Rabu, 30 Desember 2020

Bertahan

 

 

Berhasil bertahanpun tak apa. Itu sudah hebat.

Bertahan tetap hidup. Bertahan tetap waras. Bertahan sehat.

 

2020 sama beratnya bagi kita semua.

2020 sama menguras energinya untuk kita semua.

Tidak apa menjalani hidup yang biasa saja, tidak apa mimpi sempat menjauh dari kita, tidak apa tidak melakukan hal yang terlihat fantastis di mata orang lain.

Bertahan untuk tetap waraspun sudah hal hebat.

Suatu hari kelak, aku atau kamu saat membaca ini, aku berharap keadaan sudah membaik dan kembali normal. Meskipun dunia sudah semakin renta, tapi aku berharap kita masih bisa menjalani hari yang baik, esok.

Kita masih bisa mewujudkan mimpi, mulai hari ini.






Jumat, 21 Agustus 2020

Hujan Saat Ini (Puisi)

Hujan saat ini sudah berbeda

Ia tak seperti dulu

Hujan saat ini syarat kecemasan

Tidak ada nyamanmu

Tidak ada wangimu


Yang ada hanya kekhawatiran


Hujan saat ini sangat berbeda

Aku tak mengenalinya

Hujan saat ini penuh pikiran suram

Keindahannya menghilang


Hujan saat ini

                       terasa asing


Tak ada wangi rumput dan dedaunan

Tak ada wangi tanah

Tak ada wangimu


Hujan saat ini hanya tentang kebisingan

                                                                  dan gemuruh


Hujan saat ini hanya tentang kecemasan


-K-

(11/5/2020)

Minggu, 22 September 2019

Kesadaran Kebebasan Finansial dan Melihat Angka Ketergantungan Bukan Hanya Sebagai Bagian dari Mata Pelajaran Semata

Sebelum dibaca, izinkan aku meminta maaf karena ini semacam harus aku post di sini, bukan di facebook.

Setelah selesai aku tulis, ini semacam menjadi sesuatu yang harus aku post di sini dahulu sebelum ke facebook.

Selamat menikmati.

------------------------------
------------------------------


Lagi, tentang angka ketergantungan.
Ada yang bisa menarik garis menghitung angka ketergantungan pada pelajaran di bangku SMP maupun SMA menjadi sebuah teori praktis yang bisa diterapkan pada kehidupan nyata?
Aku belum menyanyakan hal ini pada pakar ekonomi atau pakar kependudukan, tapi opiniku adalah;

Angka ketergantungan adalah angka beban tanggungan manusia pada usia produktif terhadap dirinya sendiri dan terhadap manusia yang tidak dalam usia produktif. Siapa saja yang masuk dalam usia produktif dan siapa saja yang tidak?
Monggo bisa dibuka lagi buku pelajaran semasa SMP/SMA, buka buku pelajaran anak, atau kalau malas ya buka google lah minimal.

Sederhananya adalah berapa banyak orang yang seharusnya bekerja di rumah anda dibagi dengan berapa jumlah total anggota di dalam rumah. Mudah bukan?

Tapi di tataran negara, hal ini menjadi lebih kompleks karena tidak semua usia nonproduktif sudah tidak bekerja, dan tidak semua usia produktif bekerja. Penyebabnya? Macam-macam tentu. Tidak hanya karena kurangnya lapangan pekerjaan.
Saat ini angka ketergantungan di Indonesia hampir mencapai 50% menurut katadata.co.id (aku mencari di akun resmi BPS enggak nemu). Sebuah angka yang masih sangat besar.
Maka dari itu kemampuan untuk mempunyai kebebasan finansial bagi semua orang yang berada di usia produktif sangat diperlukan.

Beberapa faktor membuat orang bisa bekerja sesuai jam kerja yang ideal, beberapa faktor bisa membuat orang bisa punya kegigihan membangun usaha sendiri, dan beberapa faktor ada yang membuat orang harus banting tulang tak kenal waktu. Baik itu perempuan atau laki-laki.
Kesadaran untuk memiliki  hidup sejahtera akan membuat orang-orang usia produktif melakukan berbagai cara untuk tetap produktif, terutama dari segi keuangan; bahkan kadang tak kenal waktu.

Mengingat kabar terakhir bahwa perempuan yang masih bekerja atau luntang-lantung di jalan akan mendapatkan denda; aku tidak setuju. Adakah deskripsi yang lebih spesifik dari deskripsi itu?
Aku rasa banyak perempuan akan bahagia jika tidak harus bekerja sampai larut malam. Tapi bagaimana jika terpaksa? Misalkan pegawai pabrik yang mendapat shift malam, atau pegawai mall yang buka sampai pukul 9 malam, belum beres-beres toko mereka, dll.
Aku rasa banyak perempuan akan merasa senang jika berproses di kesenian tidak perlu melibatkan waktu malam hari. Tapi, siapa yang akan menanggung hidup para seniman jika siang hari mereka tak bekerja layaknya manusia biasa?
Lantas kenapa harus berkesenian jika hanya menyita waktu?
Bisa kalian bayangkan dunia ini tanpa seni? Gersang hati kalian.

Itu hanya contoh seujung kuku jentik saja.

Padahal apa yang mereka lakukan juga bisa membantu pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Mereka ada pada usia produktif dan sadar harus memiliki kebebasan finansial dengan berbagai macam WHY.
Jika begitu pun dibatasi, angka ketergantungan semakin melebar, siapa yang akan menanggung?
Perut-perut buncit anda, wahai Tua-Nyonya?

Lantas kenapa bukan begini saja solusinya? Jadikan malam seaman siang bagi semua orang, semua gender, untuk tetap bekerja, berproses, dan melakukan apapun hal baik itu.

Bagaimana ilmu dalam cetakan ijazah anda terapkan pada realita dan pada kemanusiaan wahai Tuan dan Nyonya Jabat?

Hanya perkara kecil anda bilang?
Perkara kecil saja anda tidak bisa memberikan solusi yang baik.

Masih belum berstruktur bagus seperti maestro karya ilmiah. Tapi semoga bisa dipahami sebagai bagian dari pemikiranku tentang kebebasan finansial bagi siapapun yang berada dalam usia produktif dan tentang lucunya Tuan dan Nyonya Jabat di Negeriku sekarang ini.

