Selasa, 08 Oktober 2013

Kita [puisi]

theinvisiblethread.com

kita adalah kisah tak berawal tak berakhir
sekejap aku dan kau berbagi kita tanpa mengucap
kita dan buka kita adalah kehendak waktu

berbagi nafas berbagi detak dalam deru nadi kota dan malam
kita adalah anak malam yang dipertemukan untuk berpisah

hangat darah dari genggaman tanganmu
dan feromon dari nafas seinchi-mu
aku ingat betul kau dan aku pernah berbagi kita

lalu aku terjerumus dalam malam malam yang mengkhawatirkanmu
dan hanya ada aku
sudah tak ada kita

dan aku terus menutup malam deengan mengirimkan gelombang keselamatan untukmu



::semoga setiap kau membuka mata adalah berkah

Senin, 23 September 2013

Jazz 7 Langit [Press Release]

Konser Jazz 7 Langit merupakan sebuah pertunjukan musik jazz yang sangat unik dan penuh kreativitas dan pemaknaan, dimana musik jazz yang penuh dengan improvisasi akan dikolaborasikan dengan musik tradisional gamelan. Konser ini akan diselenggarakan oleh KFK Management bekejasama dengan Progress Management. Dalam konser ini akan menampilkan musisi jazz ternama Indonesia yaitu Beben and Friends, Inna Kamarie berkolaborasi dengan gamelan Kiai Kanjeng. Konser akan diadakan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pada Kamis, 03 Oktober 2013, pukul 19.00 WIB- selesei.

Konser Jazz 7 Langit merupakan sebuah pertunjukan budaya, dimana Jazz sebagai salah satu hasil kebudayaan manusia yang sangat luas pemaknaanya tidak hanya dalam musik akan tetapi  dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan tag line “ More Than Jazz That You Know “, jaazz terlalu sempit jika dimaknai hanya sebagai aliran musik, karena semangat Jazz sesungguhnya adalah semangat mencari, menganalisa dan improvisasi yang dapat kita implementasikan dalam kehidupan sehari- hari, dan itulah yang di perintahkan oleh Tuhan kepada manusia untuk memaknai hidupnya agar mereka mengenal jati dirinya dan bermanfaat bagi orang lain. Begitu juga gamelan yang memiliki filosofisnya sendiri bagi orang Jawa pada khususnya harus digali lagi dan outputnya pun tidak hanya dalam bidang musik tetapi juga dapat di aplikasikan dalam dimensi lain dalam kehidupan.

Agaknya akan sangat menarik jika musik etnik yang diwakili oleh gamelan dikolaborasikan dengan Jazz yang dikenal sebagai musik orang kulit hitam dari barat yang seakan -akan sekarang dilegitimasi sebagai musik kelas atas. Karena sesungguhnya siapapun berhak nge- Jazz dengan karakternya masing- masing sesuai dengan filososfis dan kebudayaanya. Yang berbeda dari kolaborasi ini dengan  kolaborasi- kolaborasi yang telah ada sebelumnya adalah tidak hanya musik gamelan dan Jazz itu sendiri yang akan dihadirkan tetapi juga aspek edukasi, spiritualitas dan religiusitas sebagai puncak dari perjalanan pencarian manusia akan Tuhanya yang akan disajikan dalam bahasa musik.

#MoreThanJazzThatYouKnow | 3rd October 2013 | Taman Budaya Yogyakarta

Ticket Box:
@eltirafmjogja
@unisifmyk
@Geronimoticket
@TXbabarsariJog
@895jizfm
rumah budaya EAN Kadipiro
kfkmanagement.blogspot.com (online)

further info:
call 085641320056
or check @Jazz7Langit timeline on twitter

Rabu, 18 September 2013

Bulan Pucat Pasi [Puisi]


Bulan pucat pasi
aku disini
menanti
kalau aku lanjutkan
mungkin kekasih hati
hanya
itu masih mungkin

bulan pucat pasi
aku menangisi
kisah tiada henti
cuma ya hanya dalam hati
biar tiada dia mengerti
karena memang tak kuijini

bulan pucat pasi
jika itu tanda menanti
biarlah pilihan si hati
kapan mengawali
dan kapan mengakhiri

bulan pucat pasi
aku hanya sedang menikmati
dan bukan menulis puisi
untuk yang dikata kekasih hati
aku hanya menikmati

