Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2020

Hujan Saat Ini (Puisi)

Hujan saat ini sudah berbeda

Ia tak seperti dulu

Hujan saat ini syarat kecemasan

Tidak ada nyamanmu

Tidak ada wangimu


Yang ada hanya kekhawatiran


Hujan saat ini sangat berbeda

Aku tak mengenalinya

Hujan saat ini penuh pikiran suram

Keindahannya menghilang


Hujan saat ini

                       terasa asing


Tak ada wangi rumput dan dedaunan

Tak ada wangi tanah

Tak ada wangimu


Hujan saat ini hanya tentang kebisingan

                                                                  dan gemuruh


Hujan saat ini hanya tentang kecemasan


-K-

(11/5/2020)

Selasa, 17 Mei 2016

Mungkin aku ...

Mungkin aku tak pernah bisa menjadi baik untukmu














Karena aku yang terlambat mencintaimu

Jarak

Aku tak tahu kapan bisa kembali
Saat aku kembali,
Hanya kamu yang ingin ku jumpai

Setiap langkah setiap tapak
Hanya tentangmu
Aku takkan pergi hanya karena dia
Namun aku tak mampu menaklukkan jarak antara kita

Mata bertemu mata
Hati bertemu hati
Tapi kita masih meraba tanpa tahu apakah mata dan hati bertemu dengan tepat,
saat masih ada jarak diantara kita

Satu langkah aku beranjak, dua langkah aku ingin kembali, beribu langkah justru aku berlari pergi,
saat aku tak mampu menempuh jarak antara kita

Rabu, 18 Juni 2014

Rindu [puisi]



Karena kekasih 
Mungkin aku sudah sampai 
Pada titik terhambar 
Dari rasa manis dan pahit yang ada 

Karena kasih 
Mungkin aku sudah sampai 
Pada titik lelah 
Antara mendaki dan melembah 

Karena kekasih 
Mungkin bukan cinta yang salah 
Hanya rindu kadang tak tepat dan manja 
Menghadirkan nyeri dan sendu 
Yang harus ditanggung seorang diri 

Karena kasih 
Keras kepala telah membatu 
Tentang nyeri dan sendu

Kamis, 21 November 2013

Menafsirmu [puisi]



Menafsirmu

Aku merapali namamu dan mengeja tiap lekuk wajahmu
Mencoba menafsirkan mata yang selalu lekat memandangku
Mencari-cari apa yang kau mau
memahamimu

Dan matamu selalu menghunuskan rindu
yang abu-abu
Aku tunduk pada jiwamu
namun aku masih gagal menafsirkanmu

Yogyakarta, 2013

Senin, 04 November 2013

Hujan Hari Ini [puisi]

ajiraksa.blogspot.com


jika hujan hari ini adalah cinta
aku jadi mengerti karenanya
hujan yang begitu dicintai para penyair
dengan aroma-aroma kenangan yang dibawanya
seketika menjadi badai yang sangat ditakuti
kilatnya begitu mematikan rasa
pun bila cinta itu menjadi badai

seberapa inginnya menyentuh hujan
hanya pedih oleh jarum jarum rinainya
bila ku pacu begitu cepat dan tak beraturan
lain ketika kudatangi ia perlahan
berjalan pelan bersamanya
dingin sejuk rintik gerimis
kebahagiaan
dan kenangan
yang datang menyentuhku

Jumat, 01 November 2013

Tentang yang diajarkan jarak dan waktu (puisi)

Tentang yang diajarkan jarak dan waktu

:untukmu, di kota B



Sebagaimana aku ingat tentang hujan
Yang mengirimkan badai rindu disetiap rinainya
Dan tentang samudra
Yang menyekap kenangan dalam gulungan ombaknya
Dan membenturkannya pecah pada karang
Sebagaimana aku mengingat malam-malam tak menjenuhkan
tentang dongeng perjalananmu

sebagaimana aku begitu dalam mengingatmu
dalam kutipan sajak seorang penyair dari kampungmu
yang selalu kau gemakan dalam ceruk ceruk hatiku
sejak kau angkat lagi sauhmu dan berlayar pada samudramu yang luas

‘Karena jarak mengajarkan rindu’[1]
Begitu kau kutip kerinduan penyairmu
Dan kau sadur untuk hatimu yang merindukan kisah dan perjalananmu
dan jiwa-jiwa yang menemani dalam tiap labuhmu

Dan kini aku mengutip penyairmu
Mengutip rindu yang diajarkan jarak, dan dirimu
Ku sadur di malam-malam yang kehilangan cerita tentangmu
Meniupkannya pada angin pantai utara dan senja yang begitu jingga
Berharap ia sampai di kotamu dan menjumpaimu dalam desirnya
Tak lupa ku titipkan pula pada hujan November yang akan menemuimu dalam rinainya

Dan hujan November telah berubah
Musim ke tiga ini tak lagi sama
Tak hanya gunung dan samudra
Waktu pun menyemai jarak diantara kita

Karena waktu mengajarkan untuk mengenang



Jogja, saat mengenang perjumpaan denganmu


[1] Kutipan sajak ‘Pledoi Malin Kundang’ karya Indrian Koto

Minggu, 21 April 2013

Aestus Kehidupan [puisi]



Senja turun diufuk barat
kuamati dari tempat air bertransisi
menghayati aestus kehidupan
yang penuh endapan kenangan

Bukan,
bukan hanya kenangan
masih ada arus disini
arus kehidupan
bagi raga yang t'lah renta
setelah menelusuri waktu
yang menjadi purba

Kehidupan mulai payau
seiring purbanya kenangan
dengan sayatan-sayatan
yang mulai terasa perih oleh garam
yang sedikit demi sedikit
menggantikan nyawa yang bening
dan raga ini mulai terbiasa menahan
pahit dan pedih kenangan

[petikan rangkaian kalaborasi "Air Kehidupan"]