Salam J

Rabu, 27 Maret 2019

Sebuah pengingat untuk diri sendiri



Hallo, aku,\
jangan sedih jika gagal. Setidaknya kamu pernah mencoba. Kegagalan adalah bagian terumum dari kehidupan.\
jangan kecil hati jika dicibir. Setidaknya kamu pernah memulai.\

Saat yang lain berpikir untuk menyerah, kamu jangan.\
itu yang membedakanmu dengan yang lain.\

saat kamu jatuh, selalu percaya bahwa kamu bisa bangkit,\
ada atau tak ada orang yang membantu.\

Hallo, aku,\
jangan menjadi sempurna. Jadi apa adanya dirimu.\
jangan sedih karena gagal, tapi sedihlah karena tak pernah mencoba.\

Dear aku,\
kamu baja.\
kamu adalah versi terbaik dari dirimu.\

Dear aku,\
terima kasih telah menjadi aku yang selama ini.\


Jumat, 27 Juli 2018

Merela [Puisi]

doc. belasuryani


Untuk kamu yang pernah singgah
di beranda kala hujan
Teduh matamu redakan
gigilku
Walau sekejap
Ku tahu ini hanya sementara
walau ku ingin selamanya

Kulepas kau dengan gerimis
yang masih menggantung di mata
semoga kau selamat sampai rumah
Tempat tersaji pelukan hangat
dan secangkir kemesraan

... Aku lekas berkemas
menjemput rumah

2018

Senin, 25 Juni 2018

Brush Cleansing without Eggbrush Silicone (Membersihkan Brush tanpa menggunakan Silikon Eggbrush)

Hallo, \^^
Selamat datang.
Kali ini sepertinya aku akan mengisi blog ini dengan hal yang berbeda. Ya, sudah lama aku tidak menulis puisi, cerita, atau ulasan lain yang berbau sastra. Menulis puisi hanya kadang-kadang dan tidak dipost di sini. Tapi, pada dasarnya aku membuat blog saat aku ingin menulis tentang apapun.

Sebenarnya sudah lama aku tertarik dunia make up, terlebih make up karakter, semenjak aku ikut bergabung di teater kampus. Tapi karena sekarang sudah lulus (alhamdulillah akhirnya), jadi belajar make up sekarang hanya untuk diri sendiri saja. Dan akhir-akhir ini aku mulai tertarik dengan skin care juga karena menyadari bahwa kulit itu yang utama harus sehat, enggak cuma di dempul pakai bedak dan segala macamnya (secara usia sudah mau lepas dari angka 25, hiks). Intinya sekarang aku, dan mengajak kalian untuk mulai aware terhadap kesehatan kulit sedini mungkin. Nah, bagian skin care dan make up ini mungkin bisa aku bahas lain kali ya (kalau lagi inget dan mood, hahaha).

Kali ini yang mau aku bahas adalah tip-tip untuk membersihkan brush dan sponge yang kita punyai. Aku yakin cewek yang tampilannya sebodo amat pun sekarang tetap punya alat perang ini, minimal sponge bawaan dari bedak. Enggak perlu punya banyak dulu baru kita perhatian dengan benda 'tlemik-tlemik' ini. Yang jelas perhatian kita ke benda 'tlemik-tlemik' ini demi kesehatan kulit wajah kita juga kok. Lho, apa hubungannya? Enggak mau kan wajah kita langsung berjerawat setelah pakai make up menggunakan brush dan sponge yang nggak bersih? Iya, peralatan make up kita tuh sebenarnya sumber bakteri. Hahaha.

Mungkin sudah banyak yang berbagi tip tentang membersihkan brush ini, apalagi sekarang ada yang namanya eggbrush yang praktis dan membantu untuk membersihkan mereka-mereka. Tapi, tip yang mau aku bagi adalah ketika kita malas beli (seperti dirikuuu) atau enggak punya eggbrush. Tetep! Tetep harus bersihin kuas-kuas itu lho ya.

Yoook cus aja lah ya ini langkah-langkah yang biasa aku lakukan .....


  1. Persiapkan wadah, shampoo, dan tentu saja brushes dan sponge yang mau dibersihkan. (maaf shampoonya lupa enggak di foto, tapi bisa pakai shampoo rambut merek apapun kok)
     
  2. Membersihkan sisa make up menggunakan air shampoo. Tuangkan air hangat ke wadah dan dua sampai tiga tetes shampoo, kemudian rendam semua alat perang ke dalam air. Kenapa air hangat? Menurut aku air hangat akan membantu melunturkan sisa-sisa make up yang menempel di kuas dan sponge dengan lebih cepat. Ingat! Hangat saja, bukan panas. Kalau terlalu panas nanti bisa merusak brush kita tercinta. Nah, di langkah ini, janga lupa untuk menggosok-gosokkan kuas ke dasar wadah atau ke kapas untuk membantu mengangkat sisa-sisa make up. Nah, ini hasilnya. 
     
  3. Ulangi langkah sebelumnya. Langkah membersihkan brush di air shampoo ini bisa jadi tidak hanya sekali dilakukan. Kita bisa melakukannya dua sampai tiga kali sampai benar-benar besih (sampai air tidak sepekat gambar sebelumnya). Kalau sisa make up di sponge lebih susah dibersihkan, kita bisa membersihkannya secara terpisah dengan memeras sponge di air mengalir.Selanjutnya keringkan brush dan sponge di kapas atau tissu agar air dengan sisa make up sudah tidak menempel di brush.
     
  4. Bilas dengan air dan micellar water. Ganti air shampoo dengan air dan micellar water. Karena sebagai bilasan terakhir, maka air yang aku pakai lebih banyak dari sebelumnya. selain itu aku menambahkan lima tetes atau lebih micellar water. Kenapa? Dulu sebelum ada micellar water sih dibilas pakai air yang banyak. Tapi karena sekarang ada terobosan baru, aku pakailah si air ajaib itu. Iya, karena pada dasarnya kan micellar water untuk membersihkan atau mengangkat make up. Nah, siapa tau masih ada sisa make up di kuas yang masih bisa terangkat oleh micell ini. Kalau sudah selesai, lalu keringkan menggunakan tissu atau handuk kecil, dan taruh di sebuah wadah lain agar tidak tercecer. Alasi wadah dengan tissu atau handuk kecil juga ya. Next ... 
     
  5.  Angin-anginkan. Ya, langkah terakhir hanya kita angin-anginkan saja kuas-kuas ini. Agar lebih cepat kering, aku angin-anginkan kuas ini di bawah kipas angin semalaman. Dan taraaaa.... besok pagi kuas-kuas bersih ini sudah bisa digunakan kembali. 

Yaps begitu saja, simple kan. Aku biasanya melakukan ini saat santai dan bingung mau ngapain. Hahaha. Bersihin brush ini kalau bisa sering-sering ya. Kalau brush dipakai sendiri ya sebulan sekali masih dimaafkan. Tapi kalau buat tukang rias, kamu harus harus dan wajib mencucinya setiap selesai digunakan karena kan konsumen kamu berbeda-beda. Enggak mau kan konsumen komplain gara-gara bau sponge yang kamu pakai udah apek atau mereka jadi berjerawat setelahnya?