Jumat, 13 September 2013

Kembali Menemui Senja [Puisi]



Senja
Lagilagi aku menulis tentang senja
Senja yang tak pernah tinggal lama
Karena senja tahu dan mengerti
betapa hati hati itu takkan kuasa menangkap suasananya terlalu lama
karena hati hati itu tak kuasa terlalu lama menahan semburat kenangan
tak kuasa terlalu lama disinari kenangan
senja begitu paham
akan dirinya yang sehelaan nafas dibutuhkan
untuk membangkitkan roman dan tragedi
namun senja
tak ingin
dikenang dalam duka berkepanjangan
senja berlalu pergi

Dan malam terlalu jahanam
menghukumkan rindu....

11 September 2013

Selasa, 27 Agustus 2013

Bando Oren, Aku Lala Padamu: Waktu Paling Tepat untuk Mencintaimu [a chapter]

Banyak hal yang membuatku akan ingat dan mengingat waktu itu. Dan sekarang aku hanya akan sering tersenyum dan bersyukur ketika mengingatnya. Setiap ruang dan keadaan yang sepertinya saling berkoalisi untuk menempatkanku pada keadaan serba dia.

Aku yang pada saat itu sedang dikejar garis mati sebuah acara ceremonial kampus, hari-hariku penuh berkutat dengan cat warna-warni, cutter, sterofoam, kain, cetak mencetak, dan masih banyak lagi. Memimpin sebuah teamwork tidaklah mudah. Apalagi untukku yang belum berpengalaman untuk menjadi seorang leader. Aku akui manajemenku kacau, i'm selfish and egois, aku lebih cocok untuk menjadi pekerja daripada menjadi orang yang harus mengatur sesuatu. Ya, tapi biar bagaimanapun itu adalah kesempatan. Tak ada salahnya aku mencoba. Toh, tak akan ada langkah kedua, ketiga dan seterusnya kalau tak ada langkah pertama. I do my best. That's so hard, tapi aku terus untuk mencoba. Aku tak semahir teman-teman leader tim yang lain. Tapi pekerjaan tetap pekerjaan. Waktu terus berjalan, garis mati semakin dekat. Berusaha menjadi orang kreatif! Itu yang aku lakukan. Membuat maskot kampus, desain panggung, mencari cinderamata, desain ini itu. Mungkin aku menjadi yang paling terbata-bata diantara yang lain. Tapi aku terus mencoba dan berusaha menyembunyikan ketidakbisaanku dari tim-ku. Semata-mata bukan karena malu, namun aku harus menjadi induk yang kuat untuk mereka. Jadi akupun harus manjadi kuat untuk diriku sendiri.

Salah satu kelemahanku adalah aku tak pernah bisa menghindar dari malam. Malam yang selalu menghadirkan dialog-dialog pribadi dan cenderung lebih sensitif untuk menghadirkan sebuah kerinduan. Ya, waktu itu sedang ada seseorang yang setiap malam selama hampir dua tahun berlari-lari dipikiranku, dalam lamunanku. Keadaannya waktu itu sudah satu tahun dia pulang ke kampung halamannya di tanah Sumatra. Bisa dibilang aku berada dalam keadaan  digantungkan (terjadi justru karena saudaranya yang selalu bilang padaku bahwa ada sesuatu antara aku dan dia). Aku mulai lelah menunggu kepulangannya kesini, aku mulai pasrah bahwa antara aku dan dia memang tak harus ada cerita. Berkali-kali pertanda telah mengingatkanku. Di catatan ke-32 aku mulai meletakkan cerita tentangmu bersama almari yang mulai usang dan berdebu.

Selama garis mati yang terus mengejarku itu, setelah dialog pribadi yang sering memakan waktu hingga aku terlelap, berhari-hari aku bermimpi tentang seseorang. Tanpa nama, tanpa wajah, tanpa identitas. Disaat garis mati itu membuatku lelah luar dalam, hingga tidur pun aku tak merasa istirahat, sosok itu selalu datang, selalu ada, dan selalu hadir. Yang ia lakukan sederhana, menemaniku, menggenggam tanganku, dan mendekapku hingga keresahan yang aku bawa menjelang tidur sirna seketika. Nyaman dan hangat.

