Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita pendek. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2013

Yang Aku Tahu Hari ini Aku Sayang Kamu [a chapter]

Kita tak pernah tahu kapan rasa itu akan datang dan meminta kita untuk menyesap sari-sarinya hingga tanpa sadar kita akan mencandunya. Namun yang pasti adalah: Rasa itu PASTI hadir menghampiri kita.



Aku tak pernah meminta untuk didatanginya cepat-cepat atau lambat-lambat. Aku tak pernah meminta SIAPA yang akan hadir membawakan kuncup kembang candu itu. Aku tak pernah tahu apa wujud candu itu, bahkan hingga sekarang ketika percikan sarinya menyerempet lapisan terluar organ yang dikatakan bisa merasakan apa itu cinta, apa itu sayang, dan apa itu benci. Sekelebat. Masih hanya sekelebat.

Sekelebat saja kuncup kembang itu menyabetkan sarinya, dan aku merasakan getaran pada seluruh sendi-sendi badanku. Sesak. Aneh. Ada yang tiba-tiba saja meletup-meletup dari dalam (entah mana itu) dan membuatku merasa seperti kembang api yang siap disulut dan meledak pada dentang keduabelas awal tahun. Ada panas yang tiba-tiba saja membuatku demam, tak seimbang, namun bukan sakit. Ada benang kasat mata yang selalu menarik ujung bibir keatas dan pipi merah tanpa perona. Ada yang berdentum dari dalam dada.

Klasik. Tapi itu yang tak bisa ditolak ketika kuncup kembang itu tiba-tiba datang, menghampiri. Tak pernah bisa untuk ditolak.

Sekali datang dari sepetak lapangan belakang sekolah. Saat aku bersikeras mengatakan tak mungkin saat itu aku merasakan apa yang mereka rasakan. Ada letupan listrik didada kiri ketika mataku dan matanya beradu. Waktu itu aku masih kecil, dan aku tak meminta kuncup itu untuk segera datang seperti apa yang dilakukan teman-temanku. Tapi akhirnya aku menyerah melawan letupan-letupan itu dan mungkin mulai mengakui. Ya, aku mungkin suka pada kapten bola sepak itu. Mungkin. Mungkin aku hanya terkena ekor percikan sari kuncup kembang itu. Hanya sedikit tapi berbekas. Lewat 36 purnama baru terhapus tuntas percikan sari kuncup yang tak pernah coba untuk kusemai. Biar gugur bersama waktu. Biar lenyap bersama angin yang mengaburkan bayangnya.

Kau, rasa yang benar-benar candu. Dan candu karnamu tak ada tempat untuk menyembuhkannya, tak ada panti rehabnya, kecuali waktu yang rela mengikiskan.