Terima kasih bagi yang sudah membaca. By the way, aku belum tahu ya konten seperti ini akan rutin atau tidak di sini. Kalau ditanya kok enggak bikin vlog aja?, kan lebih enak dengerin daripada baca. Ya aku sih masih hanya sebatas melakukan apa yang aku inginkan dulu. Lagi pengin nulis di instagram ya nulis di sana, lagi pengin nulis di blog ya ke sini, pengin buat video ala kadarnya ya bikin aja. Belum terencana sih, so boleh lah dilirik instagram aku juga  @belasuryani :)

Sekian,
Salam cantek dan sehat. Mwuah.
^^

Kamis, 19 April 2018

Dermaga yang Sunyi [Puisi]

pioneerphotography.com



Suaranya berderu saat lepas jangkar. 
bila saja ia toleh sedikit,
leleh mata dermaga akan tampak nyata jika bukan kabut yang menutupinya.
Ia terus, terus, dan terus masuk ke lautan yang lebih luas.

Bagi Dermaga,
kini hanya bayangan punggungnya yang tersisa di balik kabut.
Dilepasnya gelisah bersama embusan angin,
berharap dibawa ke antah berantah.
Sampai seribu purnama,
Dermaga yang sunyi berjanji takkan goyah pasaknya meski pasang dan surut tiada henti.
Bertanya ia pada kabut,
"kau bawakan bayangnya?" |
Dan kali ke seribu kabut menjawab
"Tak pernah ku temukan bayangnya, bahkan sampai palung terdalam sekalipun" |

Hari ini tepat purnama ke seribu satu.
Telah lunas janji Dermaga.
Satu persatu pasaknya rubuh.
"Sudah habis purnamaku,
namun bayanganmu tak pernah lagi ku temukan berdenyut
di air atau di langit. Kabut pun tak bisa menemukanmu.
Tunai sudah janjiku,"
begitu ucap Dermaga
sebelum jatuh dan hancur berkeping dihantam ombak.

Rabu, 07 Maret 2018

Perempuan dan Perkembangan Gawai (Opini)

sumber: lifestyle-indonesia.com


Tanpa tahu bahwa hari ini adalah Hari Perempuan sedunia, tiba-tiba saja pagi tadi tercetus sebuah gagasan tentang ‘kenapa sebagai perempuan kita tidak boleh berhenti mengikuti zaman’. Google yang akhirnya memberi tahu saya di laman pertamanya bahwa hari ini adalah Hari Perempuan sedunia. Akhirnya saya tulis gagasan yang muncul tiba-tiba tadi.
Bermula dari refleksi diri sendiri yang selama ini selalu merasa tidak terlalu ingin mengikuti perkembangan zaman anak-anak remaja terkait sosial media serta kreativitas dan ‘kreativitas’ di dalamnya. Saya bedakan dua kreatifitas di sini. Salah satu adalah kreativitas yang baik, dan satu lainnya yaitu kreatifitas yang banyak dari mereka tidak menyadari dampak buruknya. Saya termasuk orang yang malas untuk meng-update aplikasi di posel pintar setiap ada pembaruan. Beda halnya dengan anak sekolah zaman sekarang yang selalu memantau ada perkembangan apa di jagat media sosial. Sebagai contoh, tiba-tiba saja instagram memiliki aplikasi yang memungkinkan kita untuk mengambil gambar bergerak namun bukan kategori video. Di mulai dari public figure internasional dan nasional yang sudah terverifikasi oleh instagram, demam gambar bergerak bernama boomerang mulai mewabah. Masyarakat, khususnya anak-anak pun mulai mencari dan mengikutinya demi kata ‘tren’. Tren boomerang masih cukup sederhana karena hanya mengandalkan ponsel pintar saja. Contoh selanjutnya yaitu tren vlog. Bisa jadi vlog ini adalah istilah pengembangan dari blog, namun kita mengisi konten laman pribadi bukan dengan tulisan selayaknya blog. Vlog berisi video-video yang memiliki tema-tema tertentu dan cukup asik untuk disimak selayaknya membaca blog. Tren vlog membutuhkan kecakapan yang lebih karena kebanyakan vlogger menggunakan kamera dan alat yang professional. Selain itu kemampuan gravis seperti mengedit video, membuat ilustrasi, maupun mengisi suara sebagai sound effect juga diperlukan. Anak-anak akan mulai meminta hal ini dan itu yang bagi orang seperti saya tidak akan tahu bagaimana cara menggunakan alat-alat tersebut.
Dilihat sekilas, hal seperti contoh tadi adalah hal baik dan mengundang kreativitas anak. Namun celakanya, bagi orang tua si anak yang hanya bisa membelikan barang keinginan anak tanpa tahu kegunaannya adalah, kita tak pernah tahu anak akan berbuat apa dengan alat-alat yang sudah dibelikan. Kenyataannya, banyak penyimpangan dimulai dari gawai, dan orang tua banyak yang tidak bisa memantau penggunaan gawai anak karena mereka tidak paham cara menggunakannya selain sebagai alat untuk menelpon, berkirip pesan, atau paling mutakhir untuk berselancar di internet (yang ini pun terbatas sekali).
Sesungguhnya terlalu acak saat saya memikirkan pengaruh gawai dan perkembangannya ini untuk anak mengingat saya sendiri belum menikah, apalagi memiliki anak. Masa sekarang ini lebih wajarnya saya memikirkan pengaruh gawai dan segala sosial media bagi diri sendiri. Maka, saya pun hanya menggunakan gawai sesuai kebutuhan, tidak perlu terlalu update. Di sinilah jebakan itu. Saat saya benar-benar memutus hubungan dengan hal ‘kekekinian’ maka bisa jadi suatu saat nanti saya tidak bisa mengikuti perkembangan dunia anak saya kelak. Bisa jadi saya menjadi lebih tertinggal dibandingkan orang tua zaman sekarang, karena kita tahu perkembangan teknologi akhir-akhir ini super cepat.
Lalu, sebenarnya kenapa selama ini saya terlalu apatis dengan perkembangan teknologi? Ya, sejujurnya karena orang dewasa pun banyak yang belum bijak dalam menggunakan teknologi, khususnya gawai. Mereka yang ‘kekinian’ kebanyakan hanya untuk mengumbar, memamerkan, atau menyombongkan sesuatu, dan mengikuti tren semata. Padahal tugas orang dewasa yang semestinya sudah matang pola pikirnya adalah mengawasi dan mengarahkan bagaimana anak-anak menggunakan teknologi dan gawai. Bukan justru ikut-ikutan menjadi tidak terarah.
Jadi, pada intinya saya mengajak diri sendiri dan teman-teman perempuan yang pada mulanya memiliki pemikiran yang sama dengan saya yang apatis mengenai perkembangan gawai dan teknologi, untuk berpikir ulang. Suatu saat nanti, atau justru sekarang anda sudah menjadi orang tua, tidak ada salahnya kita mengikuti hal ‘kekinian’, namun diluruskan lagi tujuannya. Sebagai calon ibu, dan ibu untuk anak-anak, perempuan memang selalu dituntut untuk belajar dan berkembang. Kita pahami, kita ketahui, bukan untuk mengikuti arus yang bergelombang tak tahu arah, namun untuk memahami karakteristik gelombang dan mengarahkan dayung dengan tepat agar tidak karam kapal kehidupan kita.
Lalu, bagaimana dengan laki-laki? Ah, ego mereka terlalu tinggi. Semoga mereka pun bisa paham.:D

Selasa, 17 Mei 2016

Mungkin aku ...