Dalam dunia atas sadarku, ada orang yang sering lalu lalang dihadapanku. Naik turun tangga didepan area kerjaku berkali-kali, papasan berkali-kali, itu saat dimana aku masih bisa berbicara padamu tanpa rasa canggung. Saat Bando Oren dikepalamu masih belum aku perhatikan, saat sepatu biru-mu belum terpatri dalam kepalaku.

Waktu dan ruang semakin sering menjebak kita. Aku masih ingat pertama kali aku dibonceng kamu. Waktu itu aku masih belum salah tingkah. Aku juga masih sering minta bantuanmu tanpa rasa canggung. Semakin lama aku semakin menikmati keadaan yang menjebak itu. Tapi garis mati selalu mengingatkanku untuk menepis perasaan nyaman itu sebelum semua pekerjaanku selesai.
Semakin lama rasa nyaman disampingmu semakin bertambah. Entah kenapa motor kamu yang meminjami, aku butuh diantar kamu yang ada, aku butuh sesuatu selalu ada kamu. Itu bukan berarti aku aku pamrih. Tapi ya memang ada sesuatu yang semakin lama semakin membuatku nyaman, ada kamu didekatku. Seiring kenyamanan yang aku dapat darimu, sosok yang hadir dalam mimpiku perlahan memudar. Dan sosok itu hilang tepat saat aku harus mau mengakui bahwa aku menyimpan sebentuk perasaan untukmu.
Enam hari bekerja denganmu merupakan hari yang berat, berat harus mengakui bahwa hatiku kembali tertambat pada seseorang. Berat karena aku sadar aku masih belum siap untuk jatuh lagi. Tapi aaku pun tak bisa menolak apa yang ku rasakan.

Waktu itu adalah hari-hari yang tepat untuk mencintaimu, laki-laki bertubuh kurus, rambut gondrong berbando orange, bersepatu biru-perak, laki-laki yang sok kuat dan tak pernah usai berbuat bodoh untuk badannya sendiri :p
Tapi aku sayang :)
Kau tak pernah tahu kan wktu itu aku mencemaskanmu setengah mati sampai-sampai hari terakhir ospek aku memilih tidak pulang karena mencemaskan tanganmu yang membengkak? Ah, kau pasti tak pernah tahu dan tak mau tahu.

Hei laki-laki ber-Bando Oren, waktu ospek dan dua minggu setelahnya, terimakasih ya karena kau membiarkanku menikmati letupan-letupan itu :) menikmati menjadi orang yang paling beruntung bisa mengenalmu. Ya, aku rasa waktu itu adalah waktu yang tepat untuk mencintaimu. Waktu itu..
Terimakasih sudah memberikan kisah jatuh cinta ke-6 untukku... Kisah yang lain daripada yang lain...
Kisah yang membuatku berani mengatakan "aku suka padamu", kisah yang membuatku semakin belajar untuk berani jujur pada diri sendiri.

 Bando Oren, kamu yang tak pernah aku panggil dengan 'K', tapi selalu dengan 'X'

Bando Oren, Aku Lala Padamu.....

 



Kamis, 15 Agustus 2013

Dua perempuan dikalung Obituari [Puisi]


Dua perempuan dikalung obituari


1/
kala itu petang merayap
angin mendesir kering
kumandang magrib terdengar menggigil
jingga muram menelusup lorong rumah
telepon berdering: dia pergi selamanya

2/
empat tahun kemudian
malam merangkak
dingin menusuk
angin menggetarkan bulu kuduk
seusai disamping ranjang
hampir tengah malam
ada yang bercerita tentang ikhlas
dan kasihnya bernasib sama denganmu

kalau kalian bertemu, ceritakanlah 2 perempuan yg mencintai kalian dalam diam itu

Senin, 12 Agustus 2013

Cerita Setahun Penuh [puisi]


setahun penuh aku cintaimu di tahun tanpa kabisat
katakanlah agar aku tak lagi menunggu bulan yang siasia
aku sedang belajar mengeja hari tanpamu,tanpa membencimu, juga tak mencintaimu