Kamis, 17 April 2014

Mishbah Jalan-jalan Edisi GembiraLokaZoo [a chapter]


Demi apa Mishbah tahun ini versinya jalan-jalan setelah dua tahun lalu berlabel 'ngamen akustik dan performing art'. Bisa jadi tahun ini Mishbah alih genre-kah? Jadi komunitas jalan-jalan mungkin? Komunitas hangouts? Haha...

Ini kesekian kalinya Mishbah hangout bareng. Kali ini benar-benar hangout karena kita sama sekali bukan pergi dalam rangka melihat pementasan. Bukan juga family trip (ehm, iyakah?). So, setelah tanggal 7April2014 kemarin kita mengadakan sebuah perhelatan (Pentas Laboratory dan memperingati hari jadi Mishbah), tadi adalah saatnya kita merefresh otak. Lumayanlah, sponsorship kita kemarin keren jadinya kita dapat vocer jalan-jalan di Gembira Loka Zoo. Hahaha...

And ing eng..... Karena aku yang pertama kali sampai GLZoo-nya, aku deh yang pertamakali syok liat pemandangan yang ada. Ehm, bis besar semua. Sepertinya ini sedang bulannya anak sekolahan (tepatnya anak TK) liburan. Tapi dimana-mana jadi warna-warni kayak lolipop. Ada yang sragamnya pink, ijo, kuning, ungu, merah, biru, dan lain-lain. Haha... Hangout kita kali ini barengan sama anak TeKa. Tapi teman, kalian nggak kalah seru kok dari mereka. Haha... (Justru kalian yang lebih malu-maluin :/ )

Next, ini dia beberapa kelakuan kita disana








*) semua foto adalah koleksi pribadi TeaterMishbah

Rabu, 16 April 2014

Siang di Golden Gate [cerpen]


