sungguh-sungguh. “Aku memang ingin memilikimu, tapi aku tak ingin menyiksamu.
“Kau senang?” tanyaku padamu, “dan aku lebih senang jika kau benar-benar menjadi milikku. Tapi, itu hanya akan membuatmu mati dan aku tak mungkin lagi bisa melihatmu,” aku diam sejenak.
Aku pasti akan melepaskanmu. Tapi sebelum itu kau harus berjanji padaku untuk mengunjungiku lagi suatu saat nanti. Entah dipagi hari seperti saat kita berjumpa pertama kali tadi atau seperti kali ini kau menemaniku memandangi senja yang akan meninggalkanku.” Aku mengucapkan salam perpisahan dan kemudian membuka penuh tutup toples itu. Ia berputar dan melesat keatas, menari, seolah berjanji padaku bahwa ia (atau ia yang lain) akan datang mengunjungiku lagi, dan selintas kemudia ia melesat terbang kearah barat. Matahari benar-benar tenggelam.
Kupu-kupu, itulah yang membedakan kau dengan dia. Aku sempat mengucapkan salam perpisahan padamu dan membuat janji agar kau kembali mengunjungiku. Tapi dia, tiba-tiba saja hilang. Tak sempat aku berucap salam perpisahan, apalagi membuat janji agar kami bertemu kembali. Ah, sudahlah.” Kataku sambil berdiri dan memandangi bukit yang menjadi rumah matahari. Kotaku tetap indah diujung senja seperti ini. Angin semakin dingin menusuk tulang. Aku menutup jendela.

Selasa, 27 Agustus 2013

Bando Oren, Aku Lala Padamu: Waktu Paling Tepat untuk Mencintaimu [a chapter]

Banyak hal yang membuatku akan ingat dan mengingat waktu itu. Dan sekarang aku hanya akan sering tersenyum dan bersyukur ketika mengingatnya. Setiap ruang dan keadaan yang sepertinya saling berkoalisi untuk menempatkanku pada keadaan serba dia.

Aku yang pada saat itu sedang dikejar garis mati sebuah acara ceremonial kampus, hari-hariku penuh berkutat dengan cat warna-warni, cutter, sterofoam, kain, cetak mencetak, dan masih banyak lagi. Memimpin sebuah teamwork tidaklah mudah. Apalagi untukku yang belum berpengalaman untuk menjadi seorang leader. Aku akui manajemenku kacau, i'm selfish and egois, aku lebih cocok untuk menjadi pekerja daripada menjadi orang yang harus mengatur sesuatu. Ya, tapi biar bagaimanapun itu adalah kesempatan. Tak ada salahnya aku mencoba. Toh, tak akan ada langkah kedua, ketiga dan seterusnya kalau tak ada langkah pertama. I do my best. That's so hard, tapi aku terus untuk mencoba. Aku tak semahir teman-teman leader tim yang lain. Tapi pekerjaan tetap pekerjaan. Waktu terus berjalan, garis mati semakin dekat. Berusaha menjadi orang kreatif! Itu yang aku lakukan. Membuat maskot kampus, desain panggung, mencari cinderamata, desain ini itu. Mungkin aku menjadi yang paling terbata-bata diantara yang lain. Tapi aku terus mencoba dan berusaha menyembunyikan ketidakbisaanku dari tim-ku. Semata-mata bukan karena malu, namun aku harus menjadi induk yang kuat untuk mereka. Jadi akupun harus manjadi kuat untuk diriku sendiri.

Salah satu kelemahanku adalah aku tak pernah bisa menghindar dari malam. Malam yang selalu menghadirkan dialog-dialog pribadi dan cenderung lebih sensitif untuk menghadirkan sebuah kerinduan. Ya, waktu itu sedang ada seseorang yang setiap malam selama hampir dua tahun berlari-lari dipikiranku, dalam lamunanku. Keadaannya waktu itu sudah satu tahun dia pulang ke kampung halamannya di tanah Sumatra. Bisa dibilang aku berada dalam keadaan  digantungkan (terjadi justru karena saudaranya yang selalu bilang padaku bahwa ada sesuatu antara aku dan dia). Aku mulai lelah menunggu kepulangannya kesini, aku mulai pasrah bahwa antara aku dan dia memang tak harus ada cerita. Berkali-kali pertanda telah mengingatkanku. Di catatan ke-32 aku mulai meletakkan cerita tentangmu bersama almari yang mulai usang dan berdebu.