Mungkin aku tak pernah bisa menjadi baik untukmu














Karena aku yang terlambat mencintaimu

Jarak

Aku tak tahu kapan bisa kembali
Saat aku kembali,
Hanya kamu yang ingin ku jumpai

Setiap langkah setiap tapak
Hanya tentangmu
Aku takkan pergi hanya karena dia
Namun aku tak mampu menaklukkan jarak antara kita

Mata bertemu mata
Hati bertemu hati
Tapi kita masih meraba tanpa tahu apakah mata dan hati bertemu dengan tepat,
saat masih ada jarak diantara kita

Satu langkah aku beranjak, dua langkah aku ingin kembali, beribu langkah justru aku berlari pergi,
saat aku tak mampu menempuh jarak antara kita

Selasa, 19 April 2016

Doa

Doa.
Tentang perkara meminta.
Setiap orang berdoa, sebagian besar dari mereka pasti akan meminta. Doa tak pernah lepas dari perkara meminta meskipun banyak hal selain meminta yang diajarkan dalam doa. Berbagai Tuhan yang diimani oleh umat manusia selalu punya doa sebagai jalan agar manusia bisa menghubungiNya, dengan berbagai macam cara berdoa pula. Tapi selalu ada tatacaranya. Dan manusia lebih sering meminta daripada bersyukur dalam doanya.

Tapi Tuhan Yang Maha Segalanya tak pernah keberatan dengan segala macam permintaan yang dibuat manusia karena Ia Yang Maha Segalanya. Seberapa banyakpun permintaan itu karena meminta memang salah satu hal yang diberikan jalan oleh Tuhan melalui doa.

Untukku yang kecil ini, aku juga masih terlalu sering meminta daripada bersyukur saat berdoa. Salah satu yang sering aku minta adalah sebuah nama.

Namamu?

Ada jalan bagi orang berjodoh untuk bertemu melalui doa. Terkadang kita dipertemukan oleh orang yang namanya selalu kita sebut dalam doa. Ada pula saat kita dipertemukan bukan pada orang yang selalu kita sebut dalam doa, namun dipertukam oleh orang yang selalu menyebut nama kita dalam doanya. Yang paling membahagiakan adalah saat Tuhan mempertemukan orang yang sama2 saling menyebut dalam doanya.

Lalu kita?

Dulu aku terlalu sering meminta dia dalam doaku-sebelum aku menyerah. Lalu kamu, aku tak tahu apakah namaku pernah kamu sebut dalam doa jika saat inipun aku jarang tahu kapan kamu berdoa.

Lalu doa siapakah yang mempertemukan kita?

Aku ingat sesekali pernah menyelipkan namamu dalam doa. Tapi apakah yang sesekali itu bisa membuat Tuhan ingat tentang permintaanku?

Karena Tuhan Maha Segalanya

Aku saat ini adalah aku yang mencintaimu -dan berharap cinta kita tumbuh dalam doa-doa yang mulia.

-B-
*april16

Selasa, 09 September 2014

Merekam Samuel Beckett Dalam Suara Krapp [review]