gdefon.com


Aku berjalan menyusuri jalan berkabut ini. Didepanku lautan seperti tak berujung. Hanya Golden Gate yang menyadarkan bahwa ada ruang lain setelah air yang maha takberujung itu. Matahari menyusup dicelah-celah kabut yang tebal. Ini musim panas. Tapi aku di San Fransisco. Kueratkan ikatan syal dileher. Aku masih berjalan, ringan, seolah-olah ringan. Kuhirup dalam-dalam udara San Fransisco. Dingin. Menusuk. Hampir aku tersedak saking sesaknya. Tapi tak bisa mengalahkan sesak dari dalam.
Aku terus berjalan dan menghampiri tumpukan kotak peti kemas tak terpakai dan duduk diatasnya.
"Golden Gate, sedingin inikah kau tiap musim? Atau, hanya kali ini saja kau begitu dingin?"
"Hanya di musim panas tempat ini menjadi begitu dingin. Ini, kopi hangat."
"Eh, Hans, terimakasih." Aku mengambil gelas dari tangan Hans.
"Saat dingin, disini justru tak sedingin ini. San Fransisco memang unik."
"Kau pernah kesini sebelumnya?"
"Belum. Diandra yang menceritakannya padaku."
"Ah,maaf. Aku tidak bermaksud."
"Sudah cerita lama. Tak apa. Bagaimana? Ada kabar dari Cakra?"
Aku hanya menggeleng.
"Hai, tersenyumlah. Golden Gate menyambutmu dengan manis. Kau mau menyia-nyiakannya dengan terus menunduk seperti ini?"
Hans berusaha menghiburku. Diceritakannya keunikan dan keindahan San Fransisco yang belum aku ketahui, termasuk gedung pertunjukan dimana esok aku dan dia akan melihat drama kolosal ternama.
***
Dua minggu sebelumnya.
Halo kamu, apakabar? Dimana kamu sekarang? Masihkah merasakan bahwa ada seseorang menunggumu? Atau justru kamu telah lupa bahwa pernah membuat seseorang bisa bertahun-tahun rela menunggumu?
Terkadang aku yakin bisa bertahan. Tapi tak jarang aku ingin menyerah karena harus berjuang sendiri, dan karena kenyataan bahwa kau pergi.
Aku tekan tombol enter, dan sedetik kemudian apa yang baru saja aku ketik muncul diberanda sebuah jejaring sosial. Aku pikir kali ini sama saja dengan catatan yang sudah-sudah. Angin, jejaring maya, dan gelombang apapun tak ada yang pernah bisa menyentuh telinganya dan berkabar bahwa aku mencarinya. Aku masih menyimpan rindu untuknya. Aku rindu dia.
Ting!
Sebuah tanda pembaharuan menyala. Ada namanya disana. Benar-benar namanya. Cakra Sadwikarna. Dan sebuah pesan.
Cakra: apa kabar? Masih ingat aku?
Pertanyaan bodoh pikirku. Tentu aku tak akan lupa. Kamu yang setiap hari ada dalam pikiranku, dalam kecemasanku, dalam hatiku.
Aku: tentu. Tak mungkin aku lupa padamu. Kabarku baik. Kau?
Cakra: aku juga baik. Sekarang aku sedang dalam perjalanan berlayar mengelilingi Amerika.
Aku: Oh ya? Dimana kau akan berlabuh?
Cakra: tujuan pertama Amerikanya Amerika. Amerika Serikat.
Aku: berapa lama kau akan disana?
Cakra: lumayan lama. 2minggu. Bisa jadi lebih.
Aku: oh ya? 2minggu dari sekarang aku ada liputan ke San Fransisco.
Cakra: benarkah? Want to meet? Aku sungguh rindu pada rumah. Sudah lama aku tak pulang. Sungguh membahagiakan jika kau membawakanku sesuatu dari rumah.
Aku: dengan senang hati. Kau ingin aku bawakan apa?
Cakra: apapun. Yang bisa menuntaskan rinduku pada rumah.
Aku: baiklah. Akan aku siapkan yang terbaik yang dipunyai oleh rumah. Agar kau juga ingat untuk pulang. Dimana kita bertemu?
Cakra: sekitar Golden Gate.
Aku: bagaimana aku bisa menghubungimu?
Cakra: aku yang akan menemukanmu.
Seketika setelah balasan itu sampai, nyala hijau pada namanya berubah abu-abu. Setiap hari menjelang keberangkatanku aku selalu membuka akunnya. Tak ada tanda-tanda keberadaannya setelah hari itu. Dia menghilang. Lagi.
Aku mempersiapkan segala keperluan, termasuk apa yang diminta Cakra. Aku bawakan beberapa makanan khas rumah yang awet beberapa hari, tas selempang dengan lukisan batik, dan sebuah gelang yang aku rangkai sendiri. Semua ku kemas rapi dalam box berwarna ungu.
****
"Hans, besok hari terakhir kita disini. Sudah tiga kali kita datang ke tempat ini." Kataku mulai puturg asa setelah melihat akun milik Cakra. Berharap ia mengabarkan sesuatu dari sana.
"Sabar Aela. Mungkin dia sedang ada urusan mendesak dan terlambat menemuimu."
"Apa kamu akan berkata bahwa aku bodoh selama ini? Sekian tahun berharap pada hal kosong dan mempertahankan sesuatu yang sebenarnya tak ada. Menjadi begitu bersemangat saat tiba-tiba ia muncul lagi dan meminta sesuatu padaku, dan aku lupa bahwa itu juga yang dulu ia lakukan padaku. Memintaku tak menjauhinya, tapi justru dia yang pergi. Bukankah karena aku terlalu bodoh hingga harus jatuh pada lubang yang sama dan tak bisa mewaspadainya?" Tiba-tiba tangisku meledak. Aku tahu ini tumpahan air mata yang telah berusaha ku bendung sekian lama. Ini bukan hanya karena lelah berjam-jam menunggu disini atau kelelahan yang sama tiga hari yang lalu. Ini adalah kelelahan yang terakumulasi sekian tahun.
"Hans, aku lelah." Kataku disela isak tangis yang mulai tersedak-sedak.
"Ayo kita pulang. Semakin sore cuaca disini semakin dingin. Kita harus bersiap untuk besok. Tentu kamu tak ingin apa yang kamu impikan selama ini rusak begitu saja kan? Pikirkanlah bahwa hanya untuk pertunjukan besok kau datang kesini."
Hans mencoba untuk memapahku.
"Tunggu. Aku tak boleh membawa ini lagi." ku keletakkan box ungu itu diatas peti kemas. Ku ambil juga gelang dari kantong tas kulitku dan kuletakkan diatas box.
"Aku tak ingin membawanya lagi."
Aku dan Hans berjalan menjauhi dermaga tanpa sadar ada mata yang terus mengamatiku sampai hilang diujung deretan truk pengangkut cargo. Pelan-pelan sosok itu mendekati apa yang aku tinggalkan diatas peti kemas.
"Aela. Maaf aku menuntaskan rinduku seperti seorang pecundang. Dan dengan egois membiarkan rindumu tak tertuntaskan. Aku terlalu jahat untuk terus kamu rindukan. Aku tak tega jika harus bertemu dan kau menangkap sesuatu pada jari kiriku."
Dibukanya box ungu itu dan dilihatnya apapun yang telah dipersiapkan Aela untuknya. Termasuk sebuah gelas plastik ice cream yang tak asing baginya. Ia ingat, itu adalah gelas ice cream dimana Aela bisa menyuapinya dengan malu-malu dan gembira. Sekian tahun lalu.

(uploded on Thumbstory on 12th April 2014. Id thumb: belasuryani)

Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta [Review Pementasan]




Ada yang tidak tertarik melihat judul diatas? Saya rasa tidak. Dimana ada Cinta, disitu manusia melekat. Siapa makhluk di dunia ini yang tak ingin dicintai? Siapa yang tak ingin mencintai? Tentu dengan harapan cinta itu dibalas. Intinya siapa yang tak ingin saling bercinta? Ah, maksudnya siapa yang tak ingin SALING mencintai. Iya, saling. Karena berbalas itulah yang paling membahagiakan dalam hal cinta.