Selama garis mati yang terus mengejarku itu, setelah dialog pribadi yang sering memakan waktu hingga aku terlelap, berhari-hari aku bermimpi tentang seseorang. Tanpa nama, tanpa wajah, tanpa identitas. Disaat garis mati itu membuatku lelah luar dalam, hingga tidur pun aku tak merasa istirahat, sosok itu selalu datang, selalu ada, dan selalu hadir. Yang ia lakukan sederhana, menemaniku, menggenggam tanganku, dan mendekapku hingga keresahan yang aku bawa menjelang tidur sirna seketika. Nyaman dan hangat.

Dalam dunia atas sadarku, ada orang yang sering lalu lalang dihadapanku. Naik turun tangga didepan area kerjaku berkali-kali, papasan berkali-kali, itu saat dimana aku masih bisa berbicara padamu tanpa rasa canggung. Saat Bando Oren dikepalamu masih belum aku perhatikan, saat sepatu biru-mu belum terpatri dalam kepalaku.

Waktu dan ruang semakin sering menjebak kita. Aku masih ingat pertama kali aku dibonceng kamu. Waktu itu aku masih belum salah tingkah. Aku juga masih sering minta bantuanmu tanpa rasa canggung. Semakin lama aku semakin menikmati keadaan yang menjebak itu. Tapi garis mati selalu mengingatkanku untuk menepis perasaan nyaman itu sebelum semua pekerjaanku selesai.
Semakin lama rasa nyaman disampingmu semakin bertambah. Entah kenapa motor kamu yang meminjami, aku butuh diantar kamu yang ada, aku butuh sesuatu selalu ada kamu. Itu bukan berarti aku aku pamrih. Tapi ya memang ada sesuatu yang semakin lama semakin membuatku nyaman, ada kamu didekatku. Seiring kenyamanan yang aku dapat darimu, sosok yang hadir dalam mimpiku perlahan memudar. Dan sosok itu hilang tepat saat aku harus mau mengakui bahwa aku menyimpan sebentuk perasaan untukmu.
Enam hari bekerja denganmu merupakan hari yang berat, berat harus mengakui bahwa hatiku kembali tertambat pada seseorang. Berat karena aku sadar aku masih belum siap untuk jatuh lagi. Tapi aaku pun tak bisa menolak apa yang ku rasakan.

Waktu itu adalah hari-hari yang tepat untuk mencintaimu, laki-laki bertubuh kurus, rambut gondrong berbando orange, bersepatu biru-perak, laki-laki yang sok kuat dan tak pernah usai berbuat bodoh untuk badannya sendiri :p
Tapi aku sayang :)
Kau tak pernah tahu kan wktu itu aku mencemaskanmu setengah mati sampai-sampai hari terakhir ospek aku memilih tidak pulang karena mencemaskan tanganmu yang membengkak? Ah, kau pasti tak pernah tahu dan tak mau tahu.

Hei laki-laki ber-Bando Oren, waktu ospek dan dua minggu setelahnya, terimakasih ya karena kau membiarkanku menikmati letupan-letupan itu :) menikmati menjadi orang yang paling beruntung bisa mengenalmu. Ya, aku rasa waktu itu adalah waktu yang tepat untuk mencintaimu. Waktu itu..
Terimakasih sudah memberikan kisah jatuh cinta ke-6 untukku... Kisah yang lain daripada yang lain...
Kisah yang membuatku berani mengatakan "aku suka padamu", kisah yang membuatku semakin belajar untuk berani jujur pada diri sendiri.

 Bando Oren, kamu yang tak pernah aku panggil dengan 'K', tapi selalu dengan 'X'

Bando Oren, Aku Lala Padamu.....