Menampilkan Beckett adalah sebuah tantangan tersendiri bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pertunjukan drama. Tidak semua pelaku seni di bidang tersebut berani untuk menampilkan karya Beckett. Mereka yang berani pun belum tentu berhasil membawakan naskah Beckett dengan tetap memiliki jiwa Beckett. Samuel Beckett adalah penulis naskah yang tetap hidup  dalam karyanya meskipun raganya sudah tak ada. Seseorang yang berani membawakan naskahnya tapi tak bisa memahami ia, maka sebagian besar akan mengalami keadaan dimana orang tersebut tidak menyampaikan apa inti naskah tersebut. Pertunjukannya nanti pun akan terkesan membosankan karena Beckett memang senang bermain-main dengan kesunyian yang magis dalam semua naskahnya. Hampir setiap orang yang menonton ‘garapan’ yang berasal dari naskah Beckett (asli maupun saduran) selalu menanti-nantikan jiwa Beckett hadir disana. “Mana Beckett-nya?” kalimat itu adalah kalimat yang senantiasa akan selalu bergema dalam masing-masing hati dan pikiran penikmat maupun kritikus drama saat melihat pementasan yang mengangkat naskah Beckett. Ketika penonton tak bisa menemukan kesunyian Beckett yang magis, khusyuk, dan penuh arti tersebut, maka bisa jadi penonton hanya akan disuguhi keheningan yang kosong, dan membosankan. Apalagi bagi mereka yang ingin menonton untuk mendapatkan hiburan. Hiburan identik dengan hingar bingar, sedangkan Beckett jauh dari itu. Tak ada hingar bingar dalam naskah Beckett. Sebut saja ‘Menunggu Godot’. Apa yang dilakukan para aktornya? Menunggu. Ya, hanya menunggu, dan dalam waktu yang lama, lebih dari dua jam ketika naskah ini pertama kali ditampilkan. Lalu ‘hiburan’ macam apa yang diinginkan Beckett dari naskahnya? Disini bisa saya katakan Beckett mengajak kita untuk beramah tamah dengan keheningan, kesunyian, kesendirian, kesepian, dan mungkin juga kegelapan. Banyak orang yang mengatakan takut dengan kesendirian, kesepian, maupun kesunyian, tapi tak bisa dipungkiri mereka melekat dalam kehidupan kita. Beckett mengajak kita untuk mengakrabi mereka. Khusyuk menjalani setiap detail yang kita lakukan. Merenung, merenung, dan merenung, kediaman yang Beckett ciptakan membawa kita untuk merenung diantara kehidupan yang terus menderu dan semakin cepat saja tiap dekadenya.
Diantara banyak karya ‘hening’ Beckett, salah satunya adalah Krapps’s Last Tape atau yang diterjemahkan dengan bebas dalam Bahasa Indonesia menjadi Rekaman Terakhir Krapp. Krapp’s Last Tape adalah karya yang ditulis Beckett pada tahun 1958. Pada Oktober  tahun itu pula naskah ini pertama kali di pentaskan di Royal Court Theater London.
 Krapp’s Last Tape, sebuah naskah monolog yang menghadirkan cerita dari seorang bernama Krapp. Krapp’s Last Tape bukan satu-satunya naskah yang menghadirkan tokoh Krapp. Krapp juga hadir dalam naskah-naskah Beckett yang lain seperti End Game dengan masalah yang berbeda. Lagi-lagi dalam naskah ini Beckett menampilkan kepiawaiannya dalam menangkap fenomena absurditas.
Menonton Krapp? Silahkan saja. Kali ini, dalam Rekaman Terakhir Krapp, Beckett mengangkat kisah Krapp yang ‘gelap’ sampai akhir hayatnya. Krapp dalam cerita ini sudah berumur 69 tahun. Dalam usia tersebut temannya hanyalah kesepian dan keheningan. Krapp tua itu memiliki hobi yang unik, ia selalu bercerita dan ia merekamnya. Hal itu ia lakukan sejak dulu. Suatu hari ia mencari-cari sesuatu dalam laci mejanya. Ia menemukan pisang, makanan yang menjadi kegemarannya sejak dulu, ia berencana memakannya tapi diurungkan. Tiba-tiba ia mencari-cari sebuah gulungan rekamannya di masa lalu. Dengan susah payah akhirnya ia menemukannya.kemudian ia memutar pita tersebut dalam sebuah tape dan mendengarkannya melalui telinga yang sudah kehilangan sebagian daya dengarnya. Krapp mendengarkan rekaman yang ia buat 30 tahun yang lalu. Ia mendengarkan dengan saksama ceritanya pada saat itu. Tigapuluh tahun lalu adalah masa dimana ia merasa menjadi masa paling jaya dalam hidupnya. Dalam rekaman tersebut Krapp dewasa sedang mengomentari masa remaja Krapp. Ia bercerita tentang bagaimana Krapp remaja mengagumi seorang gadis bernama Bianca. Selanjutnya ia teringat tentang ibunya yang menemui ajal di rumah yang terletak diatas kanal. Saat itu ada satu gadis ‘gelap’ yang tinggal disekitar rumah itu dan juga ia kagumi, namun ia tak berani untuk berkenalan dengannya. Krapp dewasa menyumpahi hal yang terjadi pada Krapp remaja. Selanjutnya Krapp dewasa bercerita bahwa kemudian hidupnya menjadi penuh dengan bermain wanita. Selesai ia mendengarkan, Krapp tua mematikan tape dan memasang pita kosong. Krapp tua merekam dirinya. Ia menyumpahi lagi dirinya yang pernah menjadi sangat kelam tersebut. Krapp seolah-olah ingin melupakan masa kelam tersebut tapi ia sadar bahwa kelam selama ini telah bersamanya sampai hari itu. Ia sadar bahwa kegelapan selalu bersamanya hingga menjelang hari akhirnya.
Beckett menggiring emosi dan psikologi pembaca untuk mengikuti kemauan Krapp tua yang dihadirkan dengan sangat perlahan. Detail-detail keheningan yang diberikan Beckett sangat banyak dalam naskahnya. Begitupun ketika naskah ini ditampilkan. Pertunjukan akan menggiring penontonnya untuk masuk kedalam Krapp secara perlahan. Mencoba untuk memahami apa yang dilakukan Krapp dan ketika ada yang tak dipahami maka pertanyaan akan muncul. Munculnya pertanyaan tersebut nantinya akan menjadi hal yang baik karena penonton ikut terbawa arus perenungan Krapp atas hidup yang telah dijalaninya (mungkin penonton juga akan ikut merenungi hidupnya) dan membawa penonton untuk sama-sama menggali apa yang sedang dipikirkan oleh Krapp.
Apakah kita selalu bisa membaca pemikirannya? Dalam memproduksi karya pendek, Beckett melakukan pendekatan karakteristik teks yang diciptakan sendiri. Backett mencoba menggali unsur tematiknya dan hal itu juga bisa kita temui dalam Krapp. Memainkan Beckett sama halnya sedang melakukan kompromi dengannya. Sutradara memberikan penawaran-penawaran seperti aktor juga menunjukkan penawaran atas ciptaannya. Aktor sendiri perlu menerjemahkan kata-kata yang disampaikan oleh Beckett, kata-kata yang menjadi simbolisasi atas kekuasaan politik, budaya, dan moralitas. Aktor tidak hanya menampilkan ketepatan dan kecepatan dalam gerak tubuh, bisnis akting, dan pendekatan karakter akan tetapi juga dituntut untuk mengetahui apa yang menjadi motivasi dirinya bergerak. Gerakan yang dilakukan bukan semata-mata hanya improvisasi. Re-interpretasi diperlukan aktor karena aktor dituntut untuk mengetahui karakter tokoh pada teks berdasarkan pemaknaan dialog.
Pertunjukan ini memiliki sisi unik tersendiri yang sudah dimunculkan oleh Beckett yaitu dengan adanya alat elektronik yang dihadirkan hidup diatas panggung dan bukan sekedar sebagai properti  atau pendukung (Krapp mendengarkan pita rekamannya melalui tape). Hal ini menjadi istimewa karena apa yang ditampilkan aktor nantinya dan apa yang diputar melalui tape sama-sama harus memiliki karakter yang kuat. Emosi yang terjalin antara aktor yang memerankan Krapp dan Krapp dalam rekaman haruslah sinkron, saling mengisi, dan saling mendukung. Pemahaman secara utuh tentang Krapp dimasa remaja, dewasa, dan tua sangat dibutuhkan disini. Tantangan lainnya seperti naskah-naskah Beckett yang lain yaitu bagaimana agar penonton mampu bertahan dalam ‘kebosannnya’ menonton pertunjukan Beckett dan bagaimana cara memunculkan pertanyaan dalam diri penonton sebagai hasil merenung dan refleksi dalam dirinya.
Meskipun begitu, pertunjukan tetap boleh diragukan karena tak selalu memiliki makna tunggal. Interpretasi boleh meleset. Memainkan Beckett ibarat menembak target yang bergerak. Sesekali kena sayap, sesekali kena kaki, sesekali memecahkan kepala, dan kadang meremukkan ulu hati.