Kuncup lama mengabur dan kabur dibawa angin waktu. Datang kuncup lain dalam ruang yang lebih sempit. Sepetak kelas yang membingkai lakumu yang berbeda. Diam-diam feromon menyelusup liang indra penciumanku diantara bidang-bidang cerita pertemanan dan persahabatan. Pelan. Halus. Terus. Menerus. Mengendapkan aroma khas kuncup kembangmu. Menyelusup dalam dan kuncupmu memekarkan duri yang mengoyak hati ini. Mematahkannya. Namun aku tetap masih diam. Kubiarkan saja tahu atau tidak tahu kau   pernah menelusupkan feromon untuk kuhirup. Mungkin kau tahu dari teman-teman kita yang tahu tentang aku. Tapi aku tetap diam untukmu. Memilih berdoa agar jalan kita lekas dipisahkan waktu. Memaksa membuang saripati endapan feromon itu. Memaksa mematahkan helai-helai bakal kuncup agar lekas habis dan tanpa bekas. Berpuluh purnama coba kupatahkan helai demi helai, kucabut duri demi duri meski perih. Ketika tuntas kuhabisakan perih dari daging hati ini, seminggu kau tiba-tiba hadir lagi dipetak cerita kita yang sempat dipisahkan jarak dan waktu. Jika bukan karena temanku, aku tak pernah sadar kau pernah hadir lagi. Bel sekolah berdentang tanda istirahat.
"Bel, dia ada di warung depan lho", kata temanku yang baru saja kembali dari depan sekolah.
"Hah? Dia? Ngapain kesini? Ya udahlah. Toh temannya memang banyak disini." Jawabku ketika itu.
"Nggak mau ketemu dia?"
"Haha, ngapain? ogah ah. Lagian udah nggak mau lihat dia lagi."
Jawaban yang keluar dari mulutku yang pada akhirnya aku sesali sendiri. Aku merasakan ada firasat. Ada keanehan. Tapi kuabaikan. Beberapa hari kemudian aku sadar bahwa kehadirannya adalah sebuah tanda. Dia sedang berpamitan pada kami semua. Orang-orang yang menyayanginya.
Senja bersama adzan magrib yang berkumandang HP-ku berbunyi. Telefon dari temanku.
"Bel, kamu udah dapat kabar?"
"Kabar apa?"
"Hmm, yang sabar ya Bel. Dia meninggal. Kecelakaan sore tadi. Aku baru mau memastikan kerumahnya."
Seperti ada petir yang menyambar jantung. Speechless. Semua tenaga seolah pergi bersama kilat yang menyambar. Untuk duduk pun aku harus mencari tembok untuk bersandar.
Dan aku masih ingin mempercayai bahwa yang dikatakan temanku hanya sebuah candaan.
"Nek guyon ojo koyo ngono to." Hanya itu yang mampu aku ucapkan. Setelahnya aku sudah tak mendengar apa yang dikatakan temanku dari seberang sana. Tiba-tiba menuli. Sesak.
Tapi aku masih mencoba mencari pembenaran apa yang tidak aku yakini itu. Aku menghubungi sahabat karibnya, dan apa yang dikatakan temanku dibenarkannya. Ada lelehan panas mengaliri pipiku. Semalaman aku bersembunyi dibalik kamar, menyembunyikan dukaku dari kedua orangtuaku.

Sahabat, maafkan aku yang menaburi jalan pulang dan pusaramu dengan linangan airmata. Biar rasaku yang pernah ada untukmu kusimpan dalam diam darimu. Kami selalu menyayangimu. Istirahatlah dalam tenang.
( 27 February 2009)
Itu, kehilangan yang sangat menyakitkan meskipun waktu itu rasa untuknya (aku kira) sudah memudar.
Hari ke 1100 sekian baru bisa aku berhenti menghitung hari kepergianmu.

Aku tak pernah meminta orang seperti apa yang membawakan kuncup kembang itu. Dan kapan waktunya. Aku tak pernah meminta. Aku tak pernah meminta agar aku diberikan rasa suka kepada siapa. Aku hanya mengikuti saja. Atau jika aku meminta, aku meminta agar janganlah datang perasaan itu sebelum aku siap. Siap menyemai dan siap untuk patah.

Tapi menolak perasaan itu ketika hadir pun sama sulitnya.

Hidupku berlanjut dalam hampa dan isi yang semu. Dalam cerita tanpa status dengan seseorang yang memberikan kuncup kembangnya pada banyak lebah. Satu tahun aku memaksa diriku agar lepas darinya. Memaksa diri. Memang. Dan itu sungguh sangat melelahkan batin. Memaksa untuk mengakhiri ketergantungan.

Aku lelah. Aku tahu sulit untuk menolak rasa itu jika hadir. Tapi aku memaksa diri untuk membuat benteng untuk melindungi hatiku dari duri, patah, dan lelah. Aku bangun benteng itu dari bagian diriku yang keras tanpa empati dan simpati. Aku mengeraskan hati. Aku tak acuh pada apapun. Aku menjadi orang yang keras hati. Aku kira aku membangun benteng yang kokoh untuk melindungi hatiku.

Namun ini semakin membuatku lelah. Membuatku menjadi zombi, bernyawa tanpa perasaan. Aku bertambah lelah dan jenuh. Ternyata aku hanya bersembunyi dari ketidakmampuanku untuk menguasai hatiku sendiri. Aku lelah. Jenuh. Menyerah.

Dan runtuhlah benteng yang hanya maya dan rapuh itu.