Lihatlah gambar dibawah ini.


Semakin tertarik? Begitu manis bukan? Jika itu permen, mungkin akan menjadi permen termanis yang saya rasakan. Dari judul saja sudah terbayang betapa ranumnya buku itu. Iya, itu memang bukan judul tulisan saya. Itu adalah Judul sebuah kumpulan cerpen terbaru karya Puthut EA. Judul yang pasti sudah membuat banyak orang bersimpati, apalagi bagi orang-orang yang sudah merasakan bagaimana harus berusaha (berkorban) untuk cintanya.Terimakasih padanya (entah siapa) yang mempertemukan saya dengan buku itu, walaupun belum saya baca. Namun, yang terpenting adalah yang akan saya bahas ini.

Beberapa jam yang lalu saya berada disebuah auditorium kecil yang disulap menjadi ruang pertunjukan yang begitu romantis. Nyala lampu biru, sebuah jalinan dari bambu yang cukup untuk kita berbaring santai seperti di pinggir pantai, dua papan kayu bercat putih yang menggantung dan beberapa makanan dan minuman diatasnya, bangku unik berkaki tiga yang dicat putih, panggung yang berwarna putih. Sungguh seperti melihat minimalist interior design dari sebuah rumah. Dibelakangnya ada plastic fiber yang transparan dan dipotong meniru liuk gelombang siap memantulkan cahaya lampu dari atas. Saya yakin seorang arsitek telah menyulap tempat yang tadinya gelap dan sempit itu menjadi sedemikian rupa romantis dan luasnya. Cahaya dimana-mana. Setting minimalis yang menggugah hati dan fresh.

Saya kira malam ini saya akan melihat sebuah pertunjukan monolog mengingat begitu minimalisnya setting. Ya, sebelum masuk ruangan dan sebelum-sebelumnya saya tidak begitu memperhatikan pertunjukan apa yang akan saya tonton. Pokoknya saya hanya ingin nonton. Ternyata saya salah. Teater Gardanalla malam ini mempertontonkan suguhan yang begitu apik dari gabungan beberapa cerita yang ada dalam kumcer Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta. Sejatinya malam itu Puthut EA sedang mengadakan suatu syukuran atas 15 tahun yang ia jalani dalam bidangnya, menulis. Puthut EA memang termasuk dalam penulis yang produktif. Di undangan yang saya pegang saja seolah menjadi katalog buku karyanya. Ada 45 buku.

Kembali pada pementasan, Joned Suryatmoko, sang sutradara menggarap pementasan ini dari potongan-potongan yang menggantung dalam kumcer Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta. Dikatakannya, 
"Untuk kepentingan pementasan, saya memilih tiga naskah yang bisa dipentaskan dengan syarat: ia sudah punya peristiwa yang tak rumit dipanggungkan dan sudah memiliki dialog. Saya sendiri hanya sekedar menyalin tempel dialog terseebut dan menambah penunjuk pengadeganan."
Bahkan oleh Joned, nama yang dalam cerpen adalah anonim tetap dibuat anonim dengan penggarapan unik, yaitu seperti menyebutkan sebuah nama namun ada bunyi audio sensor dibelakangnya. 

Terpilihlah tiga cerita yang digabungkan yaitu Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta, Obrolan Sederhana, dan Laki-laki yang Kusentuh Rambutnya. Pada awal cerita dihadirkan Obrolan Sederhana lewat dua tokoh laki-laki yang tak sengaja bertemu disebuah villa karena hujan. Laki-laki A berteduh diberanda villa Laki-laki B, dan kemudian diajaknya untuk singgah sejenak dan meminum kopi hangat. Mereka yang awalnya tak saling kenal tiba-tiba terlibat sebuah percakapan sederhana, dan aneh. Bahkan laki-laki B sampai bercerita pada orang yang baru saja dikenalnya tentang kegundahannya hingga lari menyendiri ke sebuah villa. Ia gundah akan kekasihnya. Ditengah-tengah adegan muncul biduanita yang disini menjadi tokoh, namun lepas dari dua tokoh laki-laki tadi. Biduanita menyanyikan lagu gubahan sendiri dari penggalan cerpen Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta sebagai penyambung cerita (bagian dalam cerita) yang diiringi lampu kerlap-kerlip seperti warung dipinggir pantai. Kemudian datang seorang wanita lain yang hanya mengenakan sarung pantai dan atasan putih berlengan pendek membawa sebuah buku. Ia menghampiri ayunan yang menggoda itu. Dibacanya buku yang ia pegang (kumcer Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta) dan dibacanya keras-keras pada bagian Laki-laki yang Kusentuh Rambutnya. Disebelahnya hadir Laki-laki B. singkat cerita, dari mereka yang awalnya tak saling kenal, bertemu di penginapan pinggir pantai, akhirnya menjadi (sangat) akrab. Dan tibalah sore itu saat si wanita harus pergi ke stasiun untuk kembali. Laki-laki B mengantarkannya, dan dengan lambaian tangan mereka berpisah. Si wanita membawa kenangan tentang laki-laki itu. Diakhiri dengan lantunan lagu lagi dari biduanita tadi.
Kau pergi, takkan kembali.