Bela Yusti Suryani
(Teater Mishbah)

Sabtu, 16 Agustus 2014

Lidah Ibu: Warung Kopi Citarasa Rumah [kuliner]

Salah satu sudut Lidah Ibu/ *dok. pribadi


Hallo man teman. Sambil nunggu bufferingan desain mending sambil nulis kali ya. Kayaknya enak nih review kuliner dikit. This time mau ngebahas tempat nongkrong yang cozy di Jogja nih, termasuk tempat dimana aku saat ini menulis.
Ya, empat tahun di Jogja akhirnya jadi latah juga ikut-ikutan hobi nongkrong. Buat para tersangka yang membuat aku jadi hobi nongkrong, tanggung jawab kalian! Hehe. Nongkrong nggak harus mahal, ya walaupun sekali-kali pernahlah nggak sengaja dapat tempat yang harganya diatas rata-rata. Hehe. Biasalah anak kos harus pintar-pintar cari tempat makan murah tapi enak. Jadi biasanya sebelum nongkrong tanya-tanya dulu ke teman yang pernah masuk ke tempat tersebut atau nyari-nyari info di Mbah Gugel.
Aku sendiri bisa nongkrong di tempat yang murah abis sampai yang 'lumayan' mahal. Burjoan-sering, angkringan-sering juga, cafe-pernah lah, warung kopi-sering dan jenis ini nih yang kadang menjebak, restoran mahal-iya, tapi ditraktir. Haha. Ya begitulah, ini nih konkrit tempat-tampatnya bakalan aku sebutin. Ada 4 warung burjo (yang nggak jual burjo) di sekitaran UNY, pokoknya di dekat FBS sama di karangmalang (tapi nggak apal namanya dan sering ngasih nama sendiri). Spesial Sambal, Warung Steak, Ngudi Rejeki, Ayam Penyet Suroboyo, Lesehan Aldan, Ayam Cobek Prabowo, Seafood Annisa dekat Sanata Dharma, Kedai Ngapak, Warung Inyong, Lumpia Boom (itu kategori tempat makan harga terjangkau yang bisa didatengin sama keluarga). Next Dixie pasta (itu isinya menu-menu barat semua). Sejenis warung kopi: Grisse (favorit aku, coklatnya mantap), Mato, Nagata, Cuppajjo, B'jong, Blandongan Kafe, Semesta, English coffe, Djendelo Koffie, Greek Coffe, dan ini tempat baru yang sedang aku 'jajal' Warung Kopi Lidah Ibu.

Warkop Lidah Ibu yang bakalan aku kupas sekarang, yang lain besok-besok ya. Hehe

Warkop Lidah Ibu ada di daerah dekat Sanata Dharma dan Atma Jaya. Kalau dilihat dari nama sih cocoknya jadi nama rumah makan keluarga gitu, eh tapi setelah sampai tempatnya ternyata warung kopi yang cozy juga buat nongkrong bebarengan ataupun yang pengen sendiri dan mengerjakan tugas atau juga buat yang ingin berdua-duaan. Nggak terlalu gede dan hanya ada beberapa set bangku (mungkin 15 set), mungkin itu yang membuat Lidah Ibu nggak terlalu crowded jadi walaupun kita datang sendirian tempatnya nggak terlalu 'horor', dan kalau kita ngerjain tugas tetap masih nyaman. Disambut cahaya neon yang remang-remang, pagar bambu dan dua set kursi kayu bercat putih. Simple but sweet. Masuk ke dalam ada kursi-kursi bambu yang enank buat teman-teman yang datang rombongan. Tempatnya fresh, banyak angin mengalir. Pertama masuk juga disambut kata-kata yang unik di black board mini yang ditaruh di tengah pintu masuk. Dari tatanan tempat pokoknya cozy buat segala tujuan. Selain itu ada juga book corner disana yang bisa dipinjam dan dibaca-baca.

Menu Lidah Ibu lumayan variatif, dari cemilan sampai makanan berat, dan minumnya lumayan lengkap lah. Makanan berat ada nasi goreng, penyetan, dan mie. Cemilannya ada pisang (goreng-bakar), roti bakar, kentang goreng-terong goreng. Minumnya ada kopi, teh, susu, coklat, dan beberapa lainnya. Harganya terjangkau, ada di kisaran 4,5ribu sampai 15ribu. Buka dari jam 15.00-01.00.

Rasa dari menunya buat aku termasuk kategori enak. Kalau dinilai dari 10-100, aku kasih nilai 89. Why? Awalnya mau ngasih nilai 90 dari menu yang tersaji di atas meja. Hari ini aku memesan menu terong krispi, cokelat panas, dan mie goreng, sedangkan temanku cukup dengan nasi goreng ayam dan et tehnya. Terong krispinya paling lezat diantara terong krispi yang pernah aku coba sebelum-sebelumnya, mie goreng sama nasi goreng rasanya hampir sama dan enak, tehnya benar-benar rasa teh (bukan air gula kaya di tempat makan kebanyakan), tapi sayangnya cokelat panasnya masih belum bisa ngalahin cokelat panas Grisse. Maklum, aku lagi doyan banget sama cokelat panas, jadi dimanapun tempat yang menyediakan cokelat panas pasti aku coba. Walhasil tetap Grisse juaranya (juara 2 sih sebenarnya, katanya di Legend cafe lebih enak, tapi belum nyoba). Cokelat panas di Lidah Ibu terlalu encer dan rasanya menurutku hampir sama kaya Delfi Hot Chocolate sachet.

Yah mungkin itu dulu. Semoga menambah referensi kuliner dan tempat nongkrong di Jogja :)
I recomended it!
Binyang 4,5
Oh iya, Tempatnya Free Wifi lho :D

Senin, 11 Agustus 2014

Tahun kedua tentangmu [a chapter]


Aku bukan tak tahu tahu kemana alamat rindu ini

Aku tahu persis kemana tujuannya

Tak berubah, tetap sama dengan saat itu
Meskipun kadang terbawa angin kedalam pusaran badai atau melintasi gurun, namun ia tetap kembali pada arah tujuannya
Hanya saja sekarang aku takut untuk menerbangkannya
Sayapnya terluka dalam penantian yang sia-sia
Kini aku tak mungkin menyembuhkan semua luka itu agar rinduku tak lagi berusaha terbang kembali menemuimu
Tidak, setelah jatuh bangun ia mengendalikan diri agar tak meledak dan membuatku gila



*)12 Agustus 2014
Tahun kedua tentangmu

Minggu, 10 Agustus 2014

Buku ke-3 Siklus Warisan Eragon: Brisingr [Review]

Setelah lama tidak menulis, penyakitnya pasti selalu banyak hal menumpuk yang ingin dituliskan. Heh, baiklah. Pelan-pelan dan satu persatu dulu :)

Kali ini tentang satu novel fantasi yang baru saja aku selesaikan :)

BRISINGR!