Memiliki keluarga baru yang membuatku perlahan menyayangi mereka dan nyaman dalam kehangatan mereka. Di tempat yang baru ini. Di tempat pertamakalinya aku harus pergi jauh dari rumah. Rasa sayang untuk mereka melelehkan benteng yang mengisolasikan aku dari aku.
Semakin nyaman disana dalam tawa canda mereka. Dan tiba-tiba muncullah seseorang baru diantara tawa-tawa mereka.
Ada sesuatu yang menarik. Dan seketika aku langsung berkata pada Tuhan "Tolong, jangan perasaan itu lagi. Aku masih lelah."

Dia orang dari seberang. Penuh teka-teki. Orang yang optimis, pekerja keras. Dan ia suka sekali bercerita. Apapun. Tentang ia, tentang hidupnya, tentang perjalanannya, tentang yang ia baca, tentang yang ia dengar, tentang apapun itu. Dan aku begitu suka mendengan ia bercerita. Ada sesuatu yang hilang ketika malam ia tak hadir dan tak bisa mendengar ceritanya.
Lagi-lagi aku tertambat kuncup kembang yang terlambat aku sadari. Yang mulai mekar perlahan-lahan dengan semaian dongeng-dongengnya. Beratus sajak lahir setiap malam untuk mengabadikan tentang hari dengannya. Mengabadikan hari ketika memikirkannya. Senang ataupun sedih. Seperti ketika tiba-tiba saja dia menghilang dua bulan tanpa kabar entah kemana (dan ketika aku telusuri ia pergi ke Temanggung). Semakin banyak saja sajak tertulis waktu itu. Ya, aku rindu. Rindu yang aku simpan darinya. Aku simpan sendiri. Tak ada yang tahu aku menaruh perhatian padanya (aku kira). Tapi perlahan ternyata mereka tahu juga. Termasuk saudaranya dari rantau.
Waktu itu saat dia belum kembali dari menghilang, dan aku sedang dalam kesibukan pentasku. Seusai pentas  aku dipanggil noleh saudaranya. Dikatakannya bahwa dia sering bercerita tentang aku. Sungguh, sangat ingin mempercayai itu 100%. Tapi sebagian hatiku memberikan tanda merah agar tak sebanyak itu aku percaya. Aku katakan, "Abaikan, dia lebih dekat dengan gadis lain!" Aku pun mulai putus asa menanti dia kembali sehingga aku mengikiskan harapanku bisa bertemu dia lagi di Jogja ini.
Tapi tiba-tiba saja suatu malam dengan penampilan yang berbeda dari terakhir kali aku melihatnya, dibawah gelapnya malam rektorat, aku menlihat sosoknya hadir. Ya, aku tetap mengenalinya. Dan waktu itu jujur aku tak bisa berkata apa-apa. Menatap matanya pun menjadi sebegitu menakutkan. Aku hanya diam dan ia bercengkrama dengan teman-teman yang lain. Aku menjadi lebih pendiam dari waktu aku terkahir kali bertemu dengannya. Kembalinya waktu itu menambah drastis perasaanku yang tertaut padanya. Sempat ia berikan kenangan juga sewaktu aku dan dia bersepeda bersama dibawah rintik hujan sewaktu pulang latihan. Mungkin kamu akan lupa waktu itu, tapi aku mengingatnya bang.

Aku senang kamu kembali. Aku senang kau coba untuk ikut tes seleksi lagi. Sungguh malam itu aku benar-benar berdoa untuk kelolosanmu. Dan aku sungguh-sungguh sedih bang waktu kamu nggak lolos. Dan akhirnya bang, kamu memutuskan untuk balik ke kampung halamanmu. Hatiku lagi-lagi patah namun mencoba untuk biasa. Lagi-lagi aku melepasmu pergi dalam diamku. Padahal aku sungguh sangat ingin berbicara denganmu, atau hanya mendengarmu bercerita saja, sekali lagi, sebelum kamu pergi. Tapi semua berlalu begitu saja. Aku patah lagi dan lagi. Kau telah berlayar pulang, melewati samudra diutara sana. Bang, kapan kamu balik kesini lagi? Hatiku kembali dalam diam duka karena kau pergi. Tapi aku selalu berdoa semoga apa yang terjadi padamu adalah yang terbaik untukmu meskipun mungkin aku tak bisa lagi bertemu kamu bang.