Begitulah ceritanya tentang pementasan 'Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta' yang dimainkan oleh Febrinawan 'Giant' Prestianto, Ikana Asthi Nawatri, Rendra Bagus Pamungkas, dan Siti Fauziah. Sebuah bentuk pementasan yang baru bagi saya. Selain romantis, kesan klasik juga saya dapatkan meskipun settingan dibuat sedemikian modern. Mungkin karena khas biduanita dengan nyanyian romantis ala-ala jaman dulu. Yang pasti saya begitu menikmati pementasan malam hari tadi, sampai untuk berkedip pun enggan.

Selamat.

Selasa, 15 April 2014

Berganti wajah baru. Ya, karena stuck itu membosankan :)
Bukan, bukan karena apa-apa. Bukan karena tidak konsisten atau tidak setia. Terkadang perubahan itu diperlukan, dan memang diperlukan. Untuk suasana saja. Apapun itu, jika ada yang berubah tetap pengaruh lho dihati :)
Ya, seperti halaman ini. Bosan dengan yang polosan. Hari ini aku memutuskan untuk mengganti latar yang biasanya putih-biru menjadi sebuah gambar bangunan yang maha megah. Golden Gate yang bukan emas. Golden Gate yang maroon. Golden Gate dengan kabut yang setia lekat padanya sepanjang tahun. Golden Gate yang, ah, tempat yang tak kalah romantis dari Menara Eiffel yang selalu dipuja-puja para pelaku cinta. Golden Gate dalam cerita, dalam gambar, dan dalam film-film khas Amerika itu konon katanya keindahannya tidak menipu. Apa yang dilihat melalui gambar, apa yang ada dalam film, seperti apa romantisnya tempat itu diceritakan, ya begitulah Golden Gate (dan San Francisco) pada kenyataannya.
Ya, karena sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono dan gubahan puisi tersebut menjadi musik puisi, ruh romantisme Golden Gate seakan menjadi melekat dalam benakku. Seperti ini puisinya

Kabut yang likat
dan kabut yang pupuh
lekatkan gerimis pada tiang-tiang jembatan

matahari menggeliat dan kembali gugur
tak lagi dilangit

-B-
15/4/14

Rabu, 02 April 2014

Press Release Pementasan Lakon Nyonya-nyonya oleh Teater Mishbah [Press Release]


Press Release Pementasan Lakon Nyonya-nyonya oleh Teater Mishbah

Pentas Laboratory Teater Mishbah hadir kembali. Tahun 2014 ini merupakan pementasan laboratory ke-4 bagi Teater Mishbah yang rutin diadakan semenjak tahun 2010. Pentas ini digagas dalam rangka pentas perdana anggota baru Mishbah yang dipertunjukkan untuk khalayak umum. Penampil yang akan hadir dalam pertunjukan kali ini adalah anggota baru Teater Mishbah angkatan 2013.
Tahun ini, Teater Mishbah yang merupakan komunitas teater kampus dengan mayoritas anggota berasal dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY ini mencoba untuk mengangkat sebuah naskah yang berbeda dari ketiga pementasan sebelumnya. “Lakon Nyonya-nyonya” karya Wisran Hadi dipilih untuk dipentaskan pada tahun ini.
Lakon Nyonya-nyonya merupakan sebuah naskah berlatarkan cerita Minangkabau pada tahun80 hingga 90an. Tak banyak naskah drama yang memiliki banyak lakon perempuan, berbeda dengan naskah Nyonya-nyonya ini. Dalam naskah ini justru kehadiran perempuan menjadi titik fokus utama. Perempuan-perempuan lah yang membangun suasana dan problem dalam tiap adegan. Selain itu dalam naskah ini Wisran juga berani untuk menghadirkan sebuah permasalahan yang masih jarang orang berani untuk mengungkapkannya yaitu tentang sebuah harta pusaka dari suatu kaum (suku), karena dalam adat Minang sendiri harta pusaka merupakan hal yang sakral dan jangan sampai ada penyalahgunaan didalamnya.
Diceritakan bahwa seorang nyonya muda sedang dicari-cari oleh para kemenakan suaminya untuk mencari kejelasan uang tanah pusaka kaum mereka yang dijaga oleh si datuk (suami nyonya). Kebetulan Datuk sedang sakit dan sudah lama berada di tumah sakit. Hal itu membuat para kemenakan lebih mendapatkan celah untuk menekan istri muda datuk mereka.
Di sisi lain, setiap hari Nyonya kedatangan tamu tak diundang yaitu Si Tuan pedagang barang antik. Tuan dengan segala insting dagangnya dan adanya dorongan dari sebuah perasaan terpendam melakukan berbagai cara untuk bisa menaklukkan Nyonya, termasuk membeli empat marmer teras Nyonya dengan harga yang tinggi. Disaat Tuan melancarkan segala rayuannya pada Nyonya, ia tak menyangka bahwa istrinya yang biasanya hanya menunggu dirumah muncul dirumah Nyonya dan mendapatinya disana. Istri marah dan keluarlah semua permasalahan yang ia hadapi selama ditinggal suaminya bekerja. Istri mengatakan bagaimana anak-anak mereka saling berebut kursi, bahkan anak tetangga pun diduduki kerena itu yang dianggap pantas sebagai kursi.  Problem perebutan kursi ini menjadi hal yang juga pas ditampilkan untuk sekarang ini mengingat sekarang kita sedang berada ditengah-tengah suasana yang dikatakan sebagai ‘pesta politik’. Berbagai masalah yang tumpang tindih juga menjadi hal yang menarik dari naskah karya Wisran untuk divisualkan.
Didukung dengan artistic yang digarap mandiri oleh Teater Mishbah, Lakon Nyonya-nyonya yang disutradarai Bela ini akan hadir besok 7 April 2014 pukul 19.00 di Stage Tedjakusumo FBS UNY.
“Pementasan ini boleh dihadiri siapapun yang ingin menonton dan GRATIS,” begitu kata Teguh, Pimpro dari pementasan ini.
Sekian, mari melestarikan budaya! Mari terus berkarya!
Salam Budaya!