Ya, buku ketiga dati siklus empat warisan Eragon. Bisa dibilang aku sudah agak lupa bagaiman detailnya buku pertama dan kedua (Eragon dan Eldest) karena sudah lebih dari tiga tahun lalu aku membacanya dari buku pinjaman dan tak bisa membaca ulang. Peminat Eragon memang tak sebanyak peminat Harry Potter. Tapi untukku novel ini tetaplah menjadi novel fantasi yang harus aku khatamkan membacanya. Hehe. Brisingr yang aku beli ini merupakan buku cetakan keempat, dicetak pada tahun 2012 (dan aku baru memberinya di tahun 2014). Aku memutuskan membeli karena tidak ada teman yang memiliki buku ini, jadilah aku harus membelinya sendiri. Setelah sekian lama akhirnya aku mampu membeli kelanjutan novel yang aku baca itu dengan susah payah menabung, menyisihkan uang disela-sela kebutuhan kuliah dan dengan semangat mengoleksi novel :)


Setelah sekian lama banyak hal yang tak bisa kuingat dalam dua buku sebelumnya, tapi pada ininya aku masih ingat bahwa Eragon dan Saphira akhirnya melawan saudaranya sendiri yaitu Murtagh dan Si Naga Merah Thorn. Dalam Brisingr diceritakan bagaimana kelanjutan kaum Varden dan Eragon serta seluruh penduduk Alagaesia berjuang. Kaum Varden kini dipimpin Nasuada karena Ajihad, ayahnya telah tewas terbunuh.Dengan kemampuan yang dimilikinya Nasuada berusaha untuk memimpin Varden seperti ketika ayahnya memimpin. Nasuada dibantu oleh Jordmund, penasehatnya dan Raja Orin dari Sudra. Di buku ke tiga ini Eragon juga memiliki misi khusus di tengah-tengah kaum kurcaci untuk mempercepat pemilihan raja baru mereka (raja lama juga tewas di pertempuran Farthen Dur) dan memastikan keberpihakan kaum kurcaci untuk Varden melawan Gallbatorix. Selain itu di tanah kamu kurcaci, Saphira juga berusaha untuk menepati janjinya memperbaiki Isidhar Mithrim, Bintang Mawar kebanggaan kaum kurcaci yang hancur saat pertempuran melawan para urgal dan tentara Gallbatorix.

Kini kaum Urgal sudah berjuang bersama kaum Varden, Ratu Elf Islanzadi sedang pergi ke sebuah tempat untuk juga mencari cara menghancurkan Gallbatorix, dan Eragon berjuang mendapatkan dukungan dari kaum Kurcaci. Sebelum itu Eragon dan Roran juga berada dalam sebuah perjalanan mengerikan menuju Helgrind untuk menyelamat Katrina (dan Sloan, namun akhirnya disembunyikan Eragon di du Welden Varden sehingga Katrina dan Roran mengira Sloan sudah meninggal). Eragon akhirnya sukses mendapatkan dukungan kaum Kurcaci dan Orik (saudara angkatnya) yang kemudian menjadi Raja kaum Kurcaci, Saphira berhasil memperbaiki Isidar Mithrim, Roran berhasil membuktikan kehebatannya memimpin kaum Varden untuk bergerilya melawan tentara Galbatorix, dan Arya selalu membantu Eragon. Dalam buku ini muncul 12 Elf (dipimpin Bloodghram) yang dikirimkan Islanzadi untuk membantu Eragon. Selain itu Eragon juga memaksa Nasuada untuk mengizinkannya ke du Weldenvarden untuk menuntaskan belajarnya dengan Oromis dan Glaedr. Di du Weldenvarden akhirnya Eragon memiliki pedang penunggang lagi setelah Zar'roc dirampas Murtagh. Pedang baru Eragon ia beri nama Brisingr (api-dalam bahasa kuno). Brisingr memiliki keunikan sendiri. Dalam prosesnya Rhunon (penempa pedang penunggang terbaik dari kaum Elf) yang sudah berjanji tidak akan menempa pedang lagi akhirnya mengerjakan pedang tersebut menggunakan badan Eragon yang pikirannya dikendalikan olehnya. Setelah jadi setiap Eragon menyebutkan nama pedang itu-tanpa bermaksud mengeluarkan sihir- selalu keluar kilatan api biru dari Brisingr. Itulah keistimewaan dari pedang Eragon yang kini berwarna biru, sama seperti sisik Saphira.



Akhir dari buku tersebut adalah Oromis dan Glaedr keluar dari persembunyiannya untuk melawan langsung Gallbatorix karena merasa Eragon telah cukup mendapatkan ilmunya dan setelah mewarisi Eldunari -jantund dari jantung- milik Glaedr yang memiliki banyak memoro dan pengalaman Oromis dan Glaedr. Selama Eragon membantu kaum Varden menyerang Feinster yang semula telah diduduki tentara Gallbatorix, Oromis melawan Murtagh di Urubaen. Gallbatorix hadir melalui raga Murtagh melawan Oromis dan akhirnya Oromis dan Glaedr tewas.

Itulah akhir dari buku ketiga ini. Buku setebal 850 halaman ini menyajikan 'kegelapan' yang semakin dirasakan di Alagaesia. Semua ras merasakan kekejaman Gallbatorix. Akan tetapi selama aku membaca 850 halaman ini,alur yang terjadi terlalu monoton. Semua terkesan teknis dan perdebatan-perdebatan menjemukan dalam peperangan. Strategi yang juga terlalu teknis namun masih kurang motivasi dan alasan dibalik tindakan yang terjadi. Suspend konflik yang ada tidak se-tarik-ulur buku-buku sebelumnya. Barulah pada halaman 689 akhirnya aku bisa mendadak berhenti membaca dan benar-benar terbawa masuk dalam diri Eragon. Saat akhirnya Eragon tahu bahwa ayahnya adalah, BROM. Ada perasaan bahagia dan lega yang ikut mengalir mengetahui 'kenyataan' itu. Beberapa saat aku menikmati keadaan lega dan bahagia tersebut sebelum akhirnya aku membaca lagi. Ya, buku ini tetap harus ada walaupun suspend dalam bukit-bukit konfliknya masih kekurangan tegangan. Selain itu satu lagi kelemahan buku ini (terjemahan Indonesia cetakan ke-4 dari penerbit Gramedia) adalah masih adanya beberapa kata yang miss dalam kegiatan editting sehingga agak mengganggu ketika membaca.



Ya itulah tadi Brisingr, buku ke-3 dari Siklus Warisan. Mengenai ketenaran Eragon dibandingkan Harry Potter (karena ini novel fantasi yang aku rasa penggemarnya melebihi novel fantasi manapun), sangat sulit untuk dibandingkan. JK Rowling memang membuat Harry Potter sebagai cerita dongeng anak-anak sehingga siapapun akan menyukainya. Sedangkan Eragon, aku rasa bukan buku dongeng anak-anak karena banyak ceritanya yang memerlukan konsentrasi tinggi dalam membacanya dan menganalisis kejadiannya.