Setahun lebih dia pergi. Dan tak kembali lagi kesini. Dia sudah jauh diseberang. Dan aku berjuang melupakannya. Benar-benar melupakan. Karena jarak kita memustahilkan kita. Waktu itu sedang sibuk-sibuknya menjadi panitia penyambutan mahasiswa baru dikampus. Jadwalku crowded dan aku tak bisa lagi setiap malam untuk terpuruk karena tak bisa lagi bertemu denganmu. Waktu itu tepat dicatatan dengan tajuk #32 aku merasakan perasaanku yang mulai kelelahan, mengusang, dan berdebu. Aku lelah, dan aku mengakhiri dengan catatan itu. Doaku sewaktu itu, "semoga kau mendapatkan hidup yang terbaik disana".

Dihari-hari yang penuh jadwal itu entah mengapa beberapa hari aku bermimpi tentang seseorang yang entah siapa namun ia selalu membuatku nyaman. Aku mengabaikannya hingga aku lupa karena kesibukanku menjadi panitia waktu itu.

Dan tibalah saatnya cerita tentangmu yang hari ini aku sayang.

Kamu yang sebelumnya juga tidak aku sangka untuk aku bisa suka. Sama sekali tak menyangka. Karena aku masih tidak pernah untuk meminta kapan kuncup kembang itu datang dan dibawa oleh siapa. Karena waktu itupun, masih sangat awal kita berkenalan.

(sampai disini apakah aku harus menulis ulang lagi cerita bagaimana aku suka padamu? Apakah aku harus merangkai lagi puzzle sajak tentangmu?)

Ya, aku sendiripun awalnya merasa cerita kita begitu cepat. Persiapan Ospek kita kenal, sebelum hari H Ospek kau meminjamkan motor padaku dan banyak membantuku. Hari H Ospek kau dan (teman-temanmu juga) lebih banyak lagi membantuku. Disini aku ingat aku mulai memerhatikanmu, namun aku tak ingin mengiyakan aku suka kamu. Aku masih lelah. Tapi iya waktu itu kamu mulai lebih mendapat perhatianku. Segala kesenanganmu waktu itu (yang membahayakanmu) sungguh membuatku ingin berkata "Please stop! Jangan sakiti dirimu sendiri! Aku nggak pengin lihat kamu kenapa-kenapa. Aku nggak pengin kamu sakit." Tapi waktu itu aku juga tahu tentang kamu dan gadis itu. Dan aku tahu aku harus sadar diri :)

Terimakasih untuk apa yang kamu lakukan dihari-hari itu. Sungguh aku sangat terbantu.

Ya, beberapa hal biarlah hanya kita saja yang tahu (dan mungkin beberapa orang yang waktu itu ada disana jika mereka masih mengingatnya).

[Hey, tapi waktu itu aku dapat nomermu bukan disengaja karena aku mulai peduli terhadap kamu lho, tapi karena aku harus tanggung jawab sama barang yang aku pinjam waktu itu.]

Hari terakhir Ospek, aku sedih banget lihat tanganmu kayak gitu. Tapi kamunya emang suka nyiksa diri sih. Jadi waktu itu aku nggak pulang selain karena kunci rumahku yang entah kemana, juga karena pengin tahu keadaanmu.
Lalu kejadian sehabis makan disiang itu diatas Pick-up (yang emoh aku ceritain) dan membawa petaka nyut-nyutan dikepalaku. Dan terimakasih untuk kamu yang masih nemenin aku diatas Pick-up.

Sms waktu itu sebenarnya aku pengin bilang terimaksih ke kamu, tapi aku bingung dan jadinya malah sms geje kayak gitu. Terus paginya kamu juga ke PKM lagi, padahal teman-temanmu udah pada entah kemana. Itu hari sebelum akhirnya aku pulang dan 2mingguan kita nggak ketemu. Hari itu ternyata si Budi diem-diem juga ngambil foto kita berdua  >,<
(aku tahunya setelah lamaaaaaaa banget)

2 minggu nggak ketemu kita akhirnya smsan doang. Beberapa hari sms-an, aku stay cool mencoba untuk masih berkata 'ini sms-an biasa'. Tapi ya waktu itu aku seneng (banget) smsan sama kamu. Diantara itu, akhirnya aku sms teman kita dan aku tanya-tanya tentang kamu.
Selama hari yang cepat namun lama itu berkali-kali perasaanku dibuat seperti berombak, naik-turun, dan meledak-ledak. Entah apa deskripsinya yang tepat.