(bela)

Rabu, 22 Januari 2014

Ketika Penerbit Berbicara [catatan]



Seperti biasa saat itu aku sedang asik scrolling twitter, mencari-cari hal yang menarik di timeline. Selalu menarik ketika nama beberapa orang (baca: penulis) itu muncul, apalagi kalau muncul dengan link blog pribadi mereka dan hestek #newpost. Dua hari lalu aku menemukan postingan menarik ini di timeline. Postingan dari Mba' Windy. Sayangnya masih terpenggal-penggal pada batasan 140 karakter. Untuk itu sekarang aku mencoba mentranskrip dan menyatukannya agar lebih enak dibaca karena sayang kalau kicauan ini lewat begitu saja.
Kata @benzbara_ tentang tulisan Mba' W ini lewat akun twitternya :
siapapun yang memiliki keinginan untuk menjadi seorang penulis, bisa bawa tweets @windyariestanty sore ini. #penting
 Sebelumnya, kenapa kicauan-kicauan itu menarik? Karena beberapa waktu lalu aku sempat mendengar sebuah kabar tak sedap dari seorang penulis baru. Siapa dia? Pasti teman-teman yang sedang belajar menulis dan suka blog walking tahu. Dikatakan bahwa buku yang diterbitkan penulis itu bukan buatannya namun diakui miliknya. Selain itu penulis ini dikatakan sebagai selebtwit (waktu itu aku nggak mudeng apa itu selebtwit). Entah benar entah tidak kabarnya, tapi sangat menyedihkan menurutku jika seperti itu kenyataannya. Lalu Karena kabar tak sedap di dunia tulis menulis itu aku juga mencoba untuk jalan-jalan di blog yang berkaitan (membahas) tentang fenomena itu dan fenomena selebtwit. Yang aku serap dari membaca sana-sini tentang selebtwit itu orang yang rajin banget ngetwit tiap hari, followersnya mencapai angka ratusan ribu, banyak retweetannya. Nah, banyak dari seleb twit ini yang tiba-tiba menerbitkan buku. Saat aku jalan-jalan ke Togamas untuk mencari-cari buku dari penulis idolaku, banyak banget disana berjajar buku-buku baru hasil karya selebtwit. Sempat juga aku membaca ada yang mengatakan intinya seperti ini 'percuma nulis buku kalau nggak punya follower banyak. Pasti nggak laku'. Nah lo. Gimana kalau udah kayak gitu? Fenomena ini entah lama kelamaan ternyata menimbulkan semacam ketakutan bagi penulis-penulis pemula. Aku juga orang yang sedang belajar menulis, maka dari itu bahasan pop tentang dunia menulis ini selalu menarik untukku. Dan poin kenapa aku merangkai postingan twitter dari Mba' W ini bukan untuk mendiskriminasi si penyebab keresahan orang-orang yang sedang belajar menulis atau selebtwit yang menerbitkan buku.

Postingan Mba' W kali ini sedikit banyak menurutku juga terilhami dari fenomena menyedihkan disana meskipun Mba' W menuliskan alasan postingan tersebut karena sebuah email dari seorang anak SMA. Mba' W ini adalah seorang penulis, editor, dan published author. Seperti ini kata Mba' W lewat @windyariestanty:

Kayaknya sudah lama gue nggak ngomongin soal penerbitan dan penulisan. Well, sebuah email dari anak SMA siang ini menggerakkan gue. Sebelumnya harus gue sampaikan ini bukan tema yang enak dibahas. Gue juga butuh menimbang-nimbang apakah gue mau membahas ini. Namun email anak SMA ini bikin gue cemas. Ia ingin jadi penulis, namun ia berpikir membatalkannya karena membaca twit seorang penulis. Jadi, gue putuskan mari kita membahasnya agar jelas di semua pihak atau siapa pun yang ingin menjadi penulis buku. Si anak bertanya tentang isi lama. 'kata akun xxxxxx percuma nulis buku bagus kalau follower kita nggak banyak, kak. Gak bakal laku.' Si akun xxxxx tersebut adalah seorang penulis yang kebetulan penjualan bukunya tak cukup bagus. Ia memuntahkan kekesalannya ke sosmed. Anak ini follower penulis tersebut. Ia jadi gentar untuk mengirimkan naskahnya karena sejumlah alasan yang disampaikan penulis idolanya.
 Begini, pertanyaan paling dasar yang gue ajukan, 'apakah ada penerbit di muka bumi ini yang berharap buku terbitannya tak laku?' Gue berani bertaruh 100% gak bakal ada yang mau. Setiap penerbit menerbitkan karya seorang penulis karena ia melihat sesuatu di naskah itu. Untuk menerbitkan 1 judul beroplag min. 3000 saja, penerbit berinvestasi puluhan juta. Belum termasuk biaya lainnya di luar ongkos produksi.
 Di dalam dunia penerbitan, gue sendiri mengenal 4 kuadran terbitan. Dan ini yang gue lihat selama hampir 10 tahun gue main di industri ini. 1. ada buku bagus yang penjualannya bagus; 2. ada buku bagus yang penjualannya tidak bagus; 3. ada buku jelek penjualan bagus; dan yang ke-4 inilah yang berusaha mati-matian dihindari penerbit: buku jelek yang penjualannya jelek.
Begitulah wajah pasar. Tak ada seorang pun yang mampu menebaknya dengan tepat. Gue sendiri nggak pernah bisa jawab kalo ada yang nanya ini. 'Gimana caranya bikin buku bestseller, mbak w?' Guys, kalau gue udah tahu, maka gue nggak bakal puyeng mikirin omzet yang naik-turun. ;p
 Nah, kalau gue dan teman-teman di gagasmedia grup tahu rumusan bikin buku bestseller, kita udah jadi penerbit paling kaya di dunia, dong. Yang kami tahu sebagai penerbit kami berupaya menebak pasar. Penerbit mayor atau indie semuanya sama, kita berhadapan dengan pasar. Jadi, ketika sebuah buku yang kami anggap bagus justru tidak direspons pasar, itu juga sebuah kekecewaan bagi penerbit. Tapi apakah kami lantas menyalahkan pembaca (baca: pasar)? menyalahkan penulis karena membuat karya tak laku? Tentu tidak. Semua jadi PR. Atau kalau sekarang, tiba-tiba menganggap faktor follower lah yang membuat sebuah buku laku. Kawan, mari gue beri tahu: TIDAK.
Baru-baru ini gagasmedia menerbitkan sebuah novel karya anak SMA yang tak main di jejaring media sosial. Ia juga bukan seorang pesohor. Bukunya #tearsinheaven mendapatkan respon positif. Nama penulisnya Angelia Caroline. Kami mempromosikan buku ini lewat media sosial. Banyak juga penulis lama yang lahir sebelum era twitter tak memiliki follower hingga ribuan. Namun, tetap saja penjualan bukunya bagus. Media sosial buat gue hanyalah salah satu alat untuk mengetahui apakah seseorang punya 'konten'. Dulu pada 2000-an, blog adalah alat itu. Ketika twitter booming, maka mereka yang memiliki konten menarik yang biasanya mampu menarik audiens untuk mengklik 'follow'. Tarik mundur lagi. Masih ingat zaman Anita Cemerlang? Yang suka baca cerpen umumnya beli majalah ini. Kenapa? Karena kontennya. 
Selamanya, menjadi penulis adalah persoalan apa yang kita sampaikan di tulisan kita. Bukan soal follower. Bukan soal siapa yang lo kenal. Penerbit bertaruh soal 'konten' itu. Sama seperti para penulis. Penerbit bahkan tidak hanya berhenti pada persoalan laku-tidak laku. Ketika buku terbitannya tidak laku, ia berhadapan dengan persoalan stock yang menumpuk di gudang & bagaimana mencari pasar alternatifnya. Ketika sebuah buku tak direspons dengan baik, penerbit pun sebenarnya gelisah. Pekerjaan rumahnya panjang. Belum lagi menghadapi penulisnya. Hal lain yang perlu dipahami, zaman berubah. Penlis sekarang justru lebih memiliki alternatif sarana berpromosi yang lebih banyak.
Realitas: Penerbit tak hanya mengurusi satu penulis. Ia tak hanya memikirkan penulis yang bukunya telah terbit, tetapi juga yang belum. Berdasarkan pendeknya pengalaman gue, gue merumuskan satu hal: alat berpromosi paling ampuh dari sebuah tulisan adalah penulisnya. Sewajarnya penulis berjuang mati-matian menjadi juru bicara untuk karyanya. Penerbit akan mendukung sesuai kapasitas. Di industri perbukuan dan penulisan: content in the king. Itu tak pernah terbantahkan. Namun 'pasar' selamanya adalah sebuah misteri. Berhentilah menyalahkan banyak pihak. Menyalahkan jumlah follower, menyalahkan selera baca, menyalahkan penerbit.
Kalau ingin jadi penulis, maka menulis. Kalau ingin tahu bagaimana menulis yang baik, maka bacalah banyak buku dan menulislah lagi. Kalau kau menjadikan followr atau penjualan yang buruk sebagai alasan untuk tidak atau berhenti menulis, maka gue hanya bisa bilang 2 hal. Penulis adalah profesi yang menuntut ketahanan mental. Kedua, Penulis bukan profesi untuk para pemalas.
Jadi Kau mau berhenti menulis?
 Begitulah yang sudah dituliskan Mba' W lewat akun twitternya.