Berharap setelah ini bisa memiliki dna membaca Inheritance, dan, sangat berharap novel ini difilmkan lagi. Aku tetap menikmatinya. :)

-B-


*) Semua foto berasal dari Google

Jumat, 11 Juli 2014

Tentang Mata [Chapter-Puisi]


Tentang Mata




Aku tak sanggup menatap matanya, meski aku sudah mencoba berkali-kali. Mata itu bukan mata dewa, bukan juga mata malaikat.
Mata itu milik manusia biasa, tapi memberikan efek yang tak pernah biasa.
Mata itu, mata yang setajam mata pisau, mata yang keberadaannya mampu menancapkan bilah-bilah pedih dan dingin. Namun mata itu juga, mata yang seolah selalu meminta sesuatu, seperti mata kucing yang meminta belaian manja majikannya.
Sekali saja aku berani menatapnya, berbagai rasa akan menyerang jantungku sehingga ia berdetak tak beraturan dan seperti ditimpa ribuan jarum. Sebuah kombinasi nyeri yang aneh. Sakit namun ada sesuatu lain yang tak mampu membendung puncak pipi untuk merona kemerahan. Dan selalu, aku tak sanggup untuk menanggung rasa nyeri yang aneh itu.
Matanya, aku tak pernah bisa menatap matanya atau aku akan mati jika berani menatapnya. Karena nyeri itu bagai meracuni seluruh tubuhku, aku akan gemetar, dan jantung yang berdetak semakin dan semakin cepat seolah bisa meledakkannya.

Kamu, wahai pemilik mata itu. Adakah penawar untuk nyeri yang hebat ini? Tolong berikan. Agar aku hidup normal. Agar aku tak ketakutan dibawah pandangan matamu. Kamu yang memiliki mata bak mata panah Dananjaya, berikanlah penawar agar mencintaimu ataupun melepasmu tak akan mendatangkan kesakitan pada jantung ini.

Kamu wahai pemilik mata yang menandingi tajamnya mata dewa, aku lelah untuk selalu berjalan menunduk karena tak mampu menanggung pancaran matamu. Tak mampu tak menanggungnya tanpa harus menggigil hebat dan mati berhari-hari, karena matamu menyerap segalanya yang dipunyai jantung ini.

Kamu pemilik mata itu. Bisakah kau hentikan arus kenangan yang mengalir setiap ku menatap matamu? Karenanya bisa menyeretku dan menenggelamkanku pada lautan keputusasaan karena tak mampu melepaskan setiap inchi memori tentangmu.

Kamu, aku mohon dengan sangat. Lepaskan aku dari hukuman karena aku yang telah memilih laku untuk mencintaimu.

Jumat, 04 Juli 2014

11 Buku GagasMedia yang Wajib Dibaca

Hallo gengs pecinta buku? Sudah kehabisan bahan bacaan? Itu adalah hal yang menakutkan untuk para pecinta buku, karena kadang biasanya aku merasa seperti itu. Merasa sedih dan enggan berpisah saat buku yang kita baca sudah di lembar-lebar terakhir.
Okay, kali ini aku akan memberikan sedikit rekomendasi tentang buku yang bisa teman-teman baca. Sebagian sudah aku baca dan sebagian masih jadi wishlist. Jujur, aku tidak mudah tertarik dengan buku pop yang kadang ceritanya bisa ditebak (untuk genre fiksi). Bisa dibilang aku 'pilih-pilih' buku yang menurutku buku itu beda, asik, dan mengandung ilmu :). Buku yang akan aku rekomendasikan ini semuanya dari penerbit GAGAS MEDIA yang hari ini sedang berulangtahun yang ke-11. By the way, Happy Bornday :). Kenapa GagasMedia? Karena entah kenapa buku-buku mereka itu unik dan menarik. Dari covernya aja banyak yang langsung memikat hati.

Oke, nggak usah lama-lama. Inilah 11 Buku GagasMedia yang WAJIB teman-teman baca (nggak semua novel, tapi recomended):

1. Life Travelers-Windy Ariestanty
Ini buku kumpulan cerita yang membuat aku jatuh cinta pada Gagas dan membuatku terus memantau tentang Gagas. Buku ini berisi kumpulan cerita Windy Ariestanty melakukan travelling ke berbagai negara. Aku suka banget gaya tulisan mbak Windy, dan selalu saja ceritanya nancep dihati. Begitu pun tulisan-tulisan dia di blognya. Buku ini membuat aku jatuh cinta pada Mbak W.


2. Kala-Kali-Windy Ariestanty ft Vabyo
Buku dari Mbak W lagi, tapi featuring Vabyo untuk kali ini. Buku ini sampai mati-matian aku nyarinya karena waktu itu udah nggak ada di toko buku biasa tempat aku beli. Namanya juga udah jatuh cinta, aku kejarlah buku Mbak W ini :) Ini proyek duet Gagas. Isinya 2 cerita. Dan aku sukak banget :)



3. Hallo, Aku dalam Novel-Nuril Basri
Next, ini sebenarnya buku Gagas yang aku baca pertama kali. Aku baca pas SMA. Gambling banget pas beli buku ini. Tapi setelah aku baca, nggak nyesel deh. Ceritanya emang rada abstrak-absurd gimana gitu. Tapi aku suka cara Bang Nuril bercerita :)


4. Refrain-Winna Efendi
Buku angkatan Hallo, Aku dalam Novel yang bikin ngiler sampai sekarang karena belum kesampaian beli. Apa yang membuat aku suka? Covernya. Haha. Amplop biru dan hanya bertuliskan Refrain. Entah kenapa itu menarik banget buat aku. Dari SMA aku pengin novel ini, eh, sampai filnya udah dibuat belum juga kesampaian beli.


5. Kau-Sylvia L. Namira
Ini ceritanya tentang gadis yang unik banget. Dia 'ngeramal' (baca tanda-tanda alam) dengan melihat bentuk-bentuk awan diatas sana. Aneh kan? Makannya baca :)


6. Creative Writing-A.S. Laksana
Ini buku wajib abnget dibaca buat yang pengin belajar nulis. Sumpah asik ngikutin caranya.


7. Draft 1: Taktik Menulis Fiksi-Winna Efendi
Ini juga buat yang pengin belajar nulis. Sayangnya masih masuk wishlist juga karena belum kebeli :(


8. Paris-Prisca Primasari
Ini juga wishlist yang recomended. Kenapa? Karena aku mimpi bisa ke PARIS dan selalu tertarik dengan buku berembel-embel Paris. Hehe


9. Restart-Nina Ardianti
Ini buku belum aku baca. Tapi aku dan teman-teman sempat membuat aransemen lagu dari salah satu lirik di dalamnya. Kebetulan tugas aku itu nerjemahin liriknya karena pakai bahasa Inggris. Dan saat aku nerjemahin itu, beuh, dalem banget liriknya. Baca review teman-teman tentang buku ini juga menarik.


10. Lampau-Sandi Firly
Ini, buku ini darinsetting tempatnya aja udah nggak biasa. Hawa spirit tradisi kental di novel ini. Buku ini termasuk rekomendasi dari mb W juga di blognya :)



11. The Journeys 1-3
Kenapa buku jalan-jalan? Karena jadi traveler itu asik. Ini juga karena aku pengin backpackeran. Makanya buku tentang perjalanan seperti ini aku suka.




Ok, that's my recomendation book. Semoga bermanfaat :)