Lalu akhirnya kita bertemu lagi dikampus. Dan aku sempat menghindarimu (berharap aku tidak terluka lagi). Tapi nyatanya memang sulit untuk menghapus apa yang sedang aku rasakan. Waktu itu pas ulangtahunmu juga (yang aku ingat dari jauh jauh jauuuuuuh hari), aku berharap setidaknya bisa mengucapkan 'selamat ulangtahun' untukmu.Tapi aku nggak berani, dan nggak bisa karena aku nggak punya alasan buat ketemu kamu. Kita waktu itu sudah teramat jauh menurutku. Aku nyerah. Aku merasa waktu itu udah nggak bisa memperbaiki apa yang sudah aku rusak. Dan aku tersiksa dengan keadaan itu.
Ini yang aku buat pas hari ulangtahunmu. Haha, geje siihh....



Lalu ada yang bilang ke aku, mending aku bilang ke kamu biar semua pasti dan jelas. Dan itu akan memudahkan hatiku untuk selanjutnya. Jadi, akhirnya sampailah pada malam itu dan semua aku ceritakan padamu.

Dan mulai saat itu aku tak ingin memaksakan diriku untuk melupakan bahkan orang yang aku sayang. Biarlah waktu yang membawa perasaanku. Biarlah waktu yang tahu esok akan seperti apa. Yang aku tahu hari ini aku sayang kamu. Dan itu yang akan aku jalani. Meskipun kamu juga pada keadaan seperti apa yang waktu itu kamu katakan padaku.

Yang aku tahu hari ini aku sayang kamu.

Minggu, 12 Mei 2013

Kebahagiaan dalam Sepotong Cone [cerpen]


Kebahagiaan dalam Sepotong Cone



Sepotong cone dan gigitan terakhir coklat yang lumer dalam mulutku tengah malam ini. Secangkir kopi pekat yang juga selesai aku sesap pahitnya. Malam ini menjadi sempurna diantara ketidaksempurnaan yang ada. Menjadikan kisah yang tidak sempurna sebagai bagian dari hidup yang sempurna. Seringkali yang pahit itu membekas lama, meskipun cone, coklat, es krim, permen, gulali, dan gula-gula yang manis banyak disesap. Pahit itu getir dalam lidah dan hati. Namun lidah tak sempurna jika tak mampu merasakan pahit. Hati jua. Ada pahit yang memang harus disesap. Coklat pun tak selamanya manis.
Tak ada yang lebih menarik dari berkisah tentang cinta di malam yang beranjak menghampiri fajar. Tak ada yang lebih mendesak dari menyelesaikan tugas setelah mentari bangun. Dua hal yang tabu untuk disatukan atas nama profesionalitas. Namun aku, manusia. Dua hal yang tak ubahnya dua sisi dari sekeping logam yang harus aku genggam setiap hari. Dari fajar hingga fajar. Dan keduanya sama-sama memberikan bara digenggamanku kini. Serpihan cermin ketidaksempurnaan dalam menjaga keduanya hingga melukai diriku sendiri.

