Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Agustus 2014

Buku ke-3 Siklus Warisan Eragon: Brisingr [Review]

Setelah lama tidak menulis, penyakitnya pasti selalu banyak hal menumpuk yang ingin dituliskan. Heh, baiklah. Pelan-pelan dan satu persatu dulu :)

Kali ini tentang satu novel fantasi yang baru saja aku selesaikan :)

BRISINGR!



Ya, buku ketiga dati siklus empat warisan Eragon. Bisa dibilang aku sudah agak lupa bagaiman detailnya buku pertama dan kedua (Eragon dan Eldest) karena sudah lebih dari tiga tahun lalu aku membacanya dari buku pinjaman dan tak bisa membaca ulang. Peminat Eragon memang tak sebanyak peminat Harry Potter. Tapi untukku novel ini tetaplah menjadi novel fantasi yang harus aku khatamkan membacanya. Hehe. Brisingr yang aku beli ini merupakan buku cetakan keempat, dicetak pada tahun 2012 (dan aku baru memberinya di tahun 2014). Aku memutuskan membeli karena tidak ada teman yang memiliki buku ini, jadilah aku harus membelinya sendiri. Setelah sekian lama akhirnya aku mampu membeli kelanjutan novel yang aku baca itu dengan susah payah menabung, menyisihkan uang disela-sela kebutuhan kuliah dan dengan semangat mengoleksi novel :)


Setelah sekian lama banyak hal yang tak bisa kuingat dalam dua buku sebelumnya, tapi pada ininya aku masih ingat bahwa Eragon dan Saphira akhirnya melawan saudaranya sendiri yaitu Murtagh dan Si Naga Merah Thorn. Dalam Brisingr diceritakan bagaimana kelanjutan kaum Varden dan Eragon serta seluruh penduduk Alagaesia berjuang. Kaum Varden kini dipimpin Nasuada karena Ajihad, ayahnya telah tewas terbunuh.Dengan kemampuan yang dimilikinya Nasuada berusaha untuk memimpin Varden seperti ketika ayahnya memimpin. Nasuada dibantu oleh Jordmund, penasehatnya dan Raja Orin dari Sudra. Di buku ke tiga ini Eragon juga memiliki misi khusus di tengah-tengah kaum kurcaci untuk mempercepat pemilihan raja baru mereka (raja lama juga tewas di pertempuran Farthen Dur) dan memastikan keberpihakan kaum kurcaci untuk Varden melawan Gallbatorix. Selain itu di tanah kamu kurcaci, Saphira juga berusaha untuk menepati janjinya memperbaiki Isidhar Mithrim, Bintang Mawar kebanggaan kaum kurcaci yang hancur saat pertempuran melawan para urgal dan tentara Gallbatorix.

Kini kaum Urgal sudah berjuang bersama kaum Varden, Ratu Elf Islanzadi sedang pergi ke sebuah tempat untuk juga mencari cara menghancurkan Gallbatorix, dan Eragon berjuang mendapatkan dukungan dari kaum Kurcaci. Sebelum itu Eragon dan Roran juga berada dalam sebuah perjalanan mengerikan menuju Helgrind untuk menyelamat Katrina (dan Sloan, namun akhirnya disembunyikan Eragon di du Welden Varden sehingga Katrina dan Roran mengira Sloan sudah meninggal). Eragon akhirnya sukses mendapatkan dukungan kaum Kurcaci dan Orik (saudara angkatnya) yang kemudian menjadi Raja kaum Kurcaci, Saphira berhasil memperbaiki Isidar Mithrim, Roran berhasil membuktikan kehebatannya memimpin kaum Varden untuk bergerilya melawan tentara Galbatorix, dan Arya selalu membantu Eragon. Dalam buku ini muncul 12 Elf (dipimpin Bloodghram) yang dikirimkan Islanzadi untuk membantu Eragon. Selain itu Eragon juga memaksa Nasuada untuk mengizinkannya ke du Weldenvarden untuk menuntaskan belajarnya dengan Oromis dan Glaedr. Di du Weldenvarden akhirnya Eragon memiliki pedang penunggang lagi setelah Zar'roc dirampas Murtagh. Pedang baru Eragon ia beri nama Brisingr (api-dalam bahasa kuno). Brisingr memiliki keunikan sendiri. Dalam prosesnya Rhunon (penempa pedang penunggang terbaik dari kaum Elf) yang sudah berjanji tidak akan menempa pedang lagi akhirnya mengerjakan pedang tersebut menggunakan badan Eragon yang pikirannya dikendalikan olehnya. Setelah jadi setiap Eragon menyebutkan nama pedang itu-tanpa bermaksud mengeluarkan sihir- selalu keluar kilatan api biru dari Brisingr. Itulah keistimewaan dari pedang Eragon yang kini berwarna biru, sama seperti sisik Saphira.



Akhir dari buku tersebut adalah Oromis dan Glaedr keluar dari persembunyiannya untuk melawan langsung Gallbatorix karena merasa Eragon telah cukup mendapatkan ilmunya dan setelah mewarisi Eldunari -jantund dari jantung- milik Glaedr yang memiliki banyak memoro dan pengalaman Oromis dan Glaedr. Selama Eragon membantu kaum Varden menyerang Feinster yang semula telah diduduki tentara Gallbatorix, Oromis melawan Murtagh di Urubaen. Gallbatorix hadir melalui raga Murtagh melawan Oromis dan akhirnya Oromis dan Glaedr tewas.

Itulah akhir dari buku ketiga ini. Buku setebal 850 halaman ini menyajikan 'kegelapan' yang semakin dirasakan di Alagaesia. Semua ras merasakan kekejaman Gallbatorix. Akan tetapi selama aku membaca 850 halaman ini,alur yang terjadi terlalu monoton. Semua terkesan teknis dan perdebatan-perdebatan menjemukan dalam peperangan. Strategi yang juga terlalu teknis namun masih kurang motivasi dan alasan dibalik tindakan yang terjadi. Suspend konflik yang ada tidak se-tarik-ulur buku-buku sebelumnya. Barulah pada halaman 689 akhirnya aku bisa mendadak berhenti membaca dan benar-benar terbawa masuk dalam diri Eragon. Saat akhirnya Eragon tahu bahwa ayahnya adalah, BROM. Ada perasaan bahagia dan lega yang ikut mengalir mengetahui 'kenyataan' itu. Beberapa saat aku menikmati keadaan lega dan bahagia tersebut sebelum akhirnya aku membaca lagi. Ya, buku ini tetap harus ada walaupun suspend dalam bukit-bukit konfliknya masih kekurangan tegangan. Selain itu satu lagi kelemahan buku ini (terjemahan Indonesia cetakan ke-4 dari penerbit Gramedia) adalah masih adanya beberapa kata yang miss dalam kegiatan editting sehingga agak mengganggu ketika membaca.



Ya itulah tadi Brisingr, buku ke-3 dari Siklus Warisan. Mengenai ketenaran Eragon dibandingkan Harry Potter (karena ini novel fantasi yang aku rasa penggemarnya melebihi novel fantasi manapun), sangat sulit untuk dibandingkan. JK Rowling memang membuat Harry Potter sebagai cerita dongeng anak-anak sehingga siapapun akan menyukainya. Sedangkan Eragon, aku rasa bukan buku dongeng anak-anak karena banyak ceritanya yang memerlukan konsentrasi tinggi dalam membacanya dan menganalisis kejadiannya.


Berharap setelah ini bisa memiliki dna membaca Inheritance, dan, sangat berharap novel ini difilmkan lagi. Aku tetap menikmatinya. :)

-B-


*) Semua foto berasal dari Google

Selasa, 28 Mei 2013

Lalita: Misteri Borobudur dan Freud (resensi)




Lalita: Misteri Borobudur dan Freud


Judul             : Lalita (Seri Bilangan Fu)
Pengarang     : Ayu Utami
Penerbit         : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Ukuran          : 200 x 135 cm
Halaman        : 256 halaman 
Harga            : Rp50.000,-

Lalita merupakan buku kedua dalam serial Bilangan Fu. Menginduk pada fiksi Bilangan Fu yang menjadi buku ke-nol, kemudian Manjali dan Cakrabirawa sebagai buku pertama, dan Lalita-lah yang menjadi buku kedua. Serial ini direncanakan oleh Ayu Utami akan ada 13 buku (satu buku induk dan 12 buku anak), sesuai dengan idiomnya tentang Bilangan Fu/Hu. Benang merah serial ini hingga buku kedua tetap pada tiga tokoh utama yang oleh penulisnya disebut sebagai iblis (Sandi Yuda), manusia (Marja Manjali), dan malaikat (Parang Jati). Masih meneruskan cerita petualangan dari ketiga tokoh tersebut, namun kali ini ditambah dengan adanya tokoh Lalita/Ambika seorang wanita dengan makeup begitu tebal namun anggun yang begitu menggilai Budha, Borobudur, dan pemilik galeri lukis; Jataka/Janaka, saudara Lalita yang begitu berambisi ingin melenyapkan Lalita; serta Jinseng yang  diceritakan sebagai agen rahasia Cina yang ditugaskan untuk merebut perkamen yang dimiliki oleh Lalita. Perkamen tersebut berisi perjalanan hidup Anshel, kakek Lalita yang mendalami theosofi hingga ia menemukan teori Kymalogi atau teori tentang gelombang yang dimasa depan begitu dicari-cari.
Dalam buku ini Ayu Utami masih mempertahankan untuk menjalin alur ceritanya berdasarkan pengalaman spiritual serta riset yang ia lakukan. Dengan keahlian menyulam fakta dan fiksi menjadi jalinan cerita yang begitu apik dan begitu nyata sehingga kita tak bisa membedakan bagian mana yang merupakan rekaan dan bagian mana yang merupakan kejadian asli (paling tidak menurut sejarah).
Ayu Utami memang terkenal sebagai penulis fiksi yang mengandalkan narasi kewartawanannya. Ia seperti menuliskan sejarah sesuai versi risetnya dengan dibumbui romantisme yang erotis dan spiritualisme serta dibungkus secara misterius.  Ayu Utami sendiri mengatakan ia selalu menulis buku untuk kapasitas pembaca yang berbeda-beda, maka dari itu Lalita dibuat lebih ringan dari Bilangan Fu, akan tetapi tidak lebih ringan dari Manjali dan Cakrabirawa maupun trilogi Cerita Cinta Enrico (Parasit Lajang, Cerita Cinta Enrico, Pengakuasn Eks Parasit Lajang). Dan menurut saya bobot buku ini berimbang dengan dua buku Ayu Utami yang lain yaitu Saman dan Larung, hanya latar belakangnya saja yang berbeda.
Sebagai pembaca Ayu Utami saya cukup mengerti mengapa buku ini tidak dibuat seberat Bilangan Fu baik dari segi isi maupun fisik. Ayu Utami tetap berpedoman bahwa Bilangan fu adalah induk. Meskipun begitu, isi dari Lalita ini tidak kalah menarik dari Bilangan Fu maupun buku yang lain. Membaca Ayu Utami tetap saja seperti sedang belajar sejarah dengan cara yang lebih menyenangkan. Membaca buku-bukunya membuat saya berangan-angan andai saja buku-buku literatur sejarah yang digunakan dibangku sekolah dibuat semenarik ini ( tentunya dengan tidak menghadirkan bumbu erotisme), maka akan banyak lagi peminat untuk menggali terus sejarah yang terjadi disekeliling kita. Bilangan Fu tidak mewajibkan kita membacanya dimulai dari buku ke nol. Jika kita berminat dan ketakutan membaca Bilangan Fu yang dikatakan begitu berat, Lalita bisa kita jadikan gerbang untuk memasukinya.
Ketika membaca Lalita, ada beberapa nuansa berbeda yang akan kita dapat dibandingkan dengan dua buku Bilangan Fu sebelumnya. Jika Bilangan Fu dan Manjali dan Cakrabirawa hadir utuh sebagai nuansa sejarah nusantara, Lalita mencampurnya dengan fakta sejarah dari negeri yang jauh dari nusantara. Pada bagian yang menceritakan Anshel, kakek dari Lalita ketika kecil hingga sebelum ia sampai ke Magelang kita seperti diajak untuk membaca sebuah novel terjemahan asing. Saya sampai lupa bahwa buku yang saya pegang adalah karangan Ayu Utami yang sedang bercerita tentang Yuda dan kawan-kawan. Ayu Utami merangkai perjalanan Anshel dengan begitu hidup.Padamulanya Freud dan Jung begitu jauh dari pemikiran saya. Namun kel
as psikoanalisa yang diikuti Anshel bersama dengan Jung dikelas Freud terasa begitu nyata didepan mata. Hingga akhirnya Anshel yang mengikuti kelas Freud bisa tiba di Magelang, sebuah tempat yang merupakan bagian dari nusantara dan begitu dekat dengan saya. Ayu Utami berhasil merangkaikan hal yang mulanya begitu jauh menjadi sangat dekat dengan alur yang logis dan membuat kita  berdecak kagum.
Yang menarik dari Lalita ini adalah konsepsi Ayu Utami mengenai Hindu dan Budha yang selama ini sering lebur karena masa jayanya yang bersamaan di nusantara ini coba untuk dipisahkan melalui pikiran tokoh Lalita/Ambika dan Jataka/Janaka.
Dari segi kekurangan, menurut saya hanya ada satu kekurangan dari buku ini yaitu jumlah halaman yang tidak sebanyak Bilangan Fu maupun Manjali dan Cakrabirawa. Hal menarikk yang disampaikan dan dikaitkan dalam buku ini begitu bayak sehingga dengan jumlah halaman yang dituliskan oleh Ayu, buku ini terkesan memaksakan untuk memadatkan materi yang ada.
Jika ada lima bintang untuk rekomendasi pembaca, saya memberikan  empat bintang untuk novel karya Ayu Utami yang satu ini terkait apa yang ada didalamnya. Buku ini sangat menarik untuk dibaca dan menambah wawasan kita tentang khasanah budaya Nusantara.