Ya, dulu aku termasuk orang yang resah karena tiba-tiba banyak akun twitter (kadang dengan nick bukan nama orang) tiba-tiba berlomba-lomba menerbitkan buku. Kadang ketika aku membaca samplenya aku berpikir 'eman-eman beli buku yang kayak gini. Sama aja cuma baca twit orang. Eman-eman kertasnya yang buat nyetak.'

Tidak berarti aku mengatakan bahwa tulisan mereka jelek. Ada kok pasti dari mereka yang tulisannya bagus, hanya saja baru dalam kesempatan ini tulisan mereka bisa diterbitkan. Ada juga tulisan yang sangat bagus tapi penggemarnya memang minoritas sehingga tidak bisa jadi bestseller, mengingat sekarang ini banyak yang  lebih suka sesuatu hal yang mainstream dan ringan.

Aku juga orang yang belum bisa menulis dengan baik. Dan aku percaya tulisan yang baik dan bagus itu bukan dari karya instan. Orang-orang dengan tulisan bagus dan buku pertamanya yang terbit jika mendapat respos positif pasti punya latar dan sejarah panjang tentang proses kreatifnya dalam menulis. Cuma memang kadang sayang ketika ada tulisan yang dilihat di twitter atau blog saja cukup, kenapa harus dicetak dan menghabiskan banyak kertas. Dan untuk pembaca seperti aku yang harus cermat ketika membeli buku karena kadang harus menabung lama untuk membeli sebuah buku. Eman-eman ketika kita membeli suatu buku yang 'salah' padahal sudah lama kita menabung. 

Aku sendiri mencoba untuk membaca tulisan-tulisan yang bagus dan baik agar bisa memberikan pengaruh positif dalam proses kreatifku menulis (semoga). Tulisan-tulisan dari penulis baru tersebut, atau selebtwit memang jarang menjadi alternatif bacaanku. Ini memang menyangkut selera jenis bacaan seperti apa yang ingin kita baca, bukan karena aku 'menuduh' bahwa tulisan tersebut jelek. Buku-buku dari penulis pemula, pasti mereka juga punya penggemar sendiri kok. Misalnya saja aku sekarang tidak begitu suka membaca novel aliran teenlith dan sebangsanya, itu bukan karena tulisannya jelek tapi karena saya sendiri yang sudah beralih minat bacanya dan lebih menyukai karya-karya Dee, Ayu Utami, Fira Basuki atau Mba' Windy. Namun ketika dulu aku masih SMP, mungkin malah buku-buku penulis baru itu yang aku baca karena ringan untuk dibaca dan tak perlu mengerutkan dahi ketika membaca.

Ini hanya sebuah pendapat saja dari seorang aku yang sedang tertarik untuk menulis menaggapi fenomena yang ada di dunia penulisan saat ini. Kritik dan saran saya terima dengan lapang, apalagi tulisan ini menyangkut tentang banyak orang. Mungkin ada pendapat saya yang salah dan perlu diluruskan, sumangga.

Terimakasih yang bersedia membaca dan yang bersedia memberikan respon :)
Tetap terus berkarya :)

Kamis, 16 Januari 2014

Catatan Lepas Berproses Sri Bersama Rendezvous [a chapter]

foto: @ugaangga

Aku tak bisa menatap apa pun. Semuanya kabur. Hanya campuran warna yang aku lihat dari kotak akuarium raksasa itu. Seperti itu aku melihat kerumunan penonton tanpa kacamata merah yang sudah terbiasa menyatu dengan mataku. Semalam adalah sebuah waktu, entah untuk pembuktian, entah puncak, entah awal, yang pasti waktu untuk memperlihatkan hasil kami berproses.

Aku sendiri tak pernah menyangka akhirnya bisa berada dalam sebuah panggung yang digagas oleh Teater Garasi, dimana aku selama ini hanya berangan bisa bersentuhan dengan mereka. Sebuah hajatan ulang tahun ke-20 untuk Teater Garasi. Mengangkat tajuk berjudul 'Bertukar Tangkap Dengan Lepas', dua minggu penuh mereka mengadakan pameran dokumentasi pentas dan festival pertunjukan reenactment & recreation. Sebuah gagasan baru untuk merekaulang sejarah (baca: pementasan) yang pernah dilakukan dengan mengimitasi dan mengkreasikan kembali.

para penggagas

Berasal dari pemikiran orang-orang yang menyatakan diri mereka selo aku diajak untuk bergabung dalam proses penggarapan 'Sri', sebuah naskah saduran karya yang berjudul 'Yerma' dan pernah digarap oleh Teater Garasi dengan sutradara Gunawan Maryanto di tahun 1999. Tahun dimana Teater Garasi pertamakali berproses setelah keluar dari lingkup kampus. Moments of timeless pleasure membuat RendeZvous ( @RdZvs_ ) ada untuk menggarap proses ini. Sebuah proses yang dikatakan sebagai hadiah untuk tuan rumah yang sedang berulangtahun. Aku bukan salah satu penggagas RendeZvous. Aku hanya salah satu orang yang beruntung mendapatkan kesempatan berproses bersama mereka. Untuk itulah aku mendedikasikan catatan lepas ini untuk mereka yang bersusah payah melahirkan RendeZvous.

kita ikut @RdZvs_

Reenactment, kata yang baru sekali itu aku dengar. Mas Baim kemudian menjelaskan bagaimana konsep reenactment pada Linda, Dzik, dan aku yang awalnya akan di-casting untuk dua peran yang sedang mereka cari. Akhirnya Mas Giant memutuskan bahwa kami semua dilibatkan. Bersama dengan Asthi, Mb Erny, Mas Fiqi, dan Mas Fajar akhirnya kami didapun menjadi aktor reenactment 'Sri' untuk hajatan 20th Teater Garasi. Proses yang benar-benar baru untuk kami, dan sukanya berproses disini adalah kami semua yang terlibat sama-sama mempelajari hal baru. Bagaimana Mas Giant, Mas Baim, Mas Culis mendebatkan konsep yang akan kami tampilkan sebagai wujud reenactment karena kata mereka konsep ini juga masih belum punya patokan pakem. Bagaimana Mas Danu dan Mas Jury berusaha untuk mencari kostum dan segala properti agar menjadi semirip mungkin dengan video 'Sri' yang kami reenact. Bagaimana konseptor berdebat untuk mengambil bagian pementasan yang berdurasi 1 jam 14 menit ini untuk dimampatkan menjadi 30menit namun tak kehilangan inti cerita. Bagaimana kami para aktor berusaha membuat tone, intonasi, dan gesture yang mirip dengan video yang sudah berumur sekitar 15 tahun itu.
disela-sela latihan 'Sri'


makan bersama saat proses

Banyak proses alot yang mereka lakukan tapi tidak aku ketahui. Tapi, apapun itu proses ini telah dijalankan oleh masing-masing kami sesuai dengan porsi. Dan lagi-lagi aku harus mengamini bahwa 'belajar itu untuk siapa saja, kapan saja' tak kenal usia. Aku menjadi yang muda diantara mereka, dan aku belajar tentang proses mereka belajar selain aku mempelajari tugas pengkarakteranku. Selain itu aku juga belajar dari tiga orang yang lebih muda dari aku. Di RendeZvous aku belajar tentang semangat mereka semua menjalani sebuah proses meskipun halangan itu tidak ringan. Dimana pada mulanya konsep yang sudah dirancang mendapat warning mengingat tantangan kami yang sebesar itu dan hanya kami lalui dalam waktu 2 minggu. Tapi optimisme teman-teman membuat aku juga yakin bahwa kami bisa.
Pementasan 'Sri' reenactment 

Pementasan 'Sri' reenactment 2

Hasilnya, bukan kami yang berkata tapi kalian yang menonton pertunjukan kami semalam lah yang berkata.

capture testimoni 1

capture testimoni 2

capture testimoni 3

capture testimoni 4

'Sri' membuat aku belajar banyak hal. RendeZvous membuat aku mengenal lebih banyak teman. RendeZvous membuat aku mencicipi sedikit angan yang selama ini masih menjadi anganku. Terimakasih untuk sebuah kesempatan yang sudah diberikan.

selesai pentas

:: Terimakasih Mas Giant, Mas Baim, Mas Danu, Mas Culis, Mas Fajar, Mas Jury, Mas Fiqi, Dimas, Mas Pay, Asthi, Linda Dzik, Mb Erny