Tugas-tugas sudah mulai mendesakku dengan deadline-nya. Menghirup nafas pun menjadi berat kini. Waktu terus mengejarku bagai bom waktu yang berdetak semakin cepat.  Terus memburu dan nafasku semakin kehabisan suplay oksigen hingga membekukan otak, dan macet. Semua macet. Sedangkan memo warna-warni disamping laptopku tiba-tiba berubah warna menjadi merah. Warning! Harus segera selesai. Secangkir kopi selalu menjadi pilihanku jika keadaan berubah menjadi segarang ini. berharap kopi bisa menambah jatah waktuku untuk mengerjakan tugas. Memang benar seperti itu, waktu mengerjakan tugas memang bertambah namun waktu istirahat yang terpaksa harus aku potong. Intinya aku terpaksa memanipulasi waktu. Kuliah, event, semua memerlukanku untuk memeras otak secepat dan sepraktis mungkin. Baiklah, sudah tatanan yang harus diikuti untuk mendapat sebuah pengakuan lebih baik daripada hanya menjadi seonggok daging yang berpangku tangan. Mencari selembar kertas bertuliskan ijazah yang harganya semahal emas, lebih mahal bahkan. Butuh minimal 30kg emas untuk mendapatkan selembar kertas itu.
Kewajiban menjalani hidup. Dan penggalan-penggalan kisahku sering tak sempurna. Tugas yang tak pernah selesai, event yang mendadak mendapat masalah, nilai yang jarang bagus. Seperti itulah kehidupan mahasiswi golongan biasa-biasa saja sepertiku. Tapi entitas hidup selalu berpasangan. Ada baik dan buruk, ada hitam dan putih. Itulah entitas yang sempurna. Dan aku bangga menjadi bagian darinya. Tak ada yang bisa dibilang sempurna jika tak ada yang tak sempurna. Dan yang jelas roda hidup itu berputar.
>>>> 

Pukul 06.00
Dering berisik dari alarm HP memekakkan telingaku. Yang maha teknologi, terimakasih kau ciptakan alat serbabisa ini, bahkan bisa untuk membuat telingaku pengang dipagi hari. Tubuhku menggeliat tanpa membuka mata dan meraba-raba mencari dimana benda berisik itu berada.
“Tuhan, baru dua jam aku tidur.” Keluhku sambil mematikan alarm dan melihat angka dilayar handphone. Jika saja aku tak ingat bahwa pagi ini aku ada kelas dengan Prof. Susanto, aku enggan sekali untuk bangun. Tapi presensiku di kelas Prof. Susanto sudah menginjak batas kritis dan presensi sangat menentukan prestasi (nilai-red.) dikelas ini.
“Kelas neraka. Oh, tidak!”
>>>> 

“Mala,” Seseorang memanggilku dari jauh ketika aku keluar kelas, “tumben kuliah pagi kamu.”
“Ah, kamu Di. Iya, biasa si Prof. Udah sekarat tuh presensiku.”
“Haha, makannya jangan begadang terus!”
“Ya gimana lagi. Tuntutan profesi.”
“Profesi apanya. Kamu tu masih mahasiswi. Kerjaan kamu ya Cuma satu, kuliah.”
“Yee, itu mahasiswi nggak kreatif namanya. Tiap hari ketemunya sama kotak-kotak doang. Kelas, buku, papan tulis. Nggak ada variasi.”
“Haha, yaudah terserah kamu deh. Kadang pengen juga bisa kaya kamu. Tapi males capek.”
“Nah ketahuankan siapa yang males sekarang?”
“Oke oke. Eh, kantin yuk. Laper nih.”
>>>> 

Dian sudah beranjak dari sejam lalu dan aku masih betah menikmati wifi-an di kantin. Googling pengetahuan-pengetahuan umum yang disajikan bank segala pengetahuan ini. Meski banyak yang isinya masih belum bertanggung jawab secara ilmiah, tapi lumayanlah sebagai pengetahuan.
Dihadapanku ada laptop, sketchbook, secangkir cappucino dingin dan se-bar coklat yang aku ingat pernah diiklankan diatas balon udara dengan nuansa yang begitu ceria serasa keliling dunia. Mungkin karena ingin mendapatkan sugesti dari produk itu jadi aku membelinya. Berharap ide yang semalam sudah mentok bisa mengalir lagi akibat ceria yang dibawa oleh si coklat.
Tanganku menari-nari diatas sketchbook sambil aku mengamati beberapa hasil pencarian gambar dilayar laptop. Bukan, aku bukan anak senirupa yang sedang mengerjakan tugas kuliah. Membuat kostum, itu tujuanku sekarang. Bukan, aku juga bukan seorang mahasiswi tatabusana. Aku mahasiswi biasa di jurusan bahasa. Aku hanya sedang melakukan apa yang aku inginkan. Dan sekarang aku sedang berusaha menyelesaikan apa yang aku inginkan.
Desain kostum ini harus jadi tiga jam lagi sebelum aku konsultasikan dengan tim-ku dan kemudian masuk ke proses penjahitan. Belum lagi aku harus belanja ke toko tekstil dan memilih bahan yang sesuai untuk desainku dengan budget yang serba terbatas. Seminggu lagi karnaval itu dilaksanakan dan aku yang diberi jobdesc esain kostum dan bahan mentahnya sampai saat ini masih mentok dan tidak tahu harus menggambar apa. Berkali-kali aku ketik keyword di search engine sejuta umat ini, tapi tak juga aku temukan inspirasi sedikitpun. Aku lelah dan dalam sebuah helaan nafas yang panjang aku istirahatkan menatap laptop dan membuang jauh pandanganku kedepan.
Drrtt.. drrtt.... HP-ku berbunyi.
1 new message
Enditta: Mala, mana desain kostumnya? Dirra panik nih dari tadi! Ke Basecamp cpt!!!

Tidak! Pesan singkat itu semakin membuatku depresi. Aku memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam, menyerap energi-energi positif dari sekelilingku dan mencoba mencari-cari sesuatu dalam benakku.
“Alam, berikan apa yang aku cari saat aku membuka mata ini!” ucapku lirih namun begitu bergemuruh dalam hatiku. Selesai mengucapkannya aku membuka mata dan tepat saat mata ini terbuka refleks aku berkata, “eh, malaikatku.”
Dari kejauhan aku melihat Yudha melintas memakai jeans dan kemeja tua yang begitu pas dibadannya.
“Hah, tumben dia rapi. Indah banget dia hari ini. Yudhaa, thanks gua jadi punya ide gara-gara elo!” aku lonjak-lonjak sendirian di kantin dan tidak peduli apa ada yang melihat kelakuanku atau tidak.
Tiga jam kemudian aku selesai membuat sketsa untuk lima jenis kostum yang akan dipakai oleh cewek dan cowok yang nantinya akan menjadi model kami.
“Pas, tepat waktu. Ayo cabut ke basecamp!” aku berlarian dengan riang menuju tempat parkir.
>>> 

“Malaaaa, keren! Kamu kasih judul apa ini kostum kita?” Endit histeris melihat hasil desainku beberapa jam lalu.
“Apa ya?” aku sedikit berpikir, “karena itu inspirasinya dai Malaikatku yang tadi rapi banget pake kemeja ungu, gimana kalau aku kasih nama proyek kita kali ini dengan”Indigo Angel’?
>>>> 

Beberapa jam kami berjalan-jalan dibawah terik dan jalanan yang dipanggang matahari. Hampir habis cairan dalam tubuh ini andai saja panitia tidak segera membagikan air mineral pada kami. Matahari begitu semangat memancarkan apinya hari ini, dan kami yang menjadi kepayahan. Sambil melepas letih kami duduk dibawah pohon yang rindang dipelataran tempat acara dan menunggu juri selesai mengakumulasikan nilai performa kami. Kami menunggu dengan berdebar-debar. Kini juri sudah berjalan menaiki podium pengumuman.
“ Baiklah, sekarang saatnya kami sampaikan juara Fashion Carnival untuk tahun ini. Dan juara kedua jatuh pada,” juri menahan nafas sebentar, ”Enditta dan kawan-kawan dengan tema kostum ‘Indigo angel’.
Aku, Enditta, dan Dirra lonjak-lonjak kegirangan dan sudah tidak mendengarkan lagi apa yang disampaikan oleh juri saking senangnya masuk tiga besar.
>>>> 
“Huh, ada hasilnya juga kerja keras kita selama ini. Walaupun juara dua, tapi itu keren!” Kata Dirra yang sempat panik di hari-hari terakhir menjelang karnaval.
“Bener banget. Secara konsep aku suka banget punya kita. Gaun sama tuxedo dicampur sama masqureid mask. Gitchic tapi bukan hitam. Indigo, ungu tua! Thanks to Mala dong ini yang udah ngasih kita desain sekeren ini.”
“Haha, ini kesuksesan kita bersama Dit, dan yang jelas berkat my angel, Yudha. Haha. Toast dulu yuk!” Kami melakukan toast cone ice cream dan bersiap untuk proyek selanjutnya.
Bahagia itu manis dan sederhana. Sesederhana menggigit es krim cone coklat ini setelah panas terik yang tadi kemi dapatkan.

>>